BPBD Sitaro Minta Warga Waspada Lahar Pascaerupsi Karangetang
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, meningkatkan status siaga bencana menyusul aktivitas vulkan...
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, meningkatkan status siaga bencana menyusul aktivitas vulkanik Gunung Karangetang yang kembali menunjukkan eskalasi pada Minggu malam. Kewaspadaan ini menyasar potensi aliran lahar dingin yang dapat dipicu oleh curah hujan di kawasan puncak, menindaklanjuti material piroklastik hasil erupsi yang telah menumpuk di lereng gunung api tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro, Dolfie Katilie, dalam keterangan resminya pada Senin dini hari, menegaskan bahwa pola erupsi yang terjadi merupakan bagian dari siklus aktif Gunung Karangetang yang saat ini berada pada Level III atau Siaga. “Kami mengimbau seluruh warga yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan, terutama menjelang musim hujan. Material vulkanik yang lepas dapat terbawa air dan menjadi lahar dingin dengan daya rusak tinggi,” ujarnya.
Kronologi dan Data Aktivitas Vulkanik
Berdasarkan data dari Pos Pengamatan Gunungapi Karangetang, erupsi Minggu malam tercatat menghasilkan kolom abu setinggi kurang lebih 800 meter di atas puncak kawah utama. Hembusan abu disertai lontaran lava pijar terpantau hingga radius satu kilometer ke arah tenggara. Erupsi ini merupakan kelanjutan dari peningkatan kegempaan yang telah terdeteksi sejak sepekan terakhir, dengan dominasi gempa guguran dan tremor menerus. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) belum menaikkan status gunung, namun mencatat volume material endapan kubah lava bagian selatan yang terus bertambah.
BPBD Sitaro mencatat, sedikitnya enam desa di tiga kecamatan—Siau Timur, Siau Barat, dan Siau Tengah—berada dalam zona rawan terdampak aliran lahar. Desa-desa tersebut meliputi Tareran, Taloarane, Peling, dan sekitarnya yang dilintasi sungai-sungai seperti Sungai Kale dan Sungai Batusuya. Riwayat mencatat, pada Januari 2024, banjir lahar dingin sempat memutus akses jalan trans-Siau dan merendam puluhan hektare lahan pertanian warga.
Peta Risiko dan Arahan Teknis
Dalam rapat koordinasi internal yang melibatkan BPBD, Dinas Sosial, TNI/Polri, serta para kepala desa terdampak, dipetakan tiga titik kritis pertemuan aliran lahar. Titik pertama berada di sekitar Jembatan Kale yang menjadi jalur utama distribusi logistik antarkecamatan. Titik kedua adalah kawasan perkebunan kelapa di Peling, dan titik ketiga adalah bantaran Sungai Batusuya yang padat permukiman. “Kami telah menyiagakan tim reaksi cepat di masing-masing titik kritis dan mengaktifkan posko bencana di kantor kecamatan,” tambah Katilie.
BPBD turut mendistribusikan sirine peringatan dini portabel dan rambu evakuasi tambahan di jalur-jalur yang selama ini minim penanda. Warga diimbau untuk tidak beraktivitas di dalam radius dua kilometer dari kawah aktif dan tiga kilometer di sektor selatan, sesuai rekomendasi PVMBG. Lebih jauh, pengendara yang melintas di jalan pesisir diminta menghindari perjalanan saat hujan deras karena potensi material vulkanik yang terbawa air dapat merusak badan jalan secara tiba-tiba.
Kesiapan Logistik dan Simulasi Evakuasi
Menindaklanjuti imbauan tersebut, BPBD Sitaro telah memastikan ketersediaan peralatan kebencanaan seperti perahu karet, tenda pengungsian, dan 2.000 paket sembako yang disimpan di gudang logistik utama di Ulu Siau. Kepala Dinas Sosial Sitaro, Meidy Walebangko, menyatakan bahwa pihaknya telah memetakan 15 titik pengungsian sementara yang dapat menampung hingga 3.000 jiwa. Beberapa di antaranya merupakan gedung gereja, sekolah, dan balai desa yang secara rutin dijadikan lokasi evakuasi pada fase tanggap darurat sebelumnya.
Simulasi evakuasi mandiri direncanakan digelar pada akhir pekan ini di Desa Taloarane sebagai pilot project. Skenario akan melibatkan skenario hujan deras selama tiga jam yang memicu aliran lahar, dengan target waktu respons warga kurang dari 30 menit. “Kami ingin masyarakat tidak hanya bergantung pada sirine dari posko, tetapi juga mampu membaca tanda-tanda alam secara mandiri, seperti perubahan warna air sungai atau suara gemuruh dari hulu,” ujar Katilie.
Koordinasi Lintas Lembaga
BPBD Sitaro juga memperkuat koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sulawesi Utara untuk pemantauan debit air di sungai-sungai yang berhulu dari Karangetang. Data dari alat pengukur tinggi muka air otomatis yang dipasang di tiga titik akan diintegrasikan ke pusat kendali operasi BPBD melalui jaringan radio komunikasi darurat. Kepala Balai, Stevanus Rompas, mengonfirmasi bahwa alat tersebut telah dikalibrasi ulang untuk mendeteksi perubahan ketinggian air secara real-time guna memberi peringatan dini berbasis bukti.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado mengeluarkan prakiraan cuaca khusus untuk kawasan Sitaro. Dalam tiga hari ke depan, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpeluang terjadi pada sore dan malam hari, sejalan dengan pergerakan massa udara basah dari Laut Maluku. Prakiraan ini menjadi dasar pengaktifan jam malam sukarela bagi warga di bantaran sungai mulai pukul 18.00 WITA jika kondisi dianggap membahayakan.
Katilie menutup keterangannya dengan menekankan bahwa imbauan ini bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan membangun budaya siaga bencana yang telah menjadi bagian keseharian masyarakat kepulauan yang hidup berdampingan dengan salah satu gunung api teraktif di Indonesia tersebut. “Kita semua adalah bagian dari sistem peringatan dini. Semakin dini kita bersiap, semakin kecil risiko yang harus ditanggung,” pungkasnya.
Baca juga:
Comments (0)