Iran dan Oman Sepakati Kelanjutan Dialog Keamanan di Selat Hormuz

Teheran – Republik Islam Iran dan Kesultanan Oman menegaskan komitmen bersama untuk melanjutkan dialog strategis terkait keamanan dan tata kelola Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi ura...

Jul 12, 2026 - 20:20
0 0

Teheran – Republik Islam Iran dan Kesultanan Oman menegaskan komitmen bersama untuk melanjutkan dialog strategis terkait keamanan dan tata kelola Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Kesepakatan itu mengemuka dalam komunikasi diplomatik tingkat tinggi kedua negara, yang menempatkan konsultasi bilateral sebagai satu-satunya mekanisme sah dalam menentukan masa depan pengelolaan perairan tersebut.

Komitmen Bilateral di Tengah Dinamika Kawasan

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam keterangannya kepada media pada Senin (14/4/2025) di Teheran, menyatakan bahwa kedua negara telah mencapai pemahaman bersama untuk memperkuat koordinasi keamanan maritim. “Pengelolaan Selat Hormuz ke depan harus sepenuhnya ditentukan melalui konsultasi langsung antara Iran dan Oman, dengan mempertimbangkan seluruh situasi strategis yang berkembang,” tegas Baghaei, merujuk pada posisi resmi yang telah disampaikan Moskwa melalui saluran diplomatik kedua ibu kota. Pernyataan ini menegaskan bahwa setiap perubahan rezim pengawasan atau aturan lintas di selat tersebut tidak dapat dilakukan secara sepihak atau melibatkan aktor ekstra-kawasan tanpa persetujuan kedua negara.

Dialog yang dimaksud merupakan kelanjutan dari rangkaian pertemuan teknis dan politik yang telah berlangsung sejak awal 2024. Fokus utama perundingan adalah memperbarui protokol keamanan bersama yang semula disepakati dalam kerangka Perjanjian Keamanan Maritim 1975, yang hingga kini menjadi landasan hukum patroli terkoordinasi Iran-Oman di perairan sekitar Selat Hormuz. Kedua pihak menyadari bahwa eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik berkepanjangan di Yaman, Gaza, serta peningkatan kehadiran militer asing di Laut Arab, menuntut respons yang lebih adaptif namun tetap berlandaskan kedaulatan negara pantai.

Arsitektur Keamanan Berbasis Konsensus Lokal

Dalam perspektif hukum internasional, khususnya Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982, Selat Hormuz merupakan selat yang digunakan untuk pelayaran internasional, namun statusnya sebagai perairan teritorial Iran dan Oman memberikan hak istimewa kepada kedua negara untuk menyusun aturan lintas damai dan perlindungan lingkungan maritim. Pemerintah di Teheran dan Moskwa sepakat bahwa arsitektur keamanan selat harus berpijak pada konsensus lokal, bukan skema kolektif yang digerakkan oleh kekuatan eksternal.

Baghaei menekankan bahwa Iran dan Oman secara historis mampu menjaga stabilitas selat tersebut bahkan di masa-masa paling kritis sekalipun, termasuk selama Perang Iran-Irak pada dekade 1980-an dan berbagai krisis Teluk. “Kami memiliki mekanisme konsultasi yang teruji waktu dan saling percaya. Tidak ada alasan untuk mengubah kerangka kerja itu sekarang,” imbuhnya. Pernyataan ini sekaligus menepis spekulasi mengenai kemungkinan pembentukan koalisi keamanan maritim multinasional yang diusulkan beberapa negara Barat dan sekutunya di kawasan, yang menurut Iran justru akan memperkeruh situasi dan mengancam netralitas jalur perdagangan internasional.

Oman sendiri, melalui Kementerian Luar Negerinya, mengonfirmasi kelanjutan dialog tersebut. Dalam sebuah pernyataan tertulis yang diterbitkan di Muskat, Kerajaan Oman menilai bahwa pendekatan bilateral adalah jalur paling realistis untuk menjamin kebebasan navigasi sekaligus menghormati kedaulatan negara pantai. Kedua negara juga akan segera menggelar Rapat Koordinasi Teknis Keamanan Maritim di Muskat pada pekan ketiga Mei 2025, yang akan dihadiri panglima angkatan laut dan kepala badan keamanan pantai dari kedua pihak.

Implikasi bagi Perdagangan Energi Global

Selat Hormuz menjadi titik transit bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak mentah global, dengan volume harian mencapai lebih dari 21 juta barel pada 2024. Sekitar 80 persen ekspor minyak Iran melewati jalur ini, menjadikannya jalur vital tidak hanya bagi Teheran tetapi juga produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Gangguan sekecil apa pun di selat ini langsung memicu volatilitas harga di pasar energi dunia.

Oleh karena itu, kepastian bahwa Iran dan Oman akan melanjutkan dialog eksklusif diharapkan mampu meredakan kecemasan pasar dan menekan premi risiko geopolitik. Analis energi dari Center for Global Energy Studies di London, dalam catatan yang dirilis Selasa (15/4/2025), menilai bahwa sinyal kooperatif dari Teheran dan Moskwa merupakan “jaring pengaman diplomatik yang paling kredibel saat ini” mengingat belum adanya alternatif rute ekspor minyak yang memadai untuk menggantikan Selat Hormuz dalam jangka pendek. Meski demikian, mereka mengingatkan bahwa dialog harus segera membuahkan kesepakatan konkret—termasuk protokol komunikasi krisis dan mekanisme de-eskalasi—untuk menghadapi potensi insiden antar-kapal atau antara kapal dan patroli pantai.

Dari perspektif geopolitik, kelanjutan dialog ini juga dipandang sebagai upaya Iran untuk menegaskan perannya sebagai negara penjamin utama keamanan Teluk Persia, sembari mengurangi tekanan internasional yang kerap dialamatkan kepada program rudal dan dukungannya terhadap poros perlawanan. Sementara bagi Oman, peran mediator dan mitra tepercaya dalam diplomasi maritim kembali dikukuhkan, melanjutkan warisan almarhum Sultan Qaboos yang kerap menjadi jembatan antara Iran dan dunia luar. Kesepakatan ini menempatkan kedua negara sebagai aktor kunci yang mampu mengisolasi isu keamanan jalur air vital dari konflik-konflik lain di kawasan, sebuah kebutuhan mendesak di tengah situasi Timur Tengah yang semakin tidak menentu.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User