Kampung yang Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Kembali

LEBAK, APABERITA — Debit air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, menyusut drastis selama puncak musim kemarau, sehingga menyingkap kembali puluhan bangunan rumah dan masjid yang telah tengg...

Kampung yang Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Kembali

LEBAK, APABERITA — Debit air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, menyusut drastis selama puncak musim kemarau, sehingga menyingkap kembali puluhan bangunan rumah dan masjid yang telah tenggelam lebih dari satu dekade. Fenomena ini sontak memicu gelombang nostalgia bagi warga yang dahulu menghuni tiga desa yang kini berada di dasar waduk.

Rumah dan Masjid Kembali Menampakkan Diri

Odon, warga asli yang kini bermukim di sekitar bendungan, menuturkan bahwa dalam kondisi air normal, hanya puncak menara masjid yang samar-samar terlihat di permukaan.

"Biasanya, jika permukaan air masih tinggi, paling hanya atap-atap masjid saja yang bisa kami kenali. Tapi kali ini, hampir seluruh bangunan rumah terlihat jelas dari tepian,"
ujarnya saat ditemui di kawasan Waduk Karian, Kamis (24/7). Penyusutan air yang signifikan itu diakibatkan oleh rendahnya curah hujan dalam tiga bulan terakhir serta tingginya laju evaporasi. Data dari Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian mencatat volume tampungan bendungan turun hingga 32 persen dibandingkan rata-rata bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Sejarah Penggenangan Tiga Desa

Bendungan Karian diresmikan pada 2015 dan merupakan infrastruktur strategis nasional yang memasok air baku untuk Jakarta, Tangerang, dan Banten utara. Pembangunan waduk seluas 1.773 hektare itu menenggelamkan tiga desa—Karian, Pasir Tongkol, dan Cimarga—serta merelokasi lebih dari 1.200 kepala keluarga. Sebagian besar warga dipindahkan ke permukiman baru yang disediakan pemerintah, namun kenangan akan kampung halaman tetap membekas. Kini, ketika fondasi rumah, sisa tembok, hingga tangga beton menyembul dari lumpur retak, warga berbondong-bondong datang menyaksikan langsung, merekam momen tersebut, dan berbagi cerita kepada generasi muda.

Nostalgia di Tengah Tantangan Air

Fenomena ini tidak hanya menjadi hiburan sesaat. Bagi warga, kembalinya kampung yang tenggelam adalah pengingat pahit-getirnya pembangunan. Sali, mantan kepala dusun di Cimarga yang kini berusia 62 tahun, mengaku bisa kembali menunjuk titik rumahnya dahulu berdiri.

"Di sebelah utara pohon asam itu dulu rumah saya. Sekarang tinggal pondasi. Tiap kali air surut, saya datang seperti bertemu masa lalu,"
ucapnya. Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Sumber Daya Air mengimbau masyarakat tidak memasuki area yang terbuka karena struktur bangunan yang rapuh dan potensi tanah labil. Petugas juga memasang rambu peringatan di beberapa titik.

Dampak pada Pasokan Air Baku dan Langkah Antisipasi

Penurunan volume air juga berdampak pada operasional distribusi air baku ke wilayah Jakarta dan Tangerang. Perumda Air Minum Tirta Benteng mulai menerapkan penggiliran pasokan untuk menjangkau seluruh pelanggan. Sementara itu, Balai Besar Wilayah Sungai menyatakan akan segera mengoperasikan pompa tambahan dari aliran Sungai Ciujung jika elevasi air terus turun. Hingga saat ini, ketinggian air di Bendungan Karian tercatat 68,3 meter di atas permukaan laut atau turun 7,5 meter dari batas normal operasional.

Kilas Balik yang Menyatukan Generasi

Bagi warga yang lebih muda, momen ini menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan langsung jejak kampung yang hanya mereka dengar dalam dongeng orang tua. Sementara para sesepuh menggunakan peristiwa ini untuk merajut kembali ikatan komunitas yang sempat terpisah jarak. Odon menuturkan bahwa beberapa warga bahkan membawa anak-cucu sambil membawa foto lama agar bisa membandingkan rumah dalam gambar dengan sisa-sisa yang muncul. Di tengah cuaca terik, kerinduan kolektif itu terasa lebih nyata ketimbang air yang menyusut. Pemerintah desa setempat pun berencana menggelar salat berjamaah di reruntuhan masjid yang sempat muncul, sebagai wujud syukur dan doa bersama bagi kampung yang meski telah tenggelam, tak pernah benar-benar hilang dari hati warganya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User