Satelit NEO-1 Buatan Indonesia Siap Meluncur Januari 2027
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan kesiapan satelit NEO-1, satelit observasi bumi buatan dalam negeri yang dijadwalkan meluncur pada Janua
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan kesiapan satelit NEO-1, satelit observasi bumi buatan dalam negeri yang dijadwalkan meluncur pada Januari 2027. Satelit ini menjadi tonggak penting dalam program kemandirian teknologi antariksa nasional, sekaligus jawaban atas kebutuhan data pengindraan jauh untuk ketahanan pangan dan pengawasan lingkungan.
Jadwal dan Kendaraan Peluncuran
Kepastian jadwal ini disampaikan langsung oleh Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (10/7/2026). Roket Falcon 9 milik SpaceX akan menjadi wahana peluncur pilihan setelah menjalani serangkaian evaluasi teknis. Menurut dokumen rencana induk, satelit akan ditempatkan di orbit sun-synchronous (SSO) pada ketinggian 550 km, memungkinkan cakupan pengamatan permukaan secara global setiap 2β3 hari.
βKita optimistis Januari 2027 menjadi momen bersejarah. Seluruh subsistem sudah lolos uji getar dan termal, tinggal integrasi akhir di Jepang sebelum dikirim ke Cape Canaveral,β ujar Kepala Pusat Riset.
Spesifikasi Utama NEO-1
Setelah melewati tahap desain kritis, NEO-1 hadir dengan bobot sekitar 350 kg dan rentang operasional hingga 7 tahun. Berikut rincian spesifikasi yang berhasil dihimpun:
- Payload Kamera Multispektral: 4 kanal (merah, hijau, biru, inframerah-dekat) dengan resolusi spasial 4 meter.
- Sensor Hyperspectral: 64 kanal untuk identifikasi komposisi tanaman, tingkat kelembapan tanah, dan deteksi polutan air.
- Data Downlink: Kecepatan transmisi 600 Mbps via stasiun bumi di Rumpin, Bogor.
- Solar Array: 3 panel surya lipat menghasilkan daya puncak 1,2 kW.
Misi Ketahanan Pangan dan Lingkungan
Pemerintah menargetkan NEO-1 sebagai tulang punggung sistem peringatan dini krisis pangan. Data hyperspectral akan dipakai menghitung luas tanam padi, memprediksi gagal panen akibat kekeringan, serta memetakan sebaran hama secara real-time. Di sisi lingkungan, satelit ini mampu memantau deforestasi, kebakaran hutan, dan kualitas air danau atau waduk strategis.
Kolaborasi Riset Antarnegara
Proyek NEO-1 melibatkan konsorsium BUMN PT Dirgantara Indonesia, LAPAN (kini OR Penerbangan dan Antariksa BRIN), serta beberapa universitas. Mitra teknis dari Jepang membantu pengembangan sistem propulsi elektrik berbasis Hall-effect thruster yang lebih irit bahan bakar. Transfer pengetahuan ini diharapkan mempercepat penguasaan teknologi satelit ukuran menengah di Indonesia.
NEO-1 sendiri merupakan evolusi dari satelit LAPAN-A2/LAPAN-A3. Jika sukses, BRIN berencana meluncurkan NEO-2 pada 2029 dengan radar aperture sintetis (SAR) agar bisa menangkap citra meskipun tertutup awanβkendala klasik di wilayah tropis.
Dengan investasi sekitar Rp1,2 triliun, pemerintah berharap NEO-1 bisa mengurangi ketergantungan pada data satelit asing yang rata-rata menelan biaya lisensi ratusan miliar rupiah per tahun. Kehadiran satelit ini sekaligus mendorong ekosistem industri antariksa nasional yang lebih matang.
[SOCIAL_TWEET]: Satelit NEO-1 buatan Indonesia siap mengorbit Januari 2027! Misi ganda: pantau ketahanan pangan dan lingkungan pakai sensor hyperspectral. Indonesia makin mandiri di antariksa. ππ°οΈ #NEO1 #InovasiIndonesia #TeknologiSatelit[SOCIAL_TG]: π°οΈ Kabar baik dari BRIN: Satelit NEO-1 meluncur Januari 2027! Misi ketahanan pangan dan lingkungan makin kuat. Baca detail spesifikasinya.
Comments (0)