Kemarau Panjang Singkap Sisa Kampung di Dasar Bendungan Karian

Musim kemarau yang melanda wilayah Kabupaten Lebak, Banten, pada Juli 2026 kembali menyingkap pemandangan tak biasa di kawasan Bendungan Karian. Surutnya volume air hingga menyentuh titik terendah mem...

Kemarau Panjang Singkap Sisa Kampung di Dasar Bendungan Karian

Musim kemarau yang melanda wilayah Kabupaten Lebak, Banten, pada Juli 2026 kembali menyingkap pemandangan tak biasa di kawasan Bendungan Karian. Surutnya volume air hingga menyentuh titik terendah memperlihatkan sisa-sisa fondasi rumah, bangunan sekolah, dan jalan kampung yang telah lama tenggelam sejak masa penggenangan awal bendungan pada tahun 2022. Kemunculan kembali jejak permukiman yang dahulu padat penduduk itu sontak menjadi pusat perhatian warga sekitar dan para pelintas jalan akses menuju Rangkasbitung.

Saksi Bisu Relokasi Dua Puluh Tahun Silam

Berdasarkan data dari Dinas Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Provinsi Banten, Bendungan Karian dibangun sebagai proyek strategis nasional untuk memenuhi kebutuhan irigasi seluas 1.800 hektare dan penyediaan air baku bagi wilayah Jabodetabek. Proses pembebasan lahan dan relokasi melibatkan empat desa, yaitu Desa Karian, Desa Margaluyu, Desa Pasirkembang, dan sebagian Desa Cilangkap, yang tercatat memiliki total 1.247 kepala keluarga. Seluruh permukiman warga di zona genangan resmi dikosongkan pada Februari 2021 dan kemudian terendam setelah bendungan mulai menampung air pada akhir tahun 2022.

Saat ini, kondisi cuaca ekstrem dengan curah hujan sangat rendah selama tiga bulan terakhir telah membuat tinggi muka air bendungan menyusut sekitar 14 meter dari batas normal. Surutnya air itu menguak kembali jalan desa yang masih dilapisi aspal, sudut-sudut bekas surau, serta sisa-sisa ruang kelas Sekolah Dasar Negeri 2 Karian. Beberapa tiang listrik yang tidak sempat dibongkar juga tampak mencuat di antara genangan yang makin menyempit. “Saya tidak menyangka masih bisa menyaksikan jejak rumah kakek kami. Tempat saya lahir dan besar dulu ada di titik itu, sekarang bisa dilihat lagi walau hanya sebentar,” ujar Jajang Suhendar (52), warga asal Desa Karian yang kini bermukim di hunian tetap relokasi di Desa Tambakbaya.

Nostalgia dan Keprihatinan Warga Terdampak

Munculnya kembali puing-puing kampung itu membangkitkan gelombang kenangan bagi para mantan penghuni yang kini tersebar di beberapa titik rumah relokasi. Sejumlah warga berdatangan ke tepi bendungan untuk melihat langsung kondisi tanah kelahiran mereka, mengabadikan gambar dengan telepon genggam, dan bercerita kepada generasi muda yang tidak sempat merasakan hidup di wilayah yang kini menjadi dasar waduk. Enah Rokayah (61), pensiunan guru SDN 2 Karian, menyampaikan perasaan campur aduk saat mendapati bekas sekolah tempatnya mengajar selama 27 tahun itu nampak kembali. “Di ruangan itu saya mendidik ratusan anak yang sekarang sudah sukses. Melihat fondasinya lagi rasanya seperti mimpi, tapi juga mengingatkan kami bahwa kami harus menerima kenyataan ini selamanya,” tuturnya.

Di sisi lain, kemunculan perkampungan yang tenggelam ini juga memicu perbincangan mengenai rencana pengelolaan sedimentasi dan kemungkinan membuka akses terbatas bagi kegiatan wisata sejarah. Camat Cibadak, Muhamad Asep, menyampaikan bahwa pihaknya sedang berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian untuk memastikan keamanan area yang terpapar. “Kami mengimbau warga tidak turun langsung ke dasar yang surut karena struktur bangunan yang sudah rapuh sangat berbahaya. Tim gabungan akan melakukan pemetaan titik rawan longsor dan memasang garis batas pengaman di sekitar lokasi,” jelasnya dalam keterangan tertulis.

Implikasi Hidrologis dan Antisipasi Musim Kemarau

Surutnya air Bendungan Karian juga membawa dampak signifikan terhadap pasokan air irigasi di wilayah Ciujung dan sekitarnya. Berdasarkan laporan teknis terbaru dari Perum Jasa Tirta II, kapasitas tampungan efektif bendungan per 20 Juli 2026 tercatat hanya 62,3 persen dari total kapasitas normal 103 juta meter kubik. Meski demikian, pasokan air baku ke instansi pengelola air minum di Kota Serang dan Kabupaten Tangerang masih terjamin hingga akhir Agustus, dengan skema pengaturan pintu outlet yang disesuaikan secara harian.

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWS C3, Danny Firmansyah, menyatakan bahwa fenomena penyusutan tinggi muka air ini merupakan siklus tahunan yang pada musim kemarau ekstrem kerap memperlihatkan infrastruktur yang sebelumnya tenggelam. “Kondisi ini memberi kami kesempatan untuk melakukan inspeksi fisik terhadap fasilitas bawah air, termasuk menara intake dan terowongan pengelak. Kami juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang memanfaatkan momen ini untuk aktivitas ilegal seperti penggalian material bekas bangunan yang dapat merusak dasar waduk,” tegas Danny.

Dengan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bahwa musim kemarau masih akan berlangsung hingga September 2026, diperkirakan sisa-sisa perkampungan Karian akan terus terekspos lebih luas. Para tetua adat setempat, seperti Abah Mursid (78), meminta agar pemerintah tidak menjadikan lokasi itu sebagai sekadar objek tontonan. “Ini adalah tanah leluhur kami. Kalau memang harus terlihat seperti ini, biarlah menjadi pengingat bahwa di sini dulu ada kehidupan. Bukan ajang foto-foto tanpa izin,” pesannya. Pemerintah daerah berjanji akan menertibkan kendaraan yang parkir sembarangan di bahu jalan dan menjaga agar aktivitas di sekitar bendungan tetap terkendali serta menghormati nilai sejarah masyarakat setempat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User