Finalis Accelerator Siap Pamerkan Karya, Program Fokus Kedekatan

Jakarta — Tiga musisi muda yang lolos sebagai finalis program Mastercard Artist Accelerator Indonesia akan menampilkan karya terbaik mereka dalam sebuah perhelatan showcase di Galeri Nasional Indone...

Jul 13, 2026 - 11:48
0 0

Jakarta — Tiga musisi muda yang lolos sebagai finalis program Mastercard Artist Accelerator Indonesia akan menampilkan karya terbaik mereka dalam sebuah perhelatan showcase di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, pada 8 Maret 2025. Ketiga finalis itu adalah penyanyi-penulis lagu folk-pop Aruna Widya (24), produser elektronik eksperimental Bayu Pradipta (28), dan duo neo-soul asal Bandung, Suara Kayu. Penampilan ini merupakan puncak dari program akselerator yang berlangsung selama enam bulan, yang dirancang untuk membekali musisi tidak sekadar dengan strategi peningkatan angka pengikut digital, melainkan dengan kemampuan membangun relasi bermakna dengan pendengar.

Direktur Pemasaran Mastercard Indonesia, Ratna Dewi, dalam konferensi pers virtual, Selasa (4/3), menegaskan bahwa program ini mengubah paradigma pengembangan karier musisi. “Kami melihat banyak program pengembangan artis hanya mengejar metrik kuantitatif seperti jumlah streaming atau pengikut media sosial. Mastercard Artist Accelerator justru menitikberatkan pada kedalaman hubungan antara musisi dan audiensnya. Ini bukan tentang seberapa banyak, tetapi seberapa kuat ikatan yang tercipta,” ujarnya. Ia menambahkan, ketiga finalis telah melalui kurasi ketat oleh dewan juri independen yang terdiri dari musisi senior Andien Aisyah, produser Laleilmanino, dan pengamat industri musik Wendi Putranto.

Tiga Finalis dengan Karya Inovatif

Aruna Widya, yang berasal dari Yogyakarta, akan membawakan lagu-lagu dari album mini terbarunya Ruang Tunggu yang mengisahkan perjalanan pencarian jati diri perempuan muda di perkotaan. Aruna terpilih setelah unggul dalam tahap audisi yang diikuti 217 peserta dari enam kota. “Proses mentoring di program ini membuka mata saya bahwa musik bukan sekadar produk yang dijual, tetapi jembatan untuk terhubung dengan cerita-cerita manusia,” tutur Aruna saat ditemui di sela-sela gladi resik, Rabu (5/3).

Bayu Pradipta, produser asal Malang yang dikenal dengan proyek elektronik bernama Rerama, akan menampilkan set audiovisual imersif bertajuk Fragmenta. Karya ini mengolah suara lapangan dari pasar tradisional dan hutan kota yang ia rekam sendiri. Dewan juri mencatat bahwa pendekatan Bayu yang mengedepankan keintiman dan keberpihakan pada isu urbanisasi sejalan dengan nilai program. Sementara itu, Suara Kayu—yang digawangi oleh pasangan suami-istri Rendra dan Kinanti—akan membawakan lagu-lagu yang diangkat dari kisah nyata penggemar yang mereka kumpulkan melalui sesi “Surat untuk Suara Kayu” di platform daring.

Pendekatan Berbeda: Membangun Koneksi, Bukan Sekadar Pengikut

Program akselerator yang pertama kali digelar di Indonesia ini menyediakan modul pelatihan yang mencakup manajemen karier, kesehatan mental, pemasaran digital berbasis komunitas, dan produksi musik berkelanjutan. Sebanyak 12 sesi lokakarya tatap muka dan enam sesi konsultasi intensif dengan mentor dijalani para finalis sejak September 2024. Metrik keberhasilan program, menurut Ratna Dewi, tidak diukur dari lonjakan pengikut, melainkan dari tingkat keterlibatan dan retensi pendengar. Data internal menunjukkan bahwa selama proses akselerator, ketiga finalis berhasil meningkatkan rata-rata waktu mendengarkan per sesi sebesar 42 persen, pertanda bahwa pendengar tidak sekadar menekan tombol putar, tetapi benar-benar menyimak.

Pendekatan ini sejalan dengan tren global yang mulai bergeser dari ekonomi perhatian ke ekonomi relasi. Wendi Putranto, dalam sesi temu media, menyatakan bahwa industri musik Indonesia perlu belajar dari fenomena menurunnya loyalitas pendengar di platform streaming. “Angka streaming tinggi tidak menjamin penonton akan datang ke konser atau membeli album fisik. Yang dibutuhkan adalah pendengar yang merasa memiliki dan terlibat secara emosional. Itulah yang diajarkan program ini—dan itu langka,” ucap Wendi.

Apresiasi dan Antusiasme Publik

Showcase bertajuk “Jejaring Bunyi” itu akan digelar secara hibrida, dengan kuota 300 penonton luring dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi Mastercard Indonesia. Tiket luring yang digratiskan telah habis dipesan dalam waktu kurang dari dua jam setelah dibuka pada 1 Maret lalu, menunjukkan antusiasme tinggi. Pihak penyelenggara menyiapkan panggung berbentuk semi-arena untuk menciptakan suasana intim, sejalan dengan filosofi program yang menekankan kedekatan. Selain penampilan musik, pameran instalasi interaktif yang merekam perjalanan proses kreatif ketiga finalis juga akan ditampilkan di ruang sayap Galeri Nasional.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Staf Khusus Menteri Bidang Musik, Rina Damayanti, menyambut baik inisiatif ini. “Mastercard Artist Accelerator menjadi contoh konkret bahwa investasi pada pengembangan kapasitas dan kedekatan emosional musisi dengan pendengar dapat menjadi strategi jangka panjang yang lebih sehat bagi ekosistem musik nasional. Kami berharap program ini dapat direplikasi oleh lebih banyak sektor swasta,” ujar Rina dalam sambutan tertulis yang dibacakan saat pembukaan gladi resik.

Dengan pendekatan yang tidak bertumpu pada inflasi angka pengikut, program ini diharapkan mencetak musisi yang tidak hanya viral, tetapi juga memiliki basis pendengar yang loyal dan tumbuh secara organik. Ketiga finalis akan melepaskan karya mereka di platform digital pada 15 Maret 2025, dan hasil interaksi selama tiga bulan pasca-rilis akan dijadikan studi kasus oleh tim peneliti independen guna mengukur efektivitas model akselerator berbasis relasi ini.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User