Oct 14, 2026
Politik

Hashim Paparkan Program MBG kepada Peraih Nobel Ekonomi James A. Robinson

Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, memperkenalkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada peraih Nobel Ekonomi 2024 sekaligus penulis buku Why...

Hashim Paparkan Program MBG kepada Peraih Nobel Ekonomi James A. Robinson

Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, memperkenalkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada peraih Nobel Ekonomi 2024 sekaligus penulis buku Why Nations Fail, James A. Robinson, dalam forum kebijakan internasional di Jakarta. Perkenalan tersebut disampaikan pada acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 yang berlangsung di The Ritz-Carlton, Selasa (13/10), dengan Hashim hadir dalam kapasitasnya sebagai Board of Advisors lembaga tersebut.

Dalam paparannya, Hashim menegaskan bahwa MBG merupakan salah satu program unggulan pemerintah yang dirancang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia, terutama melalui pemenuhan gizi anak-anak. Ia menyatakan program tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari kerangka besar pembangunan manusia yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Perbandingan dengan Korea Selatan

Hashim mengawali pemaparannya dengan membandingkan kualitas pendidikan Indonesia dan Korea Selatan. Ia menyebut Korea Selatan secara konsisten berada di jajaran teratas dalam pemeringkatan Programme for International Student Assessment (PISA). Sementara itu, Indonesia pernah menempati peringkat ke-62 dari 70 negara dalam pemeringkatan yang sama.

Menurut Hashim, salah satu persoalan mendasar yang menyebabkan kesenjangan tersebut adalah pemenuhan gizi anak. Berdasarkan penilaian itu, program makan gratis ditetapkan sebagai salah satu kebijakan yang dijanjikan Prabowo selama masa kampanye.

"Salah satu persoalannya, sekaligus yang menjadi landasan program kami, adalah program makan gratis yang mungkin sudah Anda dengar. Program makan gratis merupakan salah satu program unggulan yang dijanjikan Prabowo selama kampanye," kata Hashim.

Ia menambahkan bahwa persoalan gizi tidak dapat dipisahkan dari upaya peningkatan mutu pendidikan. Anak-anak yang tidak memperoleh asupan gizi memadai, menurutnya, berisiko mengalami hambatan pertumbuhan yang berdampak jangka panjang pada kemampuan belajar dan produktivitas.

Gagasan yang Muncul Sejak 2006

Dalam forum tersebut, Hashim mengungkapkan bahwa gagasan MBG sebenarnya telah muncul sejak 2006. Saat itu, Prabowo menyampaikan kekhawatirannya mengenai kualitas pendidikan dan kondisi gizi anak-anak Indonesia, terutama angka stunting yang disebut mencapai 30 persen.

"Sebenarnya, gagasan awal program ini sudah muncul pada 2006. Saat itu saya sedang tinggal di Eropa, dan dia memanggil saya ke kantornya," ungkap Hashim.

Ia menuturkan bahwa kekhawatiran tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah kerangka kebijakan yang matang. Menurut Hashim, persoalan kekurangan gizi berpotensi menghambat upaya Indonesia memanfaatkan bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada beberapa tahun mendatang. Anak-anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kapasitas intelektual dan fisik yang lebih rendah dibandingkan anak-anak yang tumbuh dengan gizi cukup.

Dampak pada Pemanfaatan Bonus Demografi

Hashim menegaskan bahwa pemerintah menempatkan MBG sebagai instrumen strategis untuk memastikan generasi muda Indonesia mampu bersaing pada tingkat global. Berdasarkan kerangka kebijakan yang disusun, program ini menyasar pemenuhan gizi anak-anak pada usia sekolah sebagai fondasi pembangunan manusia jangka panjang.

Ia menyatakan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari perbaikan indikator kesehatan dan pendidikan yang terukur. Dalam forum yang dihadiri sejumlah pakar ekonomi internasional itu, Hashim berharap masukan dari kalangan akademisi, termasuk James A. Robinson, dapat memperkaya rancangan implementasi program.

Perkenalan program MBG kepada peraih Nobel Ekonomi tersebut menegaskan posisi Indonesia dalam dialog kebijakan global mengenai pembangunan manusia. Hashim menyatakan bahwa pemerintah terbuka terhadap kajian akademik dan pengalaman internasional dalam memastikan program tersebut berjalan efektif, transparan, dan berkelanjutan.

"Kami ingin memastikan bahwa program ini tidak sekadar janji politik, tetapi menjadi kebijakan yang benar-benar mengubah kualitas hidup anak-anak Indonesia," ujarnya.

Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 sendiri merupakan forum yang mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, dan tokoh internasional untuk membahas arah pembangunan Indonesia. Kehadiran James A. Robinson dalam forum tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat landasan akademik bagi kebijakan publik yang sedang dijalankan pemerintah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User