Isi Surat Wasiat Kepala SPPG yang Tewas Gantung Diri di Bandung

BANDUNG – Seorang pejabat daerah ditemukan tewas secara tragis di area parkir pusat perbelanjaan di Kota Bandung pada Selasa pagi (15/10). Korban diketahui bernama Ahmad Rizal Fauzi (47), yang menja...

Jul 15, 2026 - 00:19
0 0
Isi Surat Wasiat Kepala SPPG yang Tewas Gantung Diri di Bandung

BANDUNG – Seorang pejabat daerah ditemukan tewas secara tragis di area parkir pusat perbelanjaan di Kota Bandung pada Selasa pagi (15/10). Korban diketahui bernama Ahmad Rizal Fauzi (47), yang menjabat sebagai Kepala Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) di lingkungan Pemerintah Kota Bandung. Jasad korban pertama kali ditemukan dalam kondisi tergantung di salah satu sudut parkiran mal oleh petugas kebersihan sekitar pukul 06.15 WIB.

Kepolisian Resor Kota Besar Bandung langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengamankan sejumlah barang bukti. Di samping jenazah, petugas menemukan sebuah amplop cokelat berisi surat tulisan tangan yang diduga kuat merupakan pesan terakhir korban. Temuan ini langsung menjadi fokus utama penyelidikan untuk mengungkap motif di balik peristiwa yang menghebohkan jajaran birokrasi setempat.

Kronologi Penemuan Jasad Anggota SPPG

Menurut keterangan resmi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung, AKBP Maruli Pardede, seorang petugas kebersihan mal yang enggan disebutkan namanya menemukan sesosok tubuh tergantung di tiang beton area parkir basement 2. Saksi semula mengira benda tersebut adalah properti dekorasi, namun setelah mendekat barulah ia menyadari bahwa itu adalah tubuh manusia.

“Saksi langsung berlari meminta pertolongan kepada rekan dan petugas keamanan mal. Setelah dipastikan korban tidak bernyawa, pihak manajemen mal segera menghubungi kami,” ujar AKBP Maruli dalam konferensi pers di Mapolrestabes Bandung. Tim Inafis yang tiba di lokasi sekitar pukul 07.00 WIB langsung melakukan identifikasi awal. Identitas korban diketahui dari kartu tanda pengenal yang masih tersimpan di dompetnya.

Korban yang merupakan warga Jalan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, diduga sudah meninggal dunia setidaknya tiga hingga empat jam sebelum ditemukan, berdasarkan pemeriksaan rigor mortis. Pihak rumah sakit akan melakukan autopsi atas permintaan keluarga, namun polisi menyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan selain jeratan di leher.

Isi Surat Wasiat dan Titipan Pribadi

Surat wasiat yang ditinggalkan korban menjadi sorotan. Berdasarkan salinan yang diperoleh, surat sepanjang dua halaman itu berisi permohonan maaf kepada keluarga, titipan urusan pribadi, serta ungkapan beban psikologis yang dirasakannya. Dalam surat tersebut, korban menulis, “Saya sudah tidak mampu menahan semua ini. Maafkan saya yang tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Tolong jaga ibu dan anak-anak.”

Korban juga menyinggung soal tekanan pekerjaan yang kian membebaninya, meskipun tidak menyebut pihak atau kebijakan tertentu secara spesifik. Pada bagian lain, ia menuliskan rincian utang piutang sederhana dengan rekan kantor dan instruksi pembagian harta waris untuk istri dan kedua anaknya yang masih menempuh pendidikan. “Pokoknya, rumah di Cikutra untuk istri sah dan tabungan di bank untuk biaya kuliah anak,” demikian petikan surat tersebut.

AKBP Maruli menegaskan, pihaknya masih mendalami apakah surat ini murni ditulis korban tanpa tekanan dari pihak manapun. “Langkah awal kami adalah memeriksa keaslian tulisan tangan melalui grafolog dan meminta keterangan dari keluarga serta rekan kerjanya,” ungkapnya. Kepolisian juga mengamankan telepon genggam korban untuk menelusuri riwayat komunikasi beberapa hari terakhir.

Tanggapan Pemerintah Daerah dan Rekan Kerja

Kabar duka ini sontak mengejutkan jajaran Dinas Kesehatan dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandung yang selama ini bermitra langsung dengan satuan kerja korban. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr. Rina Mulyani, menyampaikan belasungkawa mendalam. “Beliau adalah sosok pekerja keras dan disiplin. Kami tidak menyangka ada beban seberat ini. Kami akan mengevaluasi kembali sistem kesehatan mental di lingkungan kerja,” kata Rina saat ditemui di Balai Kota.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Bandung menginstruksikan agar dilakukan audit internal secara tertutup untuk memetakan potensi tekanan birokrasi yang mungkin dialami oleh pejabat struktural. Pemerintah daerah juga berjanji akan menanggung seluruh biaya pemakaman dan memberikan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Rekan satu ruang kerja korban, yang meminta namanya tidak dipublikasikan, menuturkan bahwa akhir-akhir ini almarhum sering terlihat murung dan kerap menghindari pertemuan rutin. “Biasanya beliau paling semangat saat rapat. Tapi sebulan terakhir ini sering ijin tidak masuk. Kami pikir masalah keluarga biasa,” tuturnya.

Imbauan Kesehatan Mental bagi Aparatur Negara

Peristiwa ini memantik kembali diskusi mengenai kesehatan mental di kalangan pegawai negeri. Psikolog dari Universitas Padjadjaran, Dr. Hana Sofianti, M.Psi., mengingatkan agar instansi pemerintah menyediakan layanan konseling berkala bagi aparatur sipil negara. “Tekanan struktural, tuntutan kinerja, dan isolasi sosial kerap menjadi pemicu utama depresi pada pejabat publik. Deteksi dini sangat krusial,” jelas Dr. Hana.

Ia menambahkan, tanda-tanda seperti menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan pola tidur, dan penurunan produktivitas sudah harus diwaspadai oleh atasan langsung. Asosiasi Kesehatan Jiwa Indonesia turut mendorong percepatan penerapan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tentang pedoman kesehatan mental di tempat kerja.

Kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi mengenai motif di balik kematian korban sebelum hasil penyelidikan final diumumkan. “Kami sedang bekerja secara profesional. Silakan awasi, namun jangan viralkan narasi yang dapat memperkeruh suasana duka bagi keluarga,” tutup AKBP Maruli. Saat ini, jenazah korban telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum Cikutra.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User