Jakarta – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan tegas terkait pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. Organisasi profesi ini menilai konsumsi telur yang tidak dimasak sempurna berisiko menyebabkan infeksi bakteri Salmonella yang dapat memicu gangguan saluran cerna hingga komplikasi serius. Peringatan tersebut menyusul kasus meninggalnya seorang bayi perempuan berusia 28 hari bernama Alena di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, pada Minggu (11/10). Bayi itu diduga diberi telur mentah oleh nenek kandungnya dengan tujuan menurunkan demam.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), dalam keterangan tertulisnya pada Senin (12/10) menyatakan bahwa pemberian makanan kepada bayi harus mempertimbangkan usia, kebutuhan gizi, tahap perkembangan, serta aspek keamanan pangan. Menurutnya, telur mentah atau setengah matang memiliki risiko kontaminasi bakteri Salmonella yang dapat memicu salmonelosis, yakni infeksi saluran cerna yang berpotensi berat pada bayi dan anak kecil.
'IDAI menegaskan, telur mentah atau setengah matang sebaiknya tidak diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena alasan keamanan pangan,' ujar Piprim.
Ia menjelaskan bahwa infeksi Salmonella dapat menimbulkan gejala seperti diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi tersebut dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Oleh karena itu, IDAI mengimbau orang tua untuk tidak memberikan telur yang tidak dimasak sempurna kepada anak.
Kasus Bayi Alena di Surabaya
Kasus yang menimpa Alena menjadi perhatian publik setelah informasi mengenai penyebab kematiannya beredar luas. Bayi berusia 28 hari itu dilaporkan diberi makan telur mentah oleh nenek kandungnya dengan harapan demamnya turun. Namun, kondisi bayi justru memburuk dan akhirnya meninggal dunia saat dirawat di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, pada Minggu (11/10).
IDAI menekankan bahwa tindakan memberikan makanan selain ASI kepada bayi di bawah usia 6 bulan, apalagi yang tidak dimasak dengan benar, sangat berbahaya. Bayi pada usia tersebut belum memiliki sistem pencernaan dan kekebalan tubuh yang matang sehingga rentan terhadap infeksi.
Risiko Salmonella dan Kurangnya Manfaat Gizi
Selain risiko infeksi, IDAI menyoroti bahwa telur mentah atau setengah matang tidak memberikan keuntungan gizi yang sebanding dengan risikonya. Menurut Piprim, telur yang dimasak hingga matang justru merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung berbagai zat gizi penting untuk pertumbuhan anak. Proses pemasakan yang tepat juga meningkatkan keamanan pangan serta daya cerna protein telur.
'Gejala infeksi meliputi diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi serta anak kecil, infeksi bisa lebih berat dan berisiko menimbulkan komplikasi serius,' ucapnya.
IDAI mengingatkan bahwa bakteri Salmonella umumnya terdapat pada telur yang tidak dimasak sempurna, termasuk telur setengah matang, telur mata sapi yang kuningnya masih cair, atau hidangan seperti mayones buatan sendiri dan es krim yang mengandung telur mentah. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi serius, terutama pada kelompok rentan seperti bayi, anak kecil, ibu hamil, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Cara Aman Mengonsumsi Telur
Untuk mencegah infeksi, IDAI menganjurkan orang tua memastikan telur dimasak hingga bagian putih dan kuningnya benar-benar matang. Jika ingin mengonsumsi hidangan berbahan telur yang tidak dimasak sempurna, gunakan telur yang telah dipasteurisasi sesuai standar keamanan pangan.
'Orang tua harus memastikan telur dimasak sampai putih dan kuningnya benar-benar matang. Jika ingin menyajikan hidangan berbahan telur yang tidak dimasak sempurna, gunakan telur pasteurisasi yang memenuhi standar keamanan pangan,' kata Piprim.
Selain itu, orang tua diminta memperhatikan kebersihan dan keamanan pengolahan makanan. Langkah-langkah yang dianjurkan meliputi mencuci tangan sebelum dan setelah menangani telur, mencuci peralatan masak, mencegah kontaminasi silang antara telur mentah dan makanan lain, menyimpan telur dengan benar, serta menghindari penggunaan telur yang retak atau rusak.
IDAI juga menekankan pentingnya edukasi kepada keluarga, termasuk pengasuh dan kerabat, mengenai praktik pemberian makan yang aman bagi bayi dan anak. Kesalahpahaman tentang manfaat telur mentah untuk menurunkan demam, seperti yang terjadi pada kasus Alena, harus diluruskan.
MPASI Dianjurkan Mulai Usia 6 Bulan
Dalam keterangan yang sama, IDAI mengingatkan bahwa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) dianjurkan dimulai pada usia 6 bulan. Sebelum usia tersebut, bayi sebaiknya hanya diberikan ASI eksklusif. Pemberian makanan padat atau cair selain ASI sebelum usia 6 bulan dapat meningkatkan risiko infeksi, alergi, dan gangguan pertumbuhan.
Piprim menegaskan bahwa MPASI harus diberikan dengan memperhatikan prinsip keamanan pangan, kecukupan gizi, dan kesiapan perkembangan bayi. Telur dapat menjadi bagian dari MPASI setelah bayi berusia 6 bulan, asalkan dimasak hingga matang sempurna dan diperkenalkan secara bertahap.
“Pemberian makanan pada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta keamanan pangan,” ujar Piprim.
Kasus Alena menjadi pengingat bagi orang tua dan masyarakat akan pentingnya literasi gizi dan keamanan pangan. IDAI berharap kejadian serupa tidak terulang. Orang tua diimbau untuk selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memberikan makanan tertentu kepada bayi, terutama pada usia di bawah 6 bulan.
Dengan mengikuti anjuran IDAI, risiko infeksi Salmonella dan komplikasi serius pada bayi dan anak dapat diminimalkan. Kebersihan dalam pengolahan makanan dan pemasakan yang tepat merupakan langkah sederhana namun sangat penting untuk melindungi kesehatan anak.
Comments (0)