Kera Ekor Panjang Penyerang Warga Inhil Berhasil Diamankan

TEMBILAHAN, RIAU - Kera ekor panjang yang meresahkan warga di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau, akhirnya berhasil ditangkap. Hewan tersebut diketahui telah menyerang sebany...

Kera Ekor Panjang Penyerang Warga Inhil Berhasil Diamankan

TEMBILAHAN, RIAU - Kera ekor panjang yang meresahkan warga di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau, akhirnya berhasil ditangkap. Hewan tersebut diketahui telah menyerang sebanyak 17 warga dalam beberapa pekan terakhir. Kepolisian Resor Indragiri Hilir memastikan proses penangkapan berlangsung pada Kamis, 6 Agustus 2026, setelah dilakukan upaya koordinasi antara aparat keamanan, petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), dan perangkat desa setempat.

Kapolres Indragiri Hilir, AKBP Andi Putra, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa kera berjenis Macaca fascicularis tersebut telah diamankan dalam kondisi hidup dan tidak mengalami luka. "Kami bersama tim gabungan berhasil menangkap kera ekor panjang tersebut di kawasan perkebunan warga yang berbatasan langsung dengan pemukiman di Kelurahan Tembilahan Kota. Penangkapan dilakukan dengan menggunakan obat bius dan jaring pengaman agar tidak membahayakan warga maupun hewan itu sendiri," ujarnya di Tembilahan, Jumat, 7 Agustus 2026.

Kronologi Penangkapan dan Penanganan

Proses penangkapan berlangsung sekitar tiga jam sejak pagi hari. Tim gabungan memanfaatkan umpan berupa buah-buahan yang ditempatkan di lokasi yang sering dilalui kera tersebut. Setelah kera terpancing mendekat, petugas BKSDA menyuntikkan obat bius dari jarak aman. Kera yang diperkirakan berusia lima tahun dengan berat sekitar delapan kilogram itu kemudian dievakuasi menggunakan kandang besi khusus.

Kepala BKSDA Wilayah Riau, Bambang Sutrisno, menjelaskan bahwa kera tersebut akan menjalani observasi kesehatan di pusat rehabilitasi satwa sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya. "Kami akan melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh untuk memastikan tidak ada penyakit zoonosis yang dapat menular ke manusia. Setelah dinyatakan sehat, kera akan dilepasliarkan di kawasan hutan lindung yang jauh dari permukiman," kata Bambang dalam konferensi pers di kantor BKSDA Tembilahan.

Imbauan Kepolisian kepada Masyarakat

Meskipun serangan telah berhenti, pihak kepolisian mengimbau warga untuk tetap waspada. AKBP Andi Putra menegaskan bahwa kemunculan satwa liar di area pemukiman dapat terjadi kembali mengingat habitat alami kera yang semakin menyempit. "Kami meminta warga untuk tidak memberi makan kera liar atau hewan liar lainnya. Jika menemukan satwa liar yang berpotensi membahayakan, segera laporkan ke posko terdekat atau hubungi call center kepolisian 110," tegasnya.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul adanya laporan bahwa beberapa warga sempat memberi makan kera tersebut sebelum insiden penyerangan terjadi. Kepala Desa Tembilahan Kota, Muhammad Yusuf, mengakui bahwa kebiasaan memberi makan satwa liar menjadi salah satu pemicu kera menjadi agresif. "Warga sering memberi pisang atau singkong kepada kera yang turun dari hutan. Akibatnya, kera menjadi terbiasa mendekati manusia dan kehilangan rasa takut," jelasnya.

Dampak dan Penanganan Korban

Sebanyak 17 warga yang menjadi korban serangan kera telah menerima perawatan medis di Puskesmas Tembilahan dan RSUD Puri Husada. Kepala Dinas Kesehatan Inhil, dr. Siti Rahma, menyatakan bahwa seluruh korban telah mendapatkan vaksin antirabies sebagai langkah pencegahan. "Semua korban, termasuk lima anak-anak di bawah usia 12 tahun, telah menerima vaksin rabies dosis pertama. Mereka akan menjalani vaksinasi lanjutan sesuai jadwal yang ditentukan," ungkapnya.

Dari 17 korban, sebagian besar mengalami luka cakar dan gigitan di bagian tangan serta kaki. Dua korban di antaranya harus menjalani perawatan intensif karena luka yang cukup dalam, namun kini kondisinya telah membaik. Pemerintah Kabupaten Inhil juga telah mengalokasikan dana bantuan untuk biaya pengobatan korban melalui anggaran tak terduga.

Langkah Pencegahan Jangka Panjang

Pemerintah Kabupaten Inhil bersama BKSDA akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara hidup berdampingan dengan satwa liar. Program ini mencakup edukasi tentang pengelolaan sampah dan sisa makanan yang dapat menarik satwa liar ke pemukiman. Selain itu, akan dilakukan penanaman pohon buah-buahan di kawasan penyangga hutan sebagai sumber pangan alami bagi satwa.

Bambang Sutrisno menambahkan bahwa pihaknya akan memasang papan peringatan di titik-titik rawan kemunculan satwa liar serta meningkatkan patroli rutin. "Kami berkomitmen untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus melindungi keselamatan warga. Kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan aparat penegak hukum menjadi kunci utama dalam menyelesaikan konflik satwa liar ini," pungkasnya.

Peristiwa penyerangan kera ekor panjang ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah mengingat Tembilahan merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan gambut yang menjadi habitat berbagai satwa liar. Warga diharapkan tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun satwa liar yang dilindungi undang-undang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User