Jakarta — Indonesia Luncurkan Prototipe Vaksin DBD Berbasis mRNA Hari Ini
JAKARTA — Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan prototipe vaksin demam berdarah dengue (DBD) berbasis teknologi messenger RNA (mRNA) di Jakarta, Ra
JAKARTA — Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan prototipe vaksin demam berdarah dengue (DBD) berbasis teknologi messenger RNA (mRNA) di Jakarta, Rabu (8/7/2026). Pengembangan vaksin ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan sejumlah universitas terkemuka di dalam negeri.
Peluncuran prototipe ini menandai lompatan signifikan dalam upaya penanggulangan penyakit endemik yang setiap tahunnya menjangkiti puluhan ribu warga Indonesia. Teknologi mRNA yang diadopsi merupakan platform serupa yang sukses digunakan dalam pengembangan vaksin COVID-19, memungkinkan respons imun yang lebih presisi dan waktu produksi yang lebih singkat dibandingkan metode konvensional.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam sambutannya menekankan bahwa penguasaan teknologi mRNA oleh peneliti Indonesia menjadi prioritas nasional.
"Ini bukan sekadar prototipe, tapi bukti bahwa Indonesia mampu mengembangkan platform vaksin mutakhir secara mandiri. Kami menargetkan vaksin ini masuk uji klinis tahap satu pada kuartal pertama 2027,"ujar Budi.
Kolaborasi Multisektor
Proyek ambisius ini melibatkan konsorsium yang terdiri dari Kemenkes, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada. Riset telah berlangsung selama 18 bulan dengan pendanaan awal sebesar Rp 275 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025–2026.
Adapun poin-poin kunci dari pengumuman hari ini:
- Platform: Vaksin mRNA yang dikemas dalam lipid nanopartikel (LNP), menargetkan protein E virus dengue.
- Target: Memberikan perlindungan terhadap empat serotipe virus dengue (DENV-1 hingga DENV-4).
- Status: Prototipe telah lolos uji pra-klinis pada hewan model, menunjukkan imunogenisitas dan profil keamanan yang menjanjikan.
- Kapasitas: Fasilitas produksi Bio Farma di Bandung disiapkan untuk scale-up manufaktur dengan kapasitas 50 juta dosis per tahun.
Urgensi Vaksin Nasional
Data Kemenkes mencatat, sepanjang tahun 2025 terdapat lebih dari 95.000 kasus DBD dengan angka kematian mencapai 650 jiwa. Beban penyakit ini terus meningkat seiring perubahan iklim yang memperluas habitat vektor nyamuk Aedes aegypti. Kehadiran vaksin produksi dalam negeri diharapkan dapat memutus ketergantungan pada produk impor yang selama ini memiliki ketersediaan terbatas dan harga tinggi.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny K. Lukito, menyatakan pihaknya akan mendampingi penuh proses pengembangan.
"Kami menerapkan jalur rolling submission agar setiap tahap uji dapat dievaluasi secara paralel, tanpa mengorbankan standar keamanan, khasiat, dan mutu,"tegasnya.
Prototipe vaksin mRNA DBD ini merupakan komponen ketiga dalam Peta Jalan Kemandirian Vaksin Nasional 2024–2035, menyusul vaksin Merah Putih untuk COVID-19 dan vaksin Tuberkulosis rekombinan yang kini memasuki uji klinis fase 2. Keberhasilan proyek ini akan memposisikan Indonesia sebagai salah satu negara pertama yang memiliki kapabilitas penuh riset hingga produksi vaksin mRNA untuk penyakit tropis.
Comments (0)