Keluar dari Gaza Demi Kuliah, Mahasiswa Palestina Masih Dihantui Ketidakpastian
Kondisi pendidikan di Jalur Gaza yang belum sepenuhnya pulih mendorong semakin banyak mahasiswa Palestina mencari jalan keluar untuk melanjutkan studi di luar negeri. Di tengah keterbatasan akses dan
Kondisi pendidikan di Jalur Gaza yang belum sepenuhnya pulih mendorong semakin banyak mahasiswa Palestina mencari jalan keluar untuk melanjutkan studi di luar negeri. Di tengah keterbatasan akses dan infrastruktur yang rusak akibat konflik berkepanjangan, meninggalkan tanah kelahiran menjadi pilihan pahit yang harus diambil demi masa depan akademik. Namun, di balik kesempatan itu, sejumlah mahasiswa masih bergulat dengan perasaan kehilangan dan ketidakpastian akan hari esok.
Perjalanan Amira Al-Khatib: Antara Lega dan Duka
Salah satu wajah dari realitas itu adalah Amira Al-Khatib (24), perempuan muda asal Gaza yang baru saja tiba di Belanda pekan lalu untuk menempuh program magister di Radboud University, Nijmegen. Dalam perbincangan dengan media pekan ini, Al-Khatib mengungkapkan perasaannya yang campur aduk. Ia mengaku sangat bersyukur bisa keluar dari blokade dan memulai lembaran baru, namun di saat yang sama, meninggalkan keluarga dan komunitasnya di Gaza meninggalkan luka mendalam.
"Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung saya. Namun, meninggalkan Gaza adalah salah satu momen tersulit yang pernah saya alami."
Pernyataan itu memperlihatkan dilema yang dihadapi banyak mahasiswa Palestina: antara mengejar mimpi akademik di tempat yang aman dan rasa tanggung jawab moral untuk tetap berada di tengah masyarakat yang menderita.
Tantangan Ganda: Keluar dari Gaza dan Bertahan di Perantauan
Proses meninggalkan Gaza bukan perkara mudah. Mahasiswa harus melewati berbagai rintangan birokrasi, mulai dari pengurusan visa, izin keluar dari perbatasan yang dikontrol ketat, hingga penggalangan dana untuk biaya hidup dan studi. Al-Khatib sendiri membutuhkan bantuan dari berbagai organisasi kemanusiaan dan donatur individu agar bisa sampai ke Nijmegen.
Kini, setelah tiba di Belanda, tantangan belum usai. Ketidakpastian masih membayangi: ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan akademik yang sama sekali baru, mengatasi tekanan mental akibat trauma perang, dan terus memantau kabar dari keluarga yang masih terjebak di Gaza. Akses komunikasi yang terputus-putus serta ancaman eskalasi konflik sewaktu-waktu membuat fokus studinya kerap terganggu.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Laporan menyebutkan puluhan mahasiswa Gaza lainnya sedang berjuang mendapatkan beasiswa untuk keluar dari daerah konflik. Mereka tersebar di Turki, Mesir, Qatar, hingga Eropa, masing-masing membawa cerita sama: keinginan membangun masa depan lewat pendidikan, namun dibebani trauma kolektif yang sulit dihapus.
Pengalaman Al-Khatib dan rekan-rekannya menyiratkan bahwa meskipun pintu keluar Gaza terbuka sedikit, perjalanan untuk benar-benar "keluar" dari bayang-bayang krisis masih panjang. Dukungan psikososial dan keberlanjutan finansial menjadi elemen kunci agar mahasiswa Palestina perantauan tidak hanya selamat, tetapi juga berhasil menyelesaikan studi dan kelak berkontribusi bagi tanah airnya.
Comments (0)