Konsistensi Mutu Deodoran Tawas Lokal Dorong Kepercayaan Konsumen
Jakarta, 15 November 2025 – Merek produk perawatan tubuh asal dalam negeri, Callum, mencatat peningkatan minat pasar yang signifikan terhadap deodoran berbahan dasar tawas. Pencapaian ini ditopang o...
Jakarta, 15 November 2025 – Merek produk perawatan tubuh asal dalam negeri, Callum, mencatat peningkatan minat pasar yang signifikan terhadap deodoran berbahan dasar tawas. Pencapaian ini ditopang oleh komitmen perusahaan dalam menerapkan sistem produksi yang ketat dan terstruktur, guna memastikan setiap unit produk memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan sejak awal. Juru bicara Callum, Arif Budiman, dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu (15/11), menyatakan bahwa konsistensi mutu merupakan pilar utama dalam mempertahankan kepercayaan konsumen di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
Tahapan Produksi Sistematis Jadi Landasan
Menurut Budiman, seluruh proses manufaktur dijalankan berdasarkan prosedur operasi standar yang terdokumentasi dengan baik. Mulai dari pemilihan bahan baku kristal tawas alami yang diperoleh langsung dari mitra tambang di kawasan Jawa Tengah, proses pencucian, pembentukan, hingga pengeringan akhir, setiap langkah diawasi secara berkala oleh tim pengendalian mutu. “Kami berupaya memastikan setiap tahapan produksi dilakukan secara sistematis sehingga mutu produk tetap terjaga dari waktu ke waktu. Tidak ada celah sedikit pun yang boleh mengorbankan kualitas,” tegas Budiman. Perusahaan mengklaim bahwa metode verifikasi bertingkat ini telah diadopsi sejak 2021 dan terus disempurnakan sejalan dengan masukan dari distributor serta umpan balik pengguna.
Pabrik Callum yang berlokasi di kawasan industri Cikarang, Jawa Barat, kini mengoperasikan lini produksi berkapasitas 15.000 unit per hari. Setiap batch produksi wajib melalui tiga titik pemeriksaan: uji kemurnian bahan baku di laboratorium internal, inspeksi visual dan fisik produk setengah jadi, serta uji ketahanan dan keamanan pada produk akhir sebelum dikemas. Kepala Bagian Produksi, Dian Rahayu, memaparkan bahwa standar keputihan, tingkat kehalusan, dan pH produk dipertahankan dalam rentang toleransi yang sangat sempit. “Deviasi sekecil apa pun akan langsung memicu penarikan batch dari jalur distribusi. Kami tidak ingin konsumen menerima produk yang tidak sesuai ekspektasi meskipun secara fungsi masih layak pakai,” ujarnya.
Deodoran Tawas: Pilihan Bebas Bahan Kimia Tambahan
Deodoran tawas dikenal sebagai alternatif alami yang bebas alkohol, paraben, dan wewangian sintetis. Produk ini bekerja dengan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau badan tanpa menyumbat pori-pori kelenjar keringat. Tren kembali ke bahan alami, yang menguat pascapandemi, turut mendongkrak permintaan deodoran jenis ini. Data internal Callum menunjukkan kenaikan volume penjualan sebesar 28,4 persen pada kuartal III 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan tertinggi tercatat pada kanal penjualan daring, yang menyumbang 62 persen dari total transaksi. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumen muda, yang akrab dengan platform digital, menjadi segmen penting bagi pertumbuhan merek tersebut.
Budiman menambahkan, perusahaan tidak sekadar menjual produk, tetapi juga mengedukasi pasar tentang cara penggunaan tawas yang tepat agar hasilnya optimal. Materi edukasi disebarluaskan melalui kemasan, laman resmi, dan akun media sosial yang dikelola oleh tim khusus. “Kami sering menerima pertanyaan tentang iritasi atau residu putih. Lewat konten panduan, kami jelaskan bahwa mengaplikasikan tawas pada kulit yang benar-benar bersih dan lembap akan meminimalkan efek tersebut,” katanya. Strategi komunikasi ini dinilai efektif menekan tingkat pengembalian produk, yang kini berada di bawah 1 persen.
Respon Pasar dan Prospek ke Depan
Respons positif datang dari berbagai daerah. Beberapa jaringan toko ritel modern di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya melaporkan peningkatan frekuensi pemesanan deodoran tawas Callum dalam enam bulan terakhir. Seorang pemilik toko kelontong di kawasan Depok, Sari Lestari, mengaku pelanggannya kini lebih memilih tawas lokal ketimbang merek impor yang memiliki rentang harga lebih tinggi. “Pembeli bilang kualitasnya mirip, tapi harganya lebih terjangkau dan kemasannya lebih praktis karena sudah ada tempat penyimpanannya,” ujar Sari saat ditemui di tokonya, Selasa (14/11).
Kendati permintaan meningkat, Callum mengaku tidak akan terburu-buru berekspansi bila hal itu berpotensi mengorbankan kendali mutu. Budiman menuturkan bahwa pihaknya tengah mengkaji penambahan kapasitas produksi sebesar 40 persen melalui investasi mesin otomatis baru yang dijadwalkan beroperasi pada awal 2026. Rencana investasi tersebut, dengan nilai mencapai Rp12 miliar, diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara volume dan kualitas. “Kami paham bahwa kepercayaan konsumen adalah aset paling berharga. Setiap langkah pengembangan harus terukur dan tidak meninggalkan prinsip dasar kami,” tutup Budiman.
Comments (0)