Hotman Paris Puji Ketegasan Prabowo Tangani Kasus Febrie
Jakarta — Pengacara senior Hotman Paris Hutapea menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas ketegasannya dalam menindaklanjuti pengungkapan kasus korupsi yang menyeret mantan pegawa...
Jakarta — Pengacara senior Hotman Paris Hutapea menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas ketegasannya dalam menindaklanjuti pengungkapan kasus korupsi yang menyeret mantan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febrie Adriansyah. Pernyataan pujian itu disampaikan Hotman melalui akun media sosial pribadinya pada Minggu malam, 7 September 2025, merespons keberhasilan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) membongkar praktik dugaan pemerasan oleh oknum penegak hukum.
"Saya salut dengan ketegasan Bapak Presiden Prabowo. Ini bukti bahwa tidak ada tempat bagi koruptor, bahkan jika dia berasal dari institusi penegak hukum sekalipun," tulis Hotman dalam unggahannya. Ia menilai langkah cepat yang diambil Polri di bawah arahan presiden menunjukkan komitmen nyata pemerintah dalam pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu.
Apresiasi untuk Kepemimpinan Anti-Korupsi
Hotman Paris, yang dikenal luas sebagai pengacara kondang dan kerap menyuarakan pendapatnya di ruang publik, menekankan bahwa ketegasan Prabowo dalam kasus Febrie Adriansyah merupakan sinyal kuat bagi seluruh aparatur negara. Menurutnya, kasus ini menjadi uji kredibilitas pemerintahan baru yang mengusung tema ’Indonesia Maju’ dengan tata kelola bersih.
"Ketegasan seorang pemimpin itu terlihat ketika ia berani menindak orang-orang di dalam lingkarannya sendiri. Febrie Adriansyah adalah figur yang pernah berada di jantung pemberantasan korupsi, dan fakta bahwa ia kini ditetapkan sebagai tersangka oleh Polri atas perintah langsung Presiden menunjukkan bahwa reformasi birokrasi bukan sekadar slogan," ujarnya saat dihubungi terpisah.
Hotman menambahkan, masyarakat Indonesia sudah terlalu lama menanti aksi nyata dari seorang kepala negara yang berani menindak praktik koruptif di sektor penegakan hukum. Pujian ini muncul tidak lama setelah Mabes Polri mengumumkan penangkapan Febrie Adriansyah beserta sejumlah pihak lainnya dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar pada 5 September 2025 di Jakarta Selatan.
Kronologi Kasus Febrie Adriansyah
Febrie Adriansyah merupakan mantan Direktur Penyelidikan KPK yang sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Plt Deputi Penindakan. Ia ditangkap bersama dua orang lainnya, yaitu seorang pengusaha berinisial R dan seorang perantara berinisial A. Berdasarkan keterangan resmi Polri, penangkapan dilakukan setelah adanya laporan masyarakat mengenai dugaan pemerasan terhadap seorang saksi dalam kasus yang sedang ditangani KPK.
Barang bukti yang diamankan berupa uang tunai senilai Rp1,2 miliar dalam bentuk mata uang rupiah dan dolar Singapura, serta dokumen-dokumen yang diduga terkait dengan sejumlah perkara korupsi besar. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dalam konferensi persnya pada 6 September 2025 menegaskan bahwa penindakan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi langsung Presiden Prabowo yang diterima melalui Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.
"Presiden telah memberikan arahan tegas: tidak ada toleransi bagi siapa pun yang mencoba mempermainkan hukum. Kami bergerak cepat, dan hasilnya, kami berhasil mengamankan yang bersangkutan berikut barang buktinya," ujar Listyo Sigit.
Presiden Prabowo: Tidak Ada Tempat bagi Pengkhianat Rakyat
Meski Presiden Prabowo belum memberikan pernyataan publik secara langsung terkait kasus ini, sejumlah sumber di lingkungan Istana Kepresidenan menyebutkan bahwa presiden sangat marah ketika menerima laporan awal mengenai dugaan keterlibatan Febrie. Dalam rapat terbatas yang digelar pada 4 September 2025, Prabowo disebut berulang kali menekankan frasa "pengkhianat rakyat" kepada para pembantunya.
"Ini bukan sekadar soal korupsi, ini soal integritas penegakan hukum di republik ini. Kalau orang yang seharusnya menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi malah menjadi pelaku, kita sedang menghadapi masalah serius," ucap Prabowo dalam rapat tersebut, berdasarkan keterangan seorang pejabat yang hadir.
Arahan tersebut kemudian menjadi dasar bagi Polri untuk langsung membentuk tim khusus yang dimpimpin oleh Bareskrim. Penangkapan terjadi keesokan harinya. Kecepatan ini pula yang menjadi sorotan Hotman Paris. "Biasanya kasus yang melibatkan orang dalam itu lamban penanganannya. Tapi kali ini, di bawah komando Bapak Prabowo, semua berjalan dalam hitungan jam. Ini prestasi kepemimpinan yang patut diapresiasi," tulis Hotman.
Respons Publik dan Dukungan Politik
Pujian dari Hotman Paris bukanlah satu-satunya dukungan yang mengalir. Sejumlah tokoh masyarakat dan akademisi juga menyambut positif langkah tegas presiden. Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Siti Zuhro, menyatakan bahwa tindakan ini bisa memperkuat legitimasi Prabowo di mata rakyat. "Publik ingin melihat konsistensi. Jika presiden hanya tegas terhadap lawan politiknya tetapi lunak terhadap kroni, itu akan menjadi bumerang. Kasus Febrie menunjukkan presiden tidak pandang bulu," katanya.
Sementara itu, partai-partai koalisi pendukung pemerintah kompak menyuarakan dukungan. Ketua DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menegaskan bahwa partainya mendukung penuh setiap langkah presiden dalam pemberantasan korupsi. "Kami di Gerindra sepenuhnya di belakang Bapak Presiden. Tidak ada yang kebal hukum," ucapnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/9).
Di sisi lain, sejumlah aktivis anti-korupsi berharap kasus ini tidak berhenti pada Febrie Adriansyah saja. Mereka mendesak agar Polri dan Kejaksaan Agung turut mengusut pihak lain, termasuk para pemberi suap yang diduga berasal dari sektor swasta. "Ini harus menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan yang lebih besar. Jangan sampai OTT ini hanya menjadi pertunjukan politik sesaat," ujar Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman.
Ketegasan yang Dinanti
Bagi Hotman Paris, kasus ini membuktikan bahwa harapan publik terhadap pemerintahan Prabowo tidaklah sia-sia. "Saya sebagai rakyat biasa hanya bisa berdoa dan berharap ini menjadi awal dari bersih-bersih besar-besaran di semua lini. Siapa pun dia, kalau korupsi, tangkap saja," pungkasnya.
Dengan pengakuan dari figur seterang Hotman Paris, tekanan positif kepada pemerintah untuk terus melanjutkan gerakan anti-korupsi dipastikan akan meningkat. Kini, bola berada di tangan Presiden Prabowo untuk memastikan bahwa ketegasan yang dipuji itu tidak hanya bersifat insidental, melainkan menjadi pola tetap dalam pemerintahannya.
Baca juga:
Comments (0)