Kepulauan Seribu Olah Sampah Organik Jadi Pakan Bebek
Petugas peternakan di Kepulauan Seribu memanfaatkan sampah organik sebagai pakan alternatif bagi bebek. Langkah ini diambil untuk menekan biaya pakan sekal
Petugas peternakan di Kepulauan Seribu memanfaatkan sampah organik sebagai pakan alternatif bagi bebek. Langkah ini diambil untuk menekan biaya pakan sekaligus mengurangi volume limbah rumah tangga yang selama ini menjadi persoalan di wilayah kepulauan tersebut. Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Kepulauan Seribu, Budi Santoso, mengatakan bahwa program ini telah berjalan sejak awal 2025. "Kami ingin menciptakan sistem peternakan yang lebih berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah," ujarnya saat ditemui di Pulau Pramuka, Rabu (15/5).
Kronologi Program Pakan Organik
- Januari 2025 – Dinas KPKP melakukan survei volume sampah organik di tiga pulau utama, yakni Pulau Pramuka, Pulau Tidung, dan Pulau Kelapa. Hasil survei menunjukkan rata-rata produksi sampah organik mencapai 850 kilogram per hari.
- Februari 2025 – Pelatihan pengolahan sampah organik diberikan kepada 37 peternak bebek. Materi mencakup teknik fermentasi, pencampuran dedak, dan standar higienitas pakan.
- Maret 2025 – Pembangunan instalasi pengolahan sederhana di Pulau Pramuka. Mesin pencacah dan bak fermentasi berkapasitas 300 kilogram per hari mulai dioperasikan.
- April 2025 – Uji coba pakan fermentasi pada 200 ekor bebek milik kelompok tani "Seribu Makmur". Pakan campuran terdiri atas 60% sampah organik fermentasi, 30% dedak, dan 10% konsentrat.
- Mei 2025 – Evaluasi hasil. Tingkat kematian bebek turun dari 5% menjadi 2%, bobot bebek rata-rata naik 150 gram per ekor dalam 30 hari, dan biaya pakan turun hingga 40%.
Proses Pengolahan dan Pemberian Pakan
Sampah organik yang terkumpul—terutama sisa sayuran, kulit buah, dan nasi basi—terlebih dahulu dipilah dari sampah plastik dan logam. Petugas kemudian mencacahnya hingga halus lalu mencampurkan dengan larutan Effective Microorganism (EM4) untuk mempercepat fermentasi. Proses fermentasi berlangsung selama 7–10 hari dalam wadah tertutup. Setelah kering dan tidak berbau busuk, pakan siap dicampur dengan dedak dan diberikan kepada bebek dua kali sehari. Setiap ekor bebek dewasa menerima sekitar 120 gram pakan per hari, setara dengan penghematan biaya pakan komersial hingga Rp 2.500 per ekor per minggu.
Dampak Lingkungan dan Ekonomi
Pemanfaatan sampah organik ini berhasil mengurangi kiriman sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di daratan Jakarta. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup setempat, volume sampah organik yang terolah naik dari 45% pada Januari menjadi 72% pada April 2025. Sementara itu, kelompok tani melaporkan peningkatan pendapatan karena biaya operasional menyusut. "Dulu saya habiskan Rp 300.000 per bulan untuk pakan. Sekarang cukup Rp 180.000," kata Rusli (48), salah satu anggota kelompok. Pemerintah kabupaten berencana memperluas program ini ke pulau-pulau lain pada tahun 2026, dengan target 80% sampah organik kepulauan diolah menjadi pakan ternak.
Comments (0)