Gempa M 5,4 Guncang Buol, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Gempa bumi dengan magnitudo 5,4 mengguncang wilayah Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, pada Minggu (12/7) pukul 20.46 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa ...
Gempa bumi dengan magnitudo 5,4 mengguncang wilayah Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, pada Minggu (12/7) pukul 20.46 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa aktivitas seismik ini tidak memicu potensi tsunami sehingga masyarakat di pesisir diminta tetap tenang. Pusat gempa terletak pada koordinat 1,00 Lintang Utara dan 121,42 Bujur Timur, tepatnya 37 kilometer timur laut Buol, dengan kedalaman 10 kilometer. Data awal BMKG menunjukkan guncangan turut dirasakan di sejumlah kabupaten tetangga, namun hingga berita ini disusun belum terdapat laporan kerusakan ataupun korban jiwa.
Parameter Teknis dan Mekanisme Gempa
Berdasarkan analisis sementara BMKG, gempa yang terjadi di perairan utara Sulawesi ini tergolong gempa dangkal. Kedalaman hiposenter yang hanya 10 kilometer mengindikasikan aktivitas deformasi kerak bumi di zona sesar aktif setempat. Meskipun berkekuatan moderat, mekanisme sumber gempa menunjukkan pola sesar mendatar (strike-slip) yang umumnya tidak menimbulkan deformasi vertikal dasar laut secara signifikan. Oleh karena itu, kecil kemungkinan terjadinya perubahan kolom air yang dapat memicu gelombang tsunami. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG dalam keterangan resminya menyatakan:
“Tidak berpotensi tsunami. Gempa dipicu oleh aktivitas sesar lokal dengan mekanisme geser dan tidak berasosiasi dengan zona subduksi.”
Sebaran Guncangan dan Respons Warga
Getaran yang terjadi pada malam hari itu dilaporkan dirasakan di Buol, Tolitoli, Pohuwato, hingga Gorontalo Utara. Skala intensitas di beberapa titik mencapai III MMI, setara dengan getaran yang terasa nyata di dalam rumah, seakan-akan ada truk berat yang melintas. Masyarakat di Kabupaten Buol sempat berhamburan ke luar rumah, terutama di kawasan pesisir yang lebih rentan secara psikologis terhadap isu tsunami. Namun kepanikan segera mereda setelah BMKG mengeluarkan pernyataan resmi bahwa gempa tidak berpotensi tsunami. Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung berkoordinasi dengan aparat desa untuk memantau situasi dan memastikan tidak terjadi kepanikan berkelanjutan.
Imbauan dan Kesiapsiagaan
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, namun tidak perlu panik secara berlebihan. Warga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak ringan akibat getaran utama, serta memastikan jalur evakuasi tetap bersih dan mudah diakses. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buol menyampaikan bahwa tim reaksi cepat telah disiagakan untuk melakukan asesmen di titik-titik rawan pada Senin pagi. “Kami terus berkoordinasi dengan instansi terkait. Sampai saat ini nihil laporan kerusakan, tetapi kami tetap siaga,” ujarnya saat dihubungi terpisah. Sementara itu, pakar kegempaan dari Universitas Tadulako mengingatkan bahwa kawasan Sulawesi Tengah memang memiliki catatan seismisitas tinggi karena posisinya di pertemuan lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik, sehingga kesadaran mitigasi bencana harus terus ditanamkan.
Konteks Kegempaan di Sulawesi Tengah
Wilayah Buol dan sekitarnya secara historis merupakan bagian dari jalur kegempaan aktif di lengan utara Sulawesi. Data BMKG mencatat sepanjang tahun 2020 saja telah terjadi belasan gempa dangkal dengan magnitudo di atas 4,0 di zona yang sama. Aktivitas tektonik di daerah ini tidak hanya bersumber dari Sesar Gorontalo yang berarah timur laut—barat daya, melainkan juga dari deformasi kerak mikro di Teluk Tomini. Gempa malam tadi tidak terkait langsung dengan aktivitas subduksi di utara Sulawesi, sehingga ancaman tsunami dapat diabaikan. Namun, pengalaman gempa dahsyat di Donggala dan Palu pada 2018 menjadi pengingat betapa pentingnya literasi kebencanaan dan sistem peringatan dini yang andal di seluruh provinsi ini.
Dengan tidak adanya potensi tsunami, aktivitas warga di kawasan terdampak diharapkan kembali normal. BMKG berjanji akan terus memutakhirkan data dan segera mengumumkan hasil analisis mekanisme fokal yang lebih rinci dalam laporan gempa selanjutnya. Masyarakat diimbau untuk selalu mengakses informasi dari kanal resmi BMKG, baik melalui laman web, aplikasi seluler, maupun media sosial terverifikasi, guna menghindari berita simpang siur yang kerap muncul pasca-guncangan.
Baca juga:
Comments (0)