Sudaryono Sinyalir Maju Pilgub Jateng Usai Bertemu Gus Yasin
REMBANG — Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Jawa Tengah, Sudaryono, menggelar pertemuan tertutup dengan mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2018–2023...
REMBANG — Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Jawa Tengah, Sudaryono, menggelar pertemuan tertutup dengan mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2018–2023, Taj Yasin Maimoen, di Pondok Pesantren Al Anwar IV, Sarang, Kabupaten Rembang, pada Minggu (21/7/2024). Pertemuan tersebut memunculkan spekulasi mengenai rencana pencalonan Sudaryono di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2024.
Pertemuan Elite Gerindra dan Kiai Muda Nahdliyin
Di tengah suasana pesantren yang sejuk, Sudaryono yang datang bersama rombongan kecil diterima langsung oleh Taj Yasin yang akrab disapa Gus Yasin. Keduanya terlihat duduk bersama di pendopo utama pesantren dan berbincang lebih dari dua jam. Sejumlah pengurus pondok dan pendamping pribadi turut hadir, namun pertemuan tersebut tidak dibuka untuk awak media secara penuh.
Pertemuan ini menjadi sinyal awal manuver politik Sudaryono menjelang kontestasi Pilgub Jateng. Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini dikenal sebagai tokoh muda dekat dengan Ketua Umum Gerindra sekaligus Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Sementara Gus Yasin merupakan putra almarhum KH Maimoen Zubair, ulama kharismatik pendiri Pondok Pesantren Al Anwar sekaligus politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan basis massa kuat di kalangan nahdliyin.
Sudaryono sendiri merupakan figur yang namanya mencuat setelah memimpin pemenangan Prabowo-Gibran di Jateng pada Pemilu Presiden 2024. Ia berhasil membawa kemenangan di provinsi yang selama ini disebut “kandang banteng”. Capaian ini menjadi bekal kuat untuk melangkah ke Pilgub, meskipun mesin PDIP tetap menjadi kekuatan dominan.
Sinyal Keterbukaan Jalur Politik
Usai pertemuan, Sudaryono tak membantah bahwa diskusi mengarah pada kemungkinan dirinya maju dalam pemilihan gubernur. Dengan nada diplomatis namun penuh kalkulasi, ia menyatakan bahwa seluruh opsi politik masih terbuka. “Yang jelas saya sangat serius dengan Jateng. Kalau ada jalannya, kenapa tidak? Kami akan lihat dinamika dan dukungan yang ada,” ujar Sudaryono melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Pernyataan “kalau ada jalannya” menjadi penegas bahwa elektabilitas dan dukungan partai menjadi faktor penentu sebelum deklarasi resmi. Sejumlah lembaga survei menempatkan Sudaryono pada bursa kandidat potensial, meski popularitasnya di bawah beberapa nama lain seperti Achmad Husein atau mantan Pangdam Diponegoro. Namun demikian, mesin politik Gerindra yang solid di 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah menjadi modal signifikan.
Sementara itu, Gus Yasin yang pernah mendampingi Ganjar Pranowo memimpin Jateng selama lima tahun, mengaku hanya menjalankan fungsi silaturahmi dan tidak ingin mendahului keputusan partai. “Saya hanyalah santri yang menjaga amanah umat. Kalau ada kader yang punya visi membangun Jateng, kami terbuka untuk diskusi dan dukung-mendukung selama sesuai mekanisme konstitusional,” tuturnya.
Kalkulasi Koalisi dan Restu Kultural
Pertemuan ini tak lepas dari kebutuhan membangun poros koalisi yang kuat. Dengan basis suara PPP yang diprediksi tergerus, kehadiran figur berlatar belakang pesantren seperti Gus Yasin bisa menjadi magnet elektoral untuk mendulang suara tradisionalis. Di pihak Gerindra, mereka memerlukan tambahan dukungan dari partai berbasis Islam untuk mengusung calon di provinsi yang sejak Reformasi dikuasai PDIP.
Pengamat politik dari Universitas Diponegoro, Dr. Ahmad Rifai, menilai langkah Sudaryono menemui Gus Yasin adalah bagian dari strategi membangun koalisi lintas partai dan merebut suara nahdliyin. “Sudaryono sadar bahwa tanpa restu kultural dari pesantren-pesantren besar di Jateng, sulit menembus dominasi PDIP. Silaturahmi ke Al Anwar adalah sinyal politik bahwa Gerindra serius merangkul basis massa Islam tradisional,” kata Rifai.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari DPP Gerindra maupun PPP pusat mengenai dukungan terhadap Sudaryono. Namun pertemuan ini diyakini akan mempengaruhi peta koalisi yang hingga kini masih cair. Nama-nama lain seperti Dico Ganinduto, Taj Yasin sendiri, serta kader PDIP juga masih beredar di bursa calon wakil gubernur.
Pondok Pesantren Al Anwar IV Sarang dikenal sebagai salah satu pusat jaringan ulama berpengaruh. KH Maimoen Zubair alias Mbah Moen sebelum wafat adalah tokoh rujukan utama PPP dan kalangan nahdliyin. Gus Yasin, yang mewarisi otoritas kultural ayahnya, berpotensi menjadi king maker dalam pemilihan kepala daerah di pantura Jateng.
“Silaturahmi ini bagian dari ikhtiar membangun sinergi. Kami sepakat bahwa Jateng membutuhkan pemimpin yang paham ekonomi kerakyatan dan mampu mengonsolidasikan potensi daerah,” ujar Sudaryono menutup pertemuan.
Dengan waktu pendaftaran calon yang semakin dekat, manuver Sudaryono di Sarang bisa menjadi langkah awal yang menentukan. Apakah “jalannya” akan terbuka lebar atau menyempit, semua bergantung pada hasil lobi dan survei dalam beberapa pekan ke depan.
Baca juga:
Comments (0)