Singapura — Profesor keuangan dari NUS Business School memperingatkan agar investor tidak menyerahkan keputusan penempatan dana sepenuhnya kepada kecerdasan buatan (AI), meskipun teknologi tersebut kini mampu menghasilkan rekomendasi saham dalam hitungan detik. Peringatan itu disampaikan dalam diskusi bersama media di The Ridge, NUS Business School, Singapura, pada Rabu (8/10), dan menekankan bahwa verifikasi mandiri tetap menjadi kewajiban setiap investor karena yang dipertaruhkan adalah dana pribadi, bukan milik sistem algoritma.
Rekomendasi Saham Jadi Permintaan Paling Populer
Johan Sulaeman, Profesor di Bidang Keuangan NUS Business School, menyatakan bahwa pertanyaan mengenai saham mana yang layak dibeli merupakan permintaan paling sering diajukan pengguna ketika berinteraksi dengan layanan AI. Menurutnya, fenomena tersebut mencerminkan besarnya minat publik memanfaatkan teknologi untuk mempercepat proses analisis, namun justru berpotensi menimbulkan ketergantungan yang tidak sehat.
Johan menegaskan bahwa mesin mampu menyusun jawaban secara cepat dan terstruktur, tetapi keakuratan setiap informasi beserta logika di baliknya wajib diperiksa kembali oleh pengguna. Ia menambahkan, keputusan akhir atas pembelian maupun pelepasan aset tidak dapat dialihkan begitu saja, sebab tanggung jawab finansial melekat pada pemilik dana. Dalam pandangannya, setiap investor berkewajiban melakukan uji tuntas secara mandiri guna memastikan seluruh respons yang diterima benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
“Menurut saya tidak boleh sepenuhnya percaya kepada AI. Salah satu pertanyaan paling populer yang diajukan kepada AI adalah saham apa yang sebaiknya dibeli,” kata Johan dalam diskusi dengan media Jakarta di The Ridge NUS Business School, Singapura, Rabu (8/10).
Johan menambahkan, prinsip tersebut berlaku karena setiap rupiah atau dolar yang ditempatkan merupakan tanggung jawab pribadi. Ia menegaskan bahwa uang yang dipertaruhkan bukan milik sistem, sehingga pemeriksaan menyeluruh atas setiap klaim dan penalaran AI menjadi langkah yang tidak bisa ditawar. Dengan demikian, AI berperan sebagai alat bantu analisis, bukan pengambil keputusan.
“Sebagai investor, ini uang Anda. Bukan uang AI. Jadi Anda perlu melakukan due diligence sendiri dan memeriksa apakah semua respons dari AI benar-benar akurat,” ujarnya.
Halusinasi Bukan Satu-satunya Risiko
Dalam paparannya, Johan menilai persoalan pemanfaatan AI dalam investasi tidak semata-mata terkait dengan halusinasi, yaitu kondisi ketika sistem menghasilkan data keliru seolah-olah benar. Ia mencatat bahwa sebagian besar model generatif saat ini sudah jarang mengalami gangguan tersebut, sehingga risiko kepercayaan berlebihan justru datang dari sisi yang berlawanan: jawaban yang terdengar meyakinkan namun tidak diverifikasi.
Kemampuan mesin menyajikan informasi dengan tingkat akurasi yang makin tinggi, kata Johan, tidak otomatis berarti pengguna boleh menerima seluruh isi jawaban tanpa penyaringan. Ia menegaskan bahwa investor tetap harus menelusuri sumber data, memeriksa rentang waktu informasi, serta menguji konsistensi penalaran yang disajikan sistem sebelum menjadikannya dasar transaksi.
“Menurut saya, AI sekarang semakin jarang berhalusinasi. Beberapa AI masih mengalaminya, tetapi beberapa lainnya sudah tidak terlalu sering. Artinya, Anda mungkin bisa mempercayai sebagian besar informasinya, tetapi Anda tetap harus memeriksa seluruh informasi dan juga logika berpikirnya,” katanya.
Karena itu, Johan mendorong investor memahami proses yang dilalui sistem sampai pada sebuah kesimpulan, bukan hanya membaca hasil akhirnya. Pemahaman atas alur penalaran tersebut, menurutnya, menjadi kunci untuk menilai apakah rekomendasi masih relevan dengan profil risiko, horizon waktu, dan kondisi pasar yang dihadapi.
Memahami Cara AI Sampai pada Kesimpulan
Diskusi di The Ridge turut menghadirkan Sumit Agrawal, Managing Director of Sustainable and Green Finance Institute sekaligus Profesor di Bidang Keuangan NUS Business School. Dalam paparannya, Sumit menekankan pentingnya pengguna membaca kaidah penerapan teknologi dan memahami batasan yang melekat pada setiap platform, terutama terkait sumber data, frekuensi pembaruan, serta kewajiban kerahasiaan informasi pengguna.
Sumit Agrawal juga menyampaikan bahwa literasi digital perlu dibarengi dengan kesadaran atas risiko kebocoran data pribadi. Ia menegaskan bahwa sebagian layanan dapat merekam riwayat percakapan untuk keperluan pengembangan, sehingga investor disarankan tidak memasukkan identitas, nomor rekening, maupun detail portofolio dalam interaksi dengan sistem.
Secara keseluruhan, kedua akademisi sepakat bahwa AI dapat mempercepat proses riset, menyaring data dalam volume besar, serta membantu investor pemula memahami terminologi pasar. Namun keduanya menegaskan bahwa teknologi tersebut belum menggantikan penilaian profesional, apalagi meniadakan tanggung jawab pengguna atas setiap keputusan yang diambil di pasar modal.
Rekomendasi yang dihasilkan, dalam pandangan Johan Sulaeman, sebaiknya dijadikan titik awal analisis, bukan instruksi untuk dieksekusi. Langkah lanjutan berupa pemeriksaan laporan keuangan, pembandingan valuasi, dan penilaian risiko sektoral tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, sejalan dengan prinsip pengelolaan dana yang berhati-hati. Dengan pendekatan itu, manfaat teknologi dapat dioptimalkan tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi.
Comments (0)