Penyelenggaraan Pertamina Indonesia Grand Prix 2026 yang berlangsung sejak 9 hingga 11 Oktober 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, terbukti memberikan dampak ekonomi signifikan bagi sektor perhotelan di kawasan tersebut. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB mencatat okupansi hampir seluruh hotel di Lombok mengalami peningkatan drastis, terutama pada periode puncak gelaran balap kelas dunia itu.
Ketua PHRI NTB, Ni Ketut Wolini, menegaskan bahwa lonjakan tingkat hunian terjadi merata di berbagai kategori akomodasi. Menurutnya, perhelatan MotoGP secara konsisten menjadi pemicu utama tingginya permintaan kamar di wilayah Lombok.
"Setiap ada perhelatan, MotoGP itu hampir semua hotel itu penuh. Terutama hotel yang bintang 3 ke atas, bintang 2 ke atas tuh memang ini, penuh gitu," kata Wolini kepada awak media di Lombok, Minggu (11/10/2026).
Hotel Non-Bintang Catat Okupansi 60-80 Persen
Wolini menjelaskan bahwa hotel-hotel berbintang menjadi kategori yang paling merasakan dampak langsung dari penyelenggaraan event tersebut. Tingkat hunian pada segmen ini tercatat mencapai kapasitas maksimal selama tiga hari penyelenggaraan balapan. Namun demikian, ia mengakui bahwa hotel kelas melati atau non-bintang belum mencatatkan angka penuh seperti yang terjadi pada hotel berbintang.
"Nah cuma yang masih jadi PR kita itu kan yang hotel-hotel non-bintang atau Melati gitu mungkin ya. Tapi walaupun mereka tidak 100 persen, tapi paling tidak mereka okupansinya di atas 60 persen. Malah ada yang 80 persen," ujarnya.
Berdasarkan data yang dihimpun PHRI NTB, okupansi hotel melati tercatat berada pada kisaran 60 hingga 80 persen. Angka tersebut dinilai tetap memberikan dampak positif bagi pelaku usaha akomodasi skala kecil, meskipun belum mencapai tingkat hunian penuh seperti yang dialami hotel berbintang tiga ke atas.
Kawasan Sekitar Sirkuit Mandalika Jadi Favorit
Dari sisi sebaran lokasi, Wolini mengungkapkan bahwa hotel-hotel yang berada di sekitar Pertamina Mandalika International Circuit menjadi pilihan utama para wisatawan. Wilayah tersebut dipastikan mencatatkan okupansi penuh selama periode penyelenggaraan balapan.
"Hotel-hotel di sekitar sirkuit itu memang menjadi favorit, karena akses yang lebih dekat ke lokasi balapan. Itu yang membuat tingkat hunian di sana benar-benar penuh," jelasnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemilihan lokasi strategis menjadi faktor kunci dalam menarik minat wisatawan, terutama pada event-event berskala internasional. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang menjadi pusat penyelenggaraan MotoGP secara konsisten menjadi magnet bagi para penonton dan wisatawan yang ingin menyaksikan balapan secara langsung.
Wisatawan Lokal Masih Mendominasi
Terkait komposisi wisatawan, Wolini menyatakan bahwa saat ini pengunjung yang mendominasi masih berasal dari wisatawan lokal atau domestik. Meskipun demikian, ia belum dapat memberikan persentase pasti mengenai perbandingan antara wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara karena periode pencatatan masih berlangsung.
"Oh lokal, kebanyakan lokal. Ya dari luar daerah lah gitu kan. Sekarang ini kita belum buat persentasenya (lokal dan wisman) karena masih berjalan. Tapi kalau dilihat sepintas," tandasnya.
Dominasi wisatawan lokal ini menunjukkan bahwa MotoGP Mandalika tidak hanya menjadi ajang olahraga internasional, tetapi juga menjadi momentum bagi masyarakat Indonesia untuk berwisata ke Lombok. Para pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia memanfaatkan momen tersebut untuk menyaksikan balapan sekaligus menikmati destinasi wisata di Nusa Tenggara Barat.
Penyelenggaraan Pertamina Indonesia Grand Prix 2026 sendiri resmi berlangsung selama tiga hari, dengan puncak acara pada Minggu, 11 Oktober 2026. Pebalap Aprilia Racing, Marco Bezzecchi, keluar sebagai pemenang dalam balapan yang digelar di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika tersebut. Gelaran ini menjadi salah satu agenda tahunan yang dinantikan, tidak hanya oleh para pecinta otomotif, tetapi juga oleh pelaku industri pariwisata dan perhotelan di kawasan Lombok.
Dengan capaian okupansi yang hampir merata di seluruh kategori hotel, PHRI NTB menilai bahwa MotoGP tetap menjadi berkah bagi industri perhotelan. Meskipun masih terdapat tantangan pada segmen hotel non-bintang, secara umum event ini memberikan dampak positif yang signifikan bagi perekonomian daerah, khususnya di sektor pariwisata dan akomodasi.
Ke depan, PHRI NTB berharap agar perhelatan serupa dapat terus mendorong pertumbuhan industri perhotelan, sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas layanan dan fasilitas bagi para wisatawan yang berkunjung ke Lombok. Peningkatan okupansi ini juga diharapkan berdampak pada sektor ekonomi lainnya, seperti kuliner, transportasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan Mandalika.
Comments (0)