IRGC Klaim Serangan Lumpuhkan Radar di Oman, Hantam Pangkalan AS

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim sukses melancarkan serangan baru yang menargetkan infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Dalam operasi yang digelar pada Rabu dini har...

Jul 13, 2026 - 21:43
0 0

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim sukses melancarkan serangan baru yang menargetkan infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Dalam operasi yang digelar pada Rabu dini hari (12/6), unit kedirgantaraan IRGC disebut berhasil melumpuhkan sistem radar pertahanan di Oman sekaligus menghantam langsung fasilitas logistik militer AS di selatan Manama, Bahrain. Pernyataan resmi IRGC menyebutkan bahwa serangan ini merupakan gelombang baru respons terhadap keberadaan kekuatan asing yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.

Komandan Operasi Kedirgantaraan IRGC, Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, menyatakan bahwa misi tersebut dijalankan dengan presisi tinggi menggunakan kombinasi drone serang dan rudal jelajah jarak jauh. "Kami berhasil menembus sistem pertahanan musuh dan menghancurkan radar pengawas utama di wilayah Oman yang selama ini digunakan untuk memantau wilayah udara Iran. Secara bersamaan, rudal kami menghantam langsung gudang logistik pasukan Amerika di selatan Manama," tegasnya dalam konferensi pers di Teheran. IRGC merilis rekaman pendek yang menunjukkan kilatan ledakan di dua lokasi terpisah, meskipun belum ada verifikasi independen atas klaim tersebut.

Rincian Target dan Metode Serangan

Serangan ini menargetkan dua titik strategis yang menjadi tulang punggung rantai logistik dan pengawasan militer AS di Teluk. Lokasi pertama adalah stasiun radar di pesisir utara Oman yang terhubung langsung dengan sistem pertahanan udara terintegrasi Amerika. Radar tersebut diduga berfungsi sebagai mata bagi kapal perang dan jet tempur AS yang berpatroli di Selat Hormuz. IRGC menegaskan bahwa radar itu kini tidak berfungsi total setelah dihantam oleh tiga drone kamikaze jenis Shahed-136. Sementara itu, fasilitas logistik militer AS di selatan Manama—yang berlokasi di sekitar Pangkalan Dukungan Angkatan Laut AS Bahrain—dilaporkan menerima serangan rudal balistik jarak jauh yang menimbulkan kerusakan signifikan pada gudang perbekalan.

Letkol Hossein Salami, juru bicara operasi tersebut, menolak menyebut korban jiwa, namun mengklaim bahwa "kerusakan yang ditimbulkan sangat serius dan akan terlihat efeknya dalam beberapa hari ke depan." Pihak berwenang Oman dan komando militer AS di Bahrain belum memberikan tanggapan resmi hingga berita ini diturunkan, namun citra satelit yang dirilis oleh perusahaan intelijen sumber terbuka menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pergerakan kendaraan darurat di sekitar Manama.

Eskalasi Baru di Tengah Ketegangan Kawasan

Serangan ini menandai eskalasi baru dalam konfrontasi tak langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Keberadaan Pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain—yang menampung Armada Kelima dan merupakan pusat komando operasi maritim di kawasan—menjadikannya target simbolis bernilai tinggi. IRGC telah berulang kali memperingatkan bahwa keberadaan pasukan AS di Teluk Persia dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional Iran. Operasi kali ini juga dinilai sebagai pesan bahwa Iran memiliki kemampuan menjangkau pangkalan-pangkalan AS di seberang perairan Teluk.

Pekan lalu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam pidatonya kembali menegaskan bahwa "setiap dukungan terhadap rezim Zionis akan dibalas dengan kekuatan penuh," merujuk pada dukungan Washington terhadap Israel dalam perang Gaza. Analis politik dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Widjajanto, melihat serangan ini sebagai respons terukur yang dihitung dengan matang. "Teheran tidak ingin memicu perang terbuka, namun akan terus menggunakan proxy dan operasi terselubung untuk memukul infrastruktur Amerika tanpa melintasi ambang batas eskalasi penuh," ujarnya dalam diskusi daring.

Respons Internasional dan Peringatan Indonesia

Kementerian Luar Negeri Indonesia melalui juru bicaranya, Lalu Muhamad Iqbal, mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan menghindari segala tindakan yang dapat memperkeruh situasi di Timur Tengah. "Indonesia terus memantau perkembangan dengan cermat dan mendesak dilakukannya penyelidikan independen atas klaim serangan tersebut," ujarnya. Sementara itu, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar rapat darurat pada Jumat mendatang menyusul laporan awal dari misi pemantau di kawasan.

Di sisi lain, sekutu utama AS di kawasan, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi. Keheningan ini diinterpretasikan oleh sejumlah pengamat sebagai bentuk kekhawatiran akan terseret ke dalam konflik yang lebih besar. Dr. Dina Sulaeman, peneliti dari Pusat Studi Timur Tengah Universitas Padjadjaran, menilai bahwa serangan ini berpotensi mengganggu arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz jika AS memutuskan untuk merespons secara militer. "Setiap bara kecil di Teluk berisiko membakar harga energi global dan stabilitas ekonomi yang baru pulih dari pandemi," katanya.

Prospek dan Ancaman Berkelanjutan

IRGC secara eksplisit menyatakan bahwa serangan ini bukan yang terakhir. Dalam pernyataan tertulisnya, pasukan elite tersebut mengancam akan memperluas jangkauan operasi ke pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk lainnya selama kehadiran militer asing masih dianggap melanggar kedaulatan regional. "Ini hanya awal dari gelombang baru. Kami akan melanjutkan hingga tidak ada lagi penjajah di tanah air kami," demikian bunyi pernyataan itu.

Di Washington, belum ada pernyataan resmi dari Pentagon atau Gedung Putih. Namun seorang pejabat senior pertahanan AS yang enggan disebutkan namanya membantah adanya kerusakan pada fasilitas utama, seraya menyatakan bahwa "kami terus memverifikasi klaim tersebut dan semua aset kami dalam kondisi aman." Meskipun demikian, ketegangan yang terus memanas ini menempatkan Timur Tengah kembali pada titik kritis yang sewaktu-waktu dapat meledak menjadi konfrontasi militer skala penuh yang melibatkan aktor-aktor regional dan global.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User