BMKG: Puncak Kemarau 2026 Berbeda Tiap Wilayah

JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 tidak akan terjadi serentak pada bulan Agustus di seluruh wilayah Indonesia. Kepala BM...

BMKG: Puncak Kemarau 2026 Berbeda Tiap Wilayah

JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 tidak akan terjadi serentak pada bulan Agustus di seluruh wilayah Indonesia. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (7/4/2026), menyatakan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik curah hujan yang berbeda sehingga waktu puncak kemarau bervariasi.

"Berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan data historis 30 tahun terakhir, kami menyimpulkan bahwa puncak kemarau 2026 terbagi dalam tiga periode utama. Sebagian wilayah akan mengalami puncak pada Juni, sebagian lagi Juli, dan sisanya Agustus hingga September," ujar Dwikorita dalam rapat koordinasi yang digelar secara hybrid.

Wilayah dengan Puncak Kemarau Juni

BMKG merinci bahwa sejumlah wilayah di bagian selatan Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan sebagian besar Pulau Jawa bagian timur, akan memasuki puncak kemarau lebih awal. Daerah-daerah ini diprediksi mencapai titik terkering pada pertengahan Juni hingga awal Juli.

"Faktor utama adalah pergerakan angin monsun Australia yang lebih cepat masuk ke wilayah selatan ekuator. Ini menyebabkan penguapan dan pengurangan curah hujan terjadi lebih dini," jelas Dwikorita. Ia menambahkan bahwa masyarakat di wilayah tersebut perlu mengantisipasi kekeringan sejak bulan Mei.

Puncak Kemarau Juli untuk Wilayah Tengah

Sementara itu, wilayah tengah Indonesia seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, dan sebagian Kalimantan Selatan diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan Juli 2026. Periode ini sedikit lebih lambat dibandingkan wilayah timur karena pengaruh topografi dan sirkulasi lokal.

"Untuk wilayah Jabodetabek, kami memperkirakan hari tanpa hujan berturut-turut bisa mencapai 30 hingga 45 hari pada puncaknya. Ini perlu diwaspadai terkait pasokan air bersih dan potensi kebakaran hutan," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam kesempatan terpisah. Ia mengimbau pemerintah daerah untuk menyiapkan reservoir dan normalisasi waduk sebelum periode tersebut.

Wilayah dengan Puncak Kemarau Agustus-September

Berbeda dengan dua kelompok sebelumnya, sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua justru akan mengalami puncak kemarau pada Agustus hingga September 2026. BMKG menyatakan bahwa keterlambatan ini disebabkan oleh posisi matahari yang masih berada di belahan bumi utara hingga pertengahan tahun.

"Masyarakat di wilayah tersebut tidak perlu khawatir jika hujan masih turun di bulan Juli. Itu adalah kondisi normal karena puncak kemarau mereka memang jatuh di akhir tahun," tegas Dwikorita. Ia juga menekankan bahwa meskipun puncak kemarau berbeda, total curah hujan musim kemarau 2026 diprediksi normal hingga sedikit di bawah normal untuk sebagian besar zona.

BMKG meminta seluruh pemangku kepentingan untuk menindaklanjuti informasi ini dengan melakukan Rapat Koordinasi tingkat daerah. Kepala daerah diimbau mengeluarkan surat edaran terkait hemat air dan kewaspadaan kebakaran lahan. "Kami akan terus memperbarui data setiap bulan melalui platform resmi. Masyarakat dapat mengakses info iklim di website kami," pungkas Dwikorita.

Data lengkap mengenai peta puncak kemarau per kecamatan telah diunggah dalam bentuk infografis interaktif. BMKG juga membuka posko informasi di setiap stasiun klimatologi untuk menjawab pertanyaan publik secara langsung. Dengan adanya perbedaan waktu ini, pemerintah pusat berharap distribusi bantuan logistik air bersih dapat dilakukan secara tepat sasaran sesuai kalender kemarau masing-masing daerah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User