Grogol Selatan Gelar Pelatihan Olah Sampah Organik Jadi Kompos

Jakarta – Puluhan warga Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengikuti pelatihan pembuatan komposter sebagai solusi pengelolaan limbah rumah tangga. Kegiatan yang ber...

Grogol Selatan Gelar Pelatihan Olah Sampah Organik Jadi Kompos

Jakarta – Puluhan warga Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengikuti pelatihan pembuatan komposter sebagai solusi pengelolaan limbah rumah tangga. Kegiatan yang berlangsung di aula kelurahan pada Rabu, 12 Juni 2024 ini bertujuan membekali warga dengan keterampilan mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos yang bernilai guna sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Program ini diinisiasi oleh Pemerintah Kelurahan Grogol Selatan bersama kader lingkungan setempat. Lurah Grogol Selatan, Dian Aprilia, S.Sos., menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun kesadaran kolektif terhadap pemilahan dan pengolahan sampah dari sumbernya. “Kami ingin warga tidak lagi memandang sampah organik sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang bisa diolah menjadi kompos berkualitas tinggi. Ini juga selaras dengan target pengurangan sampah sebesar 30 persen di tingkat kelurahan pada tahun 2025,” ujarnya saat membuka acara.

Teknik Komposter Sederhana dan Aplikatif

Dalam sesi pelatihan, peserta yang sebagian besar terdiri dari anggota bank sampah, pengurus RT/RW, dan ibu rumah tangga diperkenalkan pada teknik komposter aerobik skala rumah tangga. Instruktur dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan menjelaskan langkah-langkah praktis mulai dari pemilihan wadah, pencacahan bahan organik, penambahan bioaktivator, hingga perawatan harian yang diperlukan agar proses dekomposisi berjalan optimal.

Materi disampaikan melalui demonstrasi langsung menggunakan ember bertingkat yang dilengkapi dengan kran untuk menampung lindi. Setiap peserta mendapatkan modul dan perangkat komposter sederhana untuk dipraktikkan di rumah masing-masing. “Kuncinya menjaga keseimbangan antara bahan hijau seperti sisa sayuran dan daun segar dengan bahan coklat berupa daun kering atau serbuk gergaji. Jika perbandingannya tepat, kompos bisa matang dalam waktu empat hingga enam minggu tanpa bau menyengat,” papar Winarti, salah satu fasilitator dari komunitas pegiat lingkungan.

Warga juga diajak untuk memahami indikator keberhasilan kompos, yakni tekstur remah, warna kehitaman, dan aroma tanah yang khas. Selain pupuk padat, air lindi yang tertampung juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair setelah diencerkan dengan perbandingan 1:10.

Antusiasme dan Dampak Ekonomi

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul selama sesi tanya jawab. Nurhasanah, seorang peserta asal RW 03, mengaku baru pertama kali mendapatkan pelatihan yang langsung disertai praktik. “Selama ini saya hanya mengumpulkan sampah organik untuk petugas kebersihan. Setelah pelatihan ini, saya jadi tahu bahwa kulit buah dan sisa dapur ternyata bisa menjadi kompos yang berguna untuk tanaman di pekarangan, bahkan bisa dijual,” ungkapnya.

Peluang ekonomi ini menjadi penekanan khusus dari pihak kelurahan. Dijelaskan bahwa kompos hasil produksi rumah tangga dapat dipasarkan melalui jaringan bank sampah atau koperasi lingkungan dengan harga sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Dengan rata-rata satu rumah tangga menghasilkan 0,5 kilogram sampah organik per hari, potensi produksi kompos di tingkat RW mencapai puluhan kilogram per bulan.

Kegiatan ini juga menjadi ajang pembentukan kelompok kerja lingkungan di setiap RW. Masing-masing kelompok diharapkan mampu mengelola komposter komunal dan menjadi motor penggerak bagi warga lainnya. Pemerintah kelurahan berkomitmen melakukan monitoring dan pendampingan secara berkala selama enam bulan ke depan.

Dukungan Regulasi dan Keberlanjutan

Pelatihan ini tidak terlepas dari landasan kebijakan daerah. Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga mengamanatkan pengurangan sampah dari sumber melalui pendekatan 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle. Grogol Selatan menjadi salah satu kelurahan yang ditetapkan sebagai percontohan program kampung iklim dan pengelolaan sampah terpadu.

Dian Aprilia menambahkan bahwa keberhasilan program ini akan diukur dari penurunan volume sampah yang diangkut ke TPST Bantar Gebang serta peningkatan jumlah rumah tangga yang memilah sampah secara mandiri. “Kami targetkan pada akhir tahun, sedikitnya 60 persen rumah tangga di Grogol Selatan sudah memiliki unit komposter dan aktif melakukan pemilahan. Sinergi antara pemerintah, warga, dan sektor swasta sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut, akan digelar evaluasi bulanan dan lomba kebersihan serta kreativitas pengolahan sampah antar-RW. Pemenang akan mendapatkan bantuan prasarana lingkungan dari kelurahan. Program ini juga akan diintegrasikan dengan kegiatan penghijauan melalui pembagian bibit tanaman produktif yang media tanamnya menggunakan kompos hasil produksi warga sendiri. Melalui rangkaian upaya ini, Grogol Selatan diharapkan menjadi model pengelolaan sampah organik perkotaan yang mandiri dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User