Hari Ketujuh Pascagempa NTT, Pengungsi Capai 110.785 Jiwa
JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah pengungsi akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 110.785 jiwa pada hari k...
JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah pengungsi akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 110.785 jiwa pada hari ketujuh pascagempa, Jumat (21/8/2026). Dalam keterangan resminya, BNPB mencatat korban jiwa sebanyak 83 orang, sementara jumlah korban luka meningkat menjadi 986 jiwa.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S. Panjaitan, menyatakan penambahan jumlah pengungsi tersebut merupakan hasil pendataan terbaru yang dilakukan petugas gabungan di lapangan. “Angka pengungsi terus bertambah seiring berjalannya proses evakuasi dan pendataan warga di wilayah terdampak,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Ia menegaskan seluruh angka yang dirilis BNPB merupakan data resmi yang diperbarui secara berkala setiap pukul 18.00 WIB. “Setiap perkembangan akan kami sampaikan melalui pusat data dan informasi kebencanaan, sehingga masyarakat dapat memantau kondisi terkini secara akurat,” katanya.
Perkembangan Data dan Dampak Gempa
Berdasarkan data pusat pengendalian operasi BNPB, jumlah korban luka yang sebelumnya tercatat pada hari keenam kini bertambah menjadi 986 jiwa. Seluruh korban luka telah memperoleh penanganan medis di rumah sakit, puskesmas, maupun pos kesehatan darurat yang didirikan di sejumlah titik pengungsian.
Gempa yang mengguncang wilayah NTT sepekan lalu tersebut turut merusak ribuan bangunan, mulai dari rumah tinggal warga, fasilitas ibadah, hingga sarana pendidikan dan kesehatan. BNPB menindaklanjuti laporan kerusakan dengan melakukan asesmen cepat bersama pemerintah daerah guna menentukan skala prioritas penanganan di setiap kabupaten dan kota yang terdampak.
Proses evakuasi dan pencarian korban masih terus berlangsung di sejumlah lokasi, terutama pada area yang mengalami kerusakan paling parah. Tim gabungan dari unsur Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan organisasi kemanusiaan dikerahkan secara terpadu untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Kondisi Pengungsian dan Layanan Dasar
BNPB mencatat 110.785 jiwa warga kini menempati tenda pengungsian, bangunan sekolah, serta rumah ibadah yang difungsikan sebagai tempat penampungan sementara. Distribusi kebutuhan dasar, mulai dari makanan siap saji, air bersih, selimut, hingga perlengkapan bayi dan lansia, terus dilakukan melalui dapur umum lapangan yang dikelola secara bersama-sama.
Petugas gabungan juga memperkuat layanan kesehatan darurat, termasuk posyandu darurat bagi ibu hamil, balita, serta kelompok rentan lainnya. “Prioritas kami memastikan kebutuhan dasar dan layanan kesehatan bagi seluruh pengungsi dapat terpenuhi secara memadai,” tegas Panjaitan.
Selain itu, pendampingan psikososial bagi korban, khususnya anak-anak dan lansia, digelar di sejumlah titik pengungsian guna memulihkan kondisi psikologis warga yang mengalami trauma pascagempa. Pengelolaan sanitasi dan penyediaan air bersih juga diperkuat untuk mencegah timbulnya penyakit di lingkungan pengungsian.
Koordinasi Penanganan dan Dukungan Logistik
Penanganan bencana dilakukan melalui mekanisme komando tanggap darurat yang melibatkan BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tingkat provinsi dan kabupaten/kota, TNI, Polri, serta kementerian dan lembaga terkait. Dalam Rapat Koordinasi yang digelar secara rutin, setiap instansi melaporkan perkembangan penanganan di wilayah kerjanya masing-masing.
BNPB juga mengerahkan alat berat untuk membuka akses jalan yang sempat terputus akibat gempa. Pemulihan jaringan listrik dan telekomunikasi menjadi perhatian utama agar arus distribusi bantuan dan penyampaian informasi kepada masyarakat tidak terhambat.
Pemerintah daerah setempat, menurut BNPB, telah menetapkan masa tanggap darurat dan terus memperbarui kebutuhan logistik berdasarkan hasil asesmen lapangan. Seluruh bantuan yang masuk disalurkan berdasarkan skala prioritas dan data penerima yang telah diverifikasi oleh petugas.
Imbauan dan Langkah Lanjutan
BNPB mengimbau warga di wilayah terdampak untuk tidak menghuni bangunan yang mengalami kerusakan berat sebelum dinyatakan aman oleh instansi terkait. Warga juga diminta memanfaatkan jalur evakuasi yang telah disiapkan serta berkoordinasi dengan petugas di pos pengungsian apabila membutuhkan pertolongan.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. BNPB memastikan seluruh informasi resmi disampaikan melalui kanal komunikasi pemerintah dan diperbarui secara berkala.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih melakukan pencarian, evakuasi, dan pendataan korban di sejumlah lokasi terdampak. Masyarakat dapat menghubungi posko pengaduan atau kanal resmi BNPB untuk memperoleh informasi terkini sekaligus menyalurkan bantuan bagi para korban gempa di NTT.
Comments (0)