Oct 12, 2026
Politik

Bayi 28 Hari di Surabaya Meninggal Setelah Diberi Telur Mentah

Seorang bayi berusia 28 hari dilaporkan meninggal dunia di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, setelah sebelumnya diduga diberi konsumsi telur mentah oleh anggota keluarganya. Peristiwa tersebut mencuat ke ru...

Bayi 28 Hari di Surabaya Meninggal Setelah Diberi Telur Mentah

Seorang bayi berusia 28 hari dilaporkan meninggal dunia di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, setelah sebelumnya diduga diberi konsumsi telur mentah oleh anggota keluarganya. Peristiwa tersebut mencuat ke ruang publik melalui unggahan di media sosial yang menyebutkan bahwa pemberian telur mentah dilakukan dengan maksud menurunkan demam yang diderita sang bayi. Kabar duka ini disampaikan oleh pihak keluarga melalui akun Threads @calisthaarisha, yang mengaku sebagai bibi dari bayi bernama Alena.

Dalam unggahannya, akun tersebut menyatakan bahwa Alena telah berpulang setelah menjalani perawatan intensif. Ia juga menegaskan bahwa persoalan yang menyangkut keluarga telah ditindaklanjuti secara internal, dan meminta publik tidak lagi membahas kronologi peristiwa tersebut karena keluarga, terutama ibu bayi, belum siap menanggapi pertanyaan lebih lanjut.

"Belum genap 1 bulan usianya di dunia ini harus berjuang di karena keadaannya yang kritis setelah dicekokin neneknya sendiri telur mentah," tulis akun tersebut.

Pihak Rumah Sakit Benarkan Informasi

Kepala Bagian Umum RSUD Dr. Soetomo, Robeth Jabbar, membenarkan informasi mengenai kematian bayi tersebut. Menurutnya, pasien sempat dirawat dan mendapatkan penanganan medis maksimal sesuai standar pelayanan yang berlaku. Bayi dinyatakan meninggal dunia pada Minggu pagi, sekitar pukul 07.10 WIB, dalam usia 28 hari.

"Pasien tersebut memang benar sempat dirawat di RSDS dan tim medis telah memberikan upaya penanganan maksimal sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien. Namun pasien dinyatakan meninggal dunia pagi tadi sekitar pukul 07.10 WIB, usianya 28 hari," ujar Robeth.

Robeth menyatakan pihak rumah sakit tidak dapat mengungkapkan kronologis maupun detail diagnosis pasien secara terbuka. Ia menyebut hal itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang tengah berduka, sekaligus menjaga kerahasiaan rekam medis pasien sebagaimana diatur dalam ketentuan pelayanan kesehatan.

"Terkait kronologis dan detail diagnosa pasien, kami tidak dapat menyampaikannya secara terbuka serta demi menghormati masa berduka pihak keluarga," katanya.

Praktik Pemberian MPASI Dini dan Risiko Kesehatan

Kasus ini mencuatkan kembali perhatian publik terhadap praktik pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI) pada bayi di bawah usia enam bulan. Organisasi kesehatan dunia maupun Kementerian Kesehatan telah menetapkan bahwa bayi usia 0 hingga 6 bulan sebaiknya hanya diberikan air susu ibu, tanpa tambahan makanan atau minuman lain, kecuali atas indikasi medis tertentu.

Telur mentah, khususnya, mengandung risiko kontaminasi bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi serius pada bayi. Sistem imun bayi yang belum berkembang sempurna membuat mereka jauh lebih rentan terhadap infeksi saluran pencernaan, dehidrasi, hingga sepsis yang berpotensi berujung pada kematian.

Selain itu, protein dalam telur mentah juga sulit dicerna oleh sistem pencernaan bayi yang masih immature. Pemberian makanan pada usia terlalu dini dapat memicu reaksi alergi, tersedak, serta gangguan pertumbuhan. Praktik ini bertentangan dengan pedoman kesehatan yang ditetapkan secara resmi, sehingga memerlukan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat, terutama di lingkungan keluarga.

Imbauan Literasi Kesehatan Keluarga

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya literasi kesehatan di tingkat keluarga, khususnya bagi para orang tua muda dan anggota keluarga lanjut usia yang kerap menjadi pengasuh utama. Pemahaman mengenai pola asuh dan pemberian nutrisi bayi perlu ditanamkan secara kolektif agar kejadian serupa tidak terulang.

Meski pihak rumah sakit tidak merinci penyebab kematian, pernyataan resmi yang disampaikan menunjukkan bahwa penanganan medis telah dilakukan optimal. Kasus ini pun diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama, baik bagi keluarga, tenaga kesehatan, maupun pemangku kepentingan dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya asupan gizi yang tepat bagi bayi.

Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga belum memberikan keterangan resmi lebih lanjut. Publik diimbau untuk menghormati proses berduka yang tengah dialami keluarga almarhumah serta tidak menyebarkan spekulasi yang tidak berdasarkan keterangan resmi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User