JAKARTA — Lemhannas Perkuat Kerjasama Multilateral dan Ketahanan Nasional di Tengah Gejolak Global
JAKARTA, Apaberita — Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerjasama multilateral dan menjaga ketahanan nasiona
Ruang utama Gedung Lemhannas dipenuhi para pemangku kepentingan dari kementerian, lembaga negara, perwakilan asing, dan akademisi. Sorot lampu menerpa panggung sederhana, tempat para pembicara menyampaikan paparan bertema "Ketahanan Nasional di Era Gejolak Global". Gubernur Lemhannas, dalam pidato pembukaannya, menggarisbawahi perlunya transformasi strategi dari pendekatan tradisional menuju networked resilience yang merangkul aktor internasional.
Pergeseran Paradigma: Dari Isolasi ke Kemitraan Strategis
Lemhannas membeberkan data bahwa 72% negara anggota ASEAN kini menghadapi peningkatan risiko keamanan non-tradisional, termasuk bencana iklim, serangan siber, dan gangguan rantai pasok. Kondisi ini menuntut Indonesia untuk tidak hanya mengandalkan kekuatan internal, tetapi juga merajut jaring pengaman multilateral melalui diplomasi pertahanan dan ekonomi.
Dalam dokumen kajian yang dibagikan kepada peserta, disebutkan tiga pilar utama jurus Lemhannas: pengarusutamaan ketahanan nasional ke dalam kebijakan luar negeri, percepatan digitalisasi sistem logistik pertahanan, dan pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap krisis global. "Kami tidak bisa lagi bekerja dalam silo. Kedaulatan nasional kini dipengaruhi oleh arus global yang sulit diprediksi," ujar Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas saat ditemui usai acara.
Kerjasama Multilateral sebagai Tameng Ekonomi
Poin sentral lainnya adalah peningkatan kerjasama multilateral di bidang ekonomi dan keuangan. Lemhannas menyoroti pentingnya aliansi non-blok dalam kerangka G20, KTT Asia Afrika, dan dialog ekonomi Pasifik guna menangkal instabilitas akibat perang dagang dan sanksi sepihak. Sebuah studi yang dipaparkan menunjukkan bahwa setiap 1% pelemahan kerjasama multilateral mengurangi potensi pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 0,4% akibat disrupsi perdagangan.
"Kami sedang menyusun rekomendasi konkret agar Indonesia bisa menjadi jembatan, bukan corong satu kutub kekuatan. Ketahanan sejati lahir dari kemampuan berdialog dan membangun konsensus," tegas Deputi bidang Manajemen Strategi Lemhannas dalam wawancara eksklusif dengan Apaberita.
Pernyataan itu menegaskan arah politik luar negeri bebas aktif yang kian diuji oleh rivalitas Amerika Serikat dan Cina. Lemhannas mengusulkan pembentukan Dewan Mitra Ketahanan Regional yang melibatkan negara-negara tetangga untuk saling mendukung logistik saat krisis melanda satu kawasan.
Menyiapkan Generasi Tangguh: Pendidikan dan Teknologi
Selain kerjasama internasional, Lemhannas menekankan pentingnya pembenahan internal melalui pendidikan karakter dan penguasaan teknologi. Program unggulan Kader Bela Negara Digital yang diluncurkan tahun lalu kini menjangkau 500.000 pemuda di 34 provinsi. Kurikulumnya memadukan pelatihan siber, literasi data, dan simulasi manajemen krisis.
Salah seorang peserta program, Dinda Ayu (22), membagikan pengalamannya: "Rasanya seperti dibangunkan dari tidur. Saya baru sadar bahwa ketahanan bukan hanya urusan militer, tapi juga kemampuan saya menjaga data pribadi dan mengenali hoaks." Kesaksian itu merefleksikan perubahan definisi ketahanan di era disrupsi informasi.
Tantangan Implementasi dan Harapan
Meski demikian, sejumlah pengamat mengkritisi lambannya sinergi antarinstansi. Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang hadir dalam forum itu mempertanyakan sejauh mana rekomendasi Lemhannas akan diadopsi oleh kementerian teknis. "Gap antara perencanaan elit dan eksekusi di lapangan masih lebar," katanya dalam diskusi panel.
Gubernur Lemhannas mengakui tantangan tersebut, namun optimistis. "Kami sedang merancang mekanisme insentif dan sanksi agar setiap program turunan bisa diukur capaiannya secara transparan," pungkasnya. Forum ini dijadwalkan menghasilkan memorandum aksi yang akan disampaikan langsung kepada Presiden pada akhir bulan.
Dengan rangkaian strategi tersebut, Lemhannas berharap Indonesia mampu menjadi bangsa yang tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh di tengah turbulensi global.
Comments (0)