Kecerdasan Emosional Anak Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Optimal
Psikolog Dra. A. Ratih Andjayani Ibrahim, M.M., Psikolog menegaskan bahwa kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) merupakan bekal fundamental bagi anak dalam menjalani kehidupan sehari-hari,...
Psikolog Dra. A. Ratih Andjayani Ibrahim, M.M., Psikolog menegaskan bahwa kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) merupakan bekal fundamental bagi anak dalam menjalani kehidupan sehari-hari, bukan sekadar pelengkap kemampuan akademik. Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi media bertajuk "Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal" yang digelar di Senayan, Jakarta Pusat, pada Kamis (8/10).
Menurut Ratih, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk memahami situasi yang dihadapinya, mengenali penyebabnya, menyadari dampaknya terhadap diri sendiri, serta memberi nama pada perasaan dan reaksi yang muncul, lalu meresponsnya dengan tepat. "Kecerdasan emosional adalah kemampuan kita untuk memahami apa yang terjadi di sekitar kita, sebabnya apa, dampaknya ke kita, serta nama dari perasaan dan reaksi yang muncul, lalu meresponsnya dengan benar," ujar Ratih dalam forum tersebut.
Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa capaian akademik semata tidak cukup menjamin kesiapan anak menghadapi tantangan hidup. Kemampuan membaca, berhitung, dan meraih prestasi di sekolah perlu diimbangi dengan kapasitas mengenali perasaan, mengelola emosi, serta memahami orang lain.
Peran Lingkungan Terdekat dalam Pembentukan EQ
Ratih menyatakan bahwa kecerdasan emosional perlu diperkenalkan sejak anak masih kecil. Orang tua dan saudara berada pada posisi paling strategis sebagai lingkungan terdekat yang memberikan contoh kepada anak dalam mengenali serta merespons berbagai emosi. Proses pembelajaran itu berlangsung melalui interaksi harian, bukan melalui instruksi formal.
Pada usia dini, kemampuan bahasa dan pengendalian emosi anak masih berkembang. Anak yang menangis ketika mainannya diambil atau marah karena keinginannya tidak terpenuhi belum tentu mampu menjelaskan apa yang dirasakannya. Kondisi tersebut, menurut Ratih, menuntut pendampingan orang tua agar anak perlahan belajar memahami perasaannya, menyampaikan kebutuhan dengan lebih baik, serta menghadapi situasi yang tidak sesuai harapannya.
Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat memahami bahwa merasa kecewa atau sedih bukanlah hal yang salah. Ia juga perlu dibimbing untuk mengetahui cara mengekspresikan emosi secara sehat dan proporsional.
Emosi Negatif Tidak Selalu Harus Dihindari
Ratih mengingatkan bahwa emosi negatif bukan sesuatu yang harus selalu dihindari. Marah, cemas, dan sedih merupakan bagian normal dari kehidupan. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana emosi tersebut dikelola. "Marah, cemas, dan sedih itu emosi yang sehat. Tapi kalau marah-marah melulu, cemas terus sampai jadi anxiety, atau sedih terus sampai tidak berdaya, itu yang tidak benar," tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan bukan terletak pada jenis emosi yang muncul, melainkan pada intensitas dan cara pengelolaannya. Anak yang dibekali kecerdasan emosional sejak dini memiliki peluang lebih besar untuk merespons tekanan, kekecewaan, maupun konflik sosial secara lebih terkendali.
Implikasi bagi Pola Pengasuhan
Berdasarkan pemaparan tersebut, pola pengasuhan yang hanya menekankan prestasi akademik berpotensi meninggalkan celah penting dalam perkembangan anak. Orang tua didorong untuk membangun komunikasi yang membuka ruang bagi anak mengenali dan menamai perasaannya. Langkah ini dinilai menjadi fondasi bagi terbentuknya kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, dan ketahanan menghadapi tantangan.
Dalam jangka panjang, kecerdasan emosional berkontribusi pada kesiapan anak menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk dalam lingkungan sekolah dan pergaulan. Anak yang mampu memahami perasaannya sendiri lebih mudah memahami orang lain, sehingga interaksi sosialnya berlangsung lebih sehat.
Diskusi media tersebut menegaskan bahwa penguatan kecerdasan emosional anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga sebagai lingkungan terdekat dan lingkungan pendukung lainnya. Dengan demikian, tumbuh kembang anak dapat berjalan optimal, tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek emosional dan sosial.
Comments (0)