Drone Elang Robotik Australia Kurangi Kerugian Pertanian Akibat Hama Burung

Canberra – Tim peneliti dari University of Queensland bersama perusahaan teknologi AgriTech Innovations berhasil mengembangkan RoBird, sebuah drone biomimetik yang menyerupai elang dan dirancang khu...

Jul 13, 2026 - 14:53
0 0

Canberra – Tim peneliti dari University of Queensland bersama perusahaan teknologi AgriTech Innovations berhasil mengembangkan RoBird, sebuah drone biomimetik yang menyerupai elang dan dirancang khusus untuk mengusir hama burung dari kawasan pertanian. Inovasi ini menjadi jawaban atas ancaman kerugian sektor pertanian Australia yang mencapai Rp4,6 triliun setiap tahunnya akibat serangan burung pemakan hasil panen.

Proyek yang digarap sejak awal tahun 2024 ini telah menempuh serangkaian uji coba di kawasan pertanian strategis, termasuk Lembah Barossa di Australia Selatan dan wilayah Riverina di New South Wales. Kepala tim peneliti Dr. Marcus Chen menyatakan, "RoBird meniru secara presisi pola terbang dan dinamika sayap elang asli. Burung-burung kecil mengenali ancaman predator ini secara instingtif dan segera meninggalkan area tersebut. Inilah fondasi efektivitas yang kami capai."

Mekanisme dan Fondasi Teknologi

RoBird mengusung arsitektur biomimetik yang mereplikasi karakteristik biologis elang. Drone ini memiliki bentang sayap 1,2 meter dan bobot 2,8 kilogram dengan kerangka berbahan komposit serat karbon untuk menjamin kelincahan sekaligus kekuatan struktural. Sistem navigasinya diperkuat sensor lidar dan kamera beresolusi tinggi yang mampu mendeteksi konsentrasi burung hama dari elevasi operasional.

Kecerdasan buatan yang tertanam memungkinkan identifikasi spesies burung secara real-time, sehingga RoBird hanya menargetkan jenis-jenis yang merugikan tanaman. "Kami merekam data penerbangan elang asli selama ratusan jam dan menanamkannya ke dalam algoritma. Hasilnya, manuver RoBird sangat meyakinkan dan memicu respons ketakutan alami," jelas Dr. Chen. Drone ini mampu beroperasi secara otonom hingga 90 menit dan menjangkau area seluas 50 hektar dalam satu sesi penerbangan, menawarkan alternatif ramah lingkungan terhadap metode konvensional seperti perangkap, jaring, atau zat kimia pengusir.

Kepala Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia, Richard Thornton, menegaskan bahwa pemerintah memberikan dukungan penuh. "Teknologi seperti RoBird selaras dengan peta jalan pertanian berkelanjutan yang kami tetapkan hingga 2030. Kami mendorong inovasi yang mengurangi ketergantungan pada pestisida," ujarnya dalam rapat koordinasi di Canberra.

Hasil Uji Coba dan Angka Efektivitas

Serangkaian uji coba lapangan yang berlangsung pada Maret hingga Agustus 2025 membuahkan hasil signifikan. Di perkebunan anggur Barossa Valley, serangan burung terhadap buah anggur menyusut hingga 89 persen setelah patroli rutin RoBird diterapkan. Angka serupa tercatat di kebun apel dan ceri di Tasmania, di mana tingkat kerusakan panen anjlok dari rerata 30 persen menjadi kurang dari 5 persen.

Data yang dihimpun tim peneliti mengungkapkan bahwa sebelum intervensi RoBird, petani anggur di Australia Selatan menderita kehilangan hasil panen senilai AUD 180 juta atau setara Rp1,8 triliun per tahun. Kerugian lebih besar dialami petani biji-bijian di kawasan barat Australia yang menembus AUD 280 juta atau sekitar Rp2,8 triliun. Akumulasi kerugian nasional sebesar Rp4,6 triliun mendorong percepatan adopsi solusi berbasis teknologi.

Direktur Eksekutif AgriTech Innovations, Gracia Van Doren, mengungkapkan bahwa respons petani sangat positif. "Hasil nyata terlihat dalam hitungan minggu. Burung-burung yang sebelumnya resisten terhadap metode pengusiran konvensional kini menjauh permanen setelah dua hingga tiga kali patroli RoBird," katanya.

Dampak Ekonomi dan Rencana Ekspansi

Keberhasilan uji coba membuka jalan bagi komersialisasi RoBird secara lebih luas. Pemerintah Australia melalui Australian Research Council telah mengucurkan dana tambahan sebesar AUD 12 juta atau sekitar Rp120 miliar untuk pengembangan tahap lanjutan. Fokus pengembangan meliputi miniaturisasi drone bagi lahan pertanian skala kecil dan peningkatan daya tahan baterai untuk operasional yang lebih panjang.

Kalkulasi ekonomi yang dilakukan konsultan independen memperkirakan bahwa investasi RoBird dapat menghasilkan pengembalian hingga tujuh kali lipat dalam kurun dua tahun pertama. Biaya operasional drone ini hanya seperlima dari pengeluaran metode pengusiran burung tradisional yang mencapai ribuan dolar per hektar setiap musim tanam.

AgriTech Innovations kini bersiap memulai produksi massal pada kuartal pertama 2026. Perusahaan telah menerima permintaan demonstrasi dari Selandia Baru, Afrika Selatan, dan sejumlah negara di Asia Tenggara yang menghadapi persoalan serupa pada tanaman padi serta buah-buahan. Di tingkat domestik, pemerintah federal merencanakan penyertaan RoBird dalam program subsidi teknologi pertanian mulai tahun anggaran mendatang.

Menteri Pertanian Australia, Sarah McKenzie, menyatakan optimismenya bahwa teknologi ini akan menjadi standar baru perlindungan tanaman. "Ini bukan sekadar solusi teknologi, melainkan bukti bahwa pendekatan yang selaras dengan alam mampu memberikan hasil ekonomi yang luar biasa," tegasnya. Dengan efektivitas yang telah terverifikasi, RoBird diproyeksikan mampu menekan kerugian pertanian Australia hingga 70 persen dalam lima tahun ke depan, menyelamatkan potensi kerugian lebih dari Rp3 triliun setiap tahunnya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User