Kampung Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Pertama Kali dalam Tiga Tahun

LEBAK — Reruntuhan bangunan dan sisa permukiman yang ditenggelamkan oleh genangan Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, untuk pertama kalinya muncul kembali ke permukaan sejak proses penggena...

Kampung Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Pertama Kali dalam Tiga Tahun

LEBAK — Reruntuhan bangunan dan sisa permukiman yang ditenggelamkan oleh genangan Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, untuk pertama kalinya muncul kembali ke permukaan sejak proses penggenangan dimulai pada 2023. Kemunculan ini dipicu oleh penyusutan debit air waduk secara signifikan selama puncak musim kemarau tahun ini.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Kamis (24/7), fondasi rumah-rumah, ruas jalan kampung yang retak, serta batang-batang pohon kering terlihat jelas di sejumlah titik yang sebelumnya sepenuhnya terendam air. Masyarakat sekitar yang sehari-hari menggantungkan hidup dari bendungan multifungsi itu menyaksikan langsung pemandangan yang telah tiga tahun hilang dari pandangan.

Penurunan Debit Air Akibat Kemarau Panjang

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Banten, Raden Agus Supriyatna, menyatakan bahwa volume air Bendungan Karian saat ini menyusut hingga 47 persen dari kapasitas tampung normal sebesar 314 juta meter kubik. Angka tersebut merupakan rekor terendah sejak bendungan mulai dioperasikan secara penuh pada Maret 2023.

“Kami mencatat elevasi muka air waduk turun hingga 12,8 meter di bawah ambang batas operasional normal. Kondisi ini merupakan dampak langsung dari rendahnya intensitas curah hujan di daerah tangkapan air bagian hulu Sungai Ciujung selama empat bulan terakhir,” ujar Agus melalui keterangan tertulis yang diterima di Rangkasbitung.

Bendungan Karian yang dibangun dengan biaya mencapai Rp2,7 triliun itu membendung aliran Sungai Ciujung dan berfungsi sebagai penyedia air baku untuk wilayah Jakarta, Tangerang, serta Kabupaten Lebak sendiri. Di samping itu, bendungan juga memiliki fungsi irigasi, pengendali banjir, dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Data dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) menunjukkan bahwa intake air ke waduk selama Juni-Juli 2026 hanya mencapai 0,8 meter kubik per detik, jauh di bawah rata-rata historis sebesar 4,2 meter kubik per detik pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Debit air yang keluar untuk kebutuhan air baku tetap dijaga pada level minimal guna mencegah penurunan lebih lanjut.

Warga Melihat Kembali Jejak Kampung Halaman

Kemunculan kembali bekas permukiman yang tenggelam itu mengundang perhatian warga dari desa-desa sekitar bendungan. Salah seorang warga Desa Jayasari yang enggan disebutkan namanya mengaku masih mengenali fondasi rumah keluarganya yang dulu berdiri di Dusun Cikaret sebelum seluruh area digenangi air.

“Kemarin saya ke tepian waduk dan melihat langsung bekas sumur dan tiang rumah panggung kami. Tiga tahun lalu kami harus pindah ke tempat relokasi, dan baru kali ini saya bisa melihat lagi tanah tempat saya lahir,” ujarnya di tepi Bendungan Karian.

Ratusan kepala keluarga dari sedikitnya tiga dusun—Cikaret, Cibodas, dan Cikembang—harus direlokasi untuk memberi jalan bagi proyek strategis nasional tersebut. Pemerintah pada saat itu menyediakan lahan pengganti dan rumah sederhana di kawasan Kecamatan Cipanas. Sebagian warga menerima, sementara sebagian lainnya memilih pindah mandiri menggunakan uang ganti rugi.

Camat Cipanas, Diana Lestari, mengonfirmasi bahwa bekas permukiman tersebut memang menjadi bagian dari desa yang ditenggelamkan. “Ini adalah fenomena alam yang tidak bisa dihindari. Kami sudah mengingatkan warga agar tidak mendekati area yang baru muncul karena struktur bangunannya sudah tidak stabil dan bisa membahayakan,” katanya.

Petugas Tingkatkan Pengawasan dan Imbau Masyarakat

Unit Pengelola Bendungan Karian yang berada di bawah pengawasan BBWSCC telah menerjunkan tim untuk memantau kondisi waduk serta area reruntuhan yang muncul. Kepala Satuan Kerja BBWSCC, Hendro Wibowo, menegaskan bahwa meskipun pemandangan langka ini menarik perhatian, keselamatan dan keamanan infrastruktur tetap menjadi prioritas utama.

“Kami meningkatkan patroli di sekitar zona inti bendungan. Kami juga mengimbau masyarakat untuk tidak memasuki bekas reruntuhan, karena banyak material tajam dan potensi longsor lokal di dasar waduk yang mengering,” jelas Hendro dalam keterangan resmi di lokasi.

Ia menambahkan bahwa pihaknya tengah mengkaji kemungkinan pemanfaatan momen rendahnya debit air untuk melakukan pemeliharaan dan inspeksi dasar waduk. Beberapa bagian intake dan terowongan yang biasanya sulit diakses kini dapat diperiksa secara langsung oleh tim teknis.

Pengamat tata kelola air dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Dr. Ratna Dewi, menyebut munculnya kembali kampung tenggelam sebagai indikator nyata tekanan kekeringan yang melanda wilayah Banten bagian selatan. “Ini bukan sekadar pemandangan unik, melainkan alarm serius bagi ketahanan air baku wilayah Jabodetabek. Pengelola harus segera mempersiapkan skenario operasional cadangan jika musim hujan mundur hingga November nanti,” ujarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah merilis prakiraan bahwa puncak musim kemarau di Banten akan berlangsung hingga akhir Agustus 2026, dengan kemungkinan perpanjangan periode kering akibat fenomena El Niño moderat. Kondisi ini diperkirakan akan terus menekan kapasitas sejumlah waduk di Pulau Jawa, termasuk Bendungan Karian.

Sementara itu, masyarakat berharap turunnya hujan dapat segera mengembalikan fungsi normal bendungan. “Kami cemas kalau air terus surut, pasokan ke sawah juga berkurang. Semoga musim hujan datang tepat waktu,” kata seorang petani di Desa Ciladaeun.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Pekerjaan Umum mengenai rencana operasi modifikasi cuaca untuk wilayah Banten, meskipun sejumlah bendungan lain di Pulau Jawa telah menjadi sasaran teknologi tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User