Erlina Burhan Dukung Pelacakan Kontak Erat TBC Wajib 100 Persen

JAKARTA — Dokter Spesialis Paru Erlina Burhan menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah yang mewajibkan pelacakan menyeluruh pada kontak erat pasien tuberkulosis (TBC). Ia menyebut langka...

Jul 12, 2026 - 04:40
0 1

JAKARTA — Dokter Spesialis Paru Erlina Burhan menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah yang mewajibkan pelacakan menyeluruh pada kontak erat pasien tuberkulosis (TBC). Ia menyebut langkah tersebut sebagai strategi tepat untuk memutus rantai penularan penyakit yang masih menjadi beban kesehatan utama di Indonesia.

Dalam sebuah diskusi kesehatan yang digelar di Jakarta, Selasa (15/4), Erlina menegaskan bahwa pendekatan pasif yang hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan tidak efektif menekan angka kasus. "Pemerintah harus bergerak aktif menemukan setiap orang yang berisiko. Pelacakan kontak erat 100 persen adalah satu-satunya jalan untuk menutup celah penularan," ujarnya.

Target Ambisius Penanggulangan TBC

Kementerian Kesehatan telah menetapkan target eliminasi TBC pada tahun 2030, sejalan dengan komitmen global End TB Strategy. Data terbaru menunjukkan Indonesia menduduki peringkat kedua dengan beban kasus TBC tertinggi di dunia setelah India. Setiap tahun diperkirakan terdapat lebih dari 969.000 insiden kasus baru dengan angka kematian mencapai 144.000 jiwa. Angka ini menempatkan TBC sebagai salah satu penyebab kematian menular teratas di tanah air.

Menurut Erlina, rendahnya cakupan investigasi kontak menjadi faktor utama masih tingginya penularan. "Selama ini, dari satu pasien TBC paru dengan basil tahan asam positif, rata-rata kontak erat yang diperiksa baru sekitar 30 hingga 40 persen. Padahal idealnya, setiap orang yang tinggal serumah atau berinteraksi intens dengan pasien harus diperiksa," jelasnya. Kebijakan pelacakan 100 persen yang mulai diperkuat tahun ini diharapkan mampu memperkecil kesenjangan tersebut.

Mekanisme Pelacakan dan Tantangan di Lapangan

Kewajiban pelacakan kontak erat secara penuh bukan tanpa tantangan. Erlina mengakui bahwa kendala geografis, keterbatasan tenaga kesehatan, dan stigma sosial masih menjadi hambatan. Namun, ia mendorong integrasi teknologi dan pemberdayaan kader kesehatan lokal sebagai solusi. "Pemanfaatan sistem informasi TBC yang terhubung hingga fasilitas kesehatan tingkat pertama dapat mempercepat notifikasi dan pemantauan. Kader yang terlatih di tingkat RT/RW juga bisa menjadi ujung tombak investigasi kontak," ujarnya.

Pelacakan kontak erat meliputi kegiatan penjaringan gejala, pemeriksaan dahak mikroskopis atau tes cepat molekuler, serta pemberian terapi pencegahan TBC bagi individu dengan infeksi laten. Erlina menekankan bahwa deteksi dini melalui pelacakan aktif akan menekan angka lost to follow-up dan mencegah perkembangan dari infeksi laten menjadi penyakit aktif yang menular.

Dukungan Lintas Sektor dan Anggaran

Erlina menambahkan, keberhasilan pelacakan 100 persen memerlukan dukungan lintas sektor, termasuk keterlibatan pemerintah daerah dalam penyediaan anggaran operasional. "Tanpa alokasi dana yang memadai untuk transportasi kader, insentif, dan logistik pemeriksaan, target ini akan sulit tercapai," katanya. Ia mengapresiasi peningkatan alokasi dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk program TBC di sejumlah daerah, namun menilai masih perlu pengawalan ketat agar tepat sasaran.

Lebih lanjut, Erlina menyoroti pentingnya kampanye penyuluhan yang masif untuk mengurangi stigma. "Masyarakat perlu memahami bahwa TBC dapat disembuhkan dengan pengobatan teratur. Stigma hanya akan membuat kontak erat enggan diperiksa," imbuhnya. Kebijakan pelacakan 100 persen ini diharapkan menjadi momentum perubahan paradigma dari pengobatan pasien saja menjadi pencegahan berbasis komunitas yang lebih agresif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User