Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda meletus kembali pada Senin (24/8/2026) pagi. Aktivitas vulkanik tersebut terpantau dari pos pengamatan gunung api di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, dan dapat disaksikan dari sejumlah titik pesisir di Provinsi Lampung maupun Provinsi Banten. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa, sementara kondisi permukiman warga di sekitar pantai dilaporkan tetap aman.
Menyikapi erupsi tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan bahwa gunung api muda itu masih berada dalam fase aktivitas yang fluktuatif. Petugas pemantau mencatat hembusan abu vulkanik keluar dari kawah secara menerus sejak pagi, dengan getaran tremor yang terekam pada perangkat seismograf di sekitar gunung.
Berdasarkan pantauan visual, kolom abu teramati menyebar mengikuti arah angin, sementara guguran material pijar tampak di puncak kawah. Masyarakat diminta tidak mendekati kawah dan tidak beraktivitas di wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona terlarang.
Riwayat Aktivitas Gunung Anak Krakatau
Anak Krakatau merupakan gunung api muda yang tumbuh di kaldera sisa letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Sejak kemunculannya pada 1927, gunung yang berdiri di tengah Selat Sunda ini tercatat meletus secara periodik hampir setiap tahun dengan intensitas yang berubah-ubah. Salah satu peristiwa terbesar terjadi pada Desember 2018, ketika erupsi disertai runtuhnya sebagian tubuh gunung memicu tsunami di pesisir Selat Sunda dan menelan ratusan korban jiwa.
Setelah peristiwa itu, pertumbuhan kerucut baru di dalam tubuh gunung terus berlangsung, diselingi letusan-letusan kecil yang berulang. Para ahli menilai karakter erupsi Anak Krakatau cenderung eksplosif dengan potensi luncuran awan panas, hujan abu, serta material vulkanik yang terbawa angin menuju daratan.
Zona Bahaya dan Imbauan Resmi
Menindaklanjuti erupsi pagi ini, PVMBG mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat, nelayan, dan wisatawan tidak mendekati kawah dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Khusus untuk wilayah laut, radius rekomendasi diperlebar hingga 5 kilometer guna mengantisipasi potensi gelombang serta endapan material vulkanik di permukaan air.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Kalianda menyatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan badan penanggulangan bencana setempat untuk menyosialisasikan rekomendasi tersebut.
"Kami mengimbau warga pesisir tetap tenang, tidak terpancing informasi yang belum jelas kebenarannya, dan mematuhi seluruh arahan petugas di lapangan," ujarnya.
Nelayan yang biasa melaut di perairan sekitar gunung diminta menunda aktivitas hingga kondisi dinyatakan aman. Demikian pula pengelola wisata di kawasan pantai yang berada dalam radius rawan diminta menghentikan sementara operasionalnya.
Kesiapsiagaan Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Pandeglang menyatakan telah menyiagakan personel serta peralatan evakuasi di sejumlah titik strategis. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di kedua kabupaten itu juga menyiapkan tempat pengungsian sementara dan jalur evakuasi bagi warga yang bermukim di pesisir.
Dalam Rapat Koordinasi yang digelar pada Senin siang, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah membahas langkah-langkah penguatan sistem peringatan dini dan kesiapan logistik. Kepala pelaksana BPBD setempat menegaskan bahwa status siaga akan dievaluasi secara berkala berdasarkan perkembangan aktivitas gunung.
"Kami akan menindaklanjuti setiap perkembangan dengan menyampaikan informasi resmi kepada masyarakat, agar tidak terjadi kepanikan yang tidak perlu," ujar kepala pelaksana BPBD setempat.
Pantauan Berkelanjutan
PVMBG memastikan pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau dilakukan secara berkelanjutan selama 24 jam. Seluruh data aktivitas, termasuk frekuensi letusan dan arah sebaran abu, akan diumumkan melalui kanal resmi agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat.
Warga di sekitar Selat Sunda diimbau memakai masker ketika terjadi hujan abu dan menjaga kesehatan saluran pernapasan. Sekolah-sekolah di wilayah terdampak juga diminta menyesuaikan kegiatan belajar mengajar sesuai arahan pemerintah daerah.
Sementara itu, aktivitas penerbangan di sekitar wilayah tersebut dipantau untuk mengantisipasi sebaran abu vulkanik yang dapat mengganggu operasional pesawat. Hingga berita ini diturunkan, belum ada perubahan status penerbangan, dan otoritas terkait terus memantau perkembangan erupsi dari waktu ke waktu.
Comments (0)