Debit Air Susut, Jejak Kampung di Bendungan Karian Terkuak

LEBAK, BANTEN – Kemarau berkepanjangan yang melanda sebagian wilayah Pulau Jawa membawa dampak signifikan terhadap volume air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak. Permukaan air yang terus menyusut s...

Debit Air Susut, Jejak Kampung di Bendungan Karian Terkuak

LEBAK, BANTEN – Kemarau berkepanjangan yang melanda sebagian wilayah Pulau Jawa membawa dampak signifikan terhadap volume air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak. Permukaan air yang terus menyusut secara perlahan menyingkap sisa-sisa permukiman warga yang telah belasan tahun tenggelam, memicu gelombang nostalgia di kalangan masyarakat setempat.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Kamis (24/7/2026), fondasi rumah, tembok-tembok retak, bahkan jalan setapak yang dulu menghubungkan antar rumah warga mulai terlihat jelas. Biasanya, hanya bagian paling tinggi dari bangunan—seperti menara atau atap masjid—yang muncul ke permukaan. Namun kali ini, penurunan muka air bendungan mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir, menurut data Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau-Ciujung-Cidurian.

Kampung yang tenggelam tersebut adalah permukiman warga yang telah ada sejak puluhan tahun sebelum akhirnya dibebaskan untuk proyek bendungan pada 2009. Proses relokasi melibatkan 203 kepala keluarga yang menerima kompensasi sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah. Mereka menempati permukiman baru di Desa Karian yang lebih tinggi.

Kampung yang Muncul Kembali

Salah seorang warga yang rumahnya ikut tergusur saat pembangunan bendungan pada 2010 silam, Odon (52), mengaku terharu saat menyaksikan puing-puing bangunan itu kembali. "Biasanya kalau air tinggi, cuma kubah masjid saja yang kelihatan. Sekarang ini, banyak rumah yang tampak utuh, meski sudah rusak," kata Odon saat ditemui di sekitar area bendungan.

Odon menuturkan, kampung yang kini bernama administratif Desa Karian itu dulunya dihuni sekitar 200 kepala keluarga. Mereka direlokasi oleh pemerintah ke daerah yang lebih tinggi saat proyek bendungan serbaguna itu mulai digarap. "Ini seperti melihat kembali masa lalu. Banyak kenangan, tapi juga sedih," ujarnya dengan suara bergetar.

Wati (45), mantan warga lainnya, mengaku membawa serta anak dan cucunya untuk melihat langsung bekas rumahnya. "Anak saya lahir di sini, cucu saya belum pernah lihat. Ini jadi pelajaran sejarah buat mereka, agar tahu bahwa di bawah air yang luas itu dulu ada kehidupan," katanya.

Penurunan Debit Air Capai Level Mengkhawatirkan

Kepala BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian, Dr. Ir. Haryanto Wibowo, M.Eng., dalam keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa debit air Bendungan Karian saat ini hanya tersisa 38 persen dari kapasitas normal 314,7 juta meter kubik. "Penurunan ini merupakan dampak langsung dari musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya. Kami terus memantau dan mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak," jelas Haryanto.

Bendungan Karian sendiri merupakan infrastruktur vital yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2021. Selain untuk irigasi lahan pertanian seluas 22.000 hektare, bendungan ini juga berfungsi sebagai penyedia air baku bagi wilayah Jakarta, Tangerang, dan sekitarnya. Penurunan debit yang signifikan dikhawatirkan akan berdampak pada pasokan air bersih jika tidak segera terisi saat musim hujan tiba.

Dampak pada Pasokan Air Baku

Penurunan permukaan air juga mulai dirasakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Benteng yang mengandalkan suplai dari Bendungan Karian. Direktur PDAM Tirta Benteng, Hendra Gunawan, mengatakan bahwa pihaknya telah mengurangi tekanan distribusi sebesar 20 persen untuk menghemat stok air yang tersedia. "Kami sedang berkoordinasi dengan BBWS untuk memastikan keberlanjutan pasokan. Saat ini layanan masih aman, namun warga harus mulai berhemat," ujarnya.

Antara Nostalgia dan Kewaspadaan

Pengamat lingkungan dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Prof. Dr. Ahmad Syarif, mengingatkan agar fenomena munculnya kembali kampung tenggelam ini tidak hanya dijadikan tontonan. "Ini alarm bagi kita semua bahwa krisis air semakin nyata. Pemerintah harus serius dalam pengelolaan sumber daya air dan mitigasi perubahan iklim," tegasnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan telah memasang garis pembatas di sekitar area yang mengering untuk mencegah warga mendekati bangunan yang rapuh. "Kami khawatir struktur bangunan yang sudah lama terendam bisa ambruk dan membahayakan. Warga dilarang masuk ke area inti," kata Kepala Dinas, Agus Setiawan.

Bagi Odon dan warga lainnya, kemunculan kampung ini lebih dari sekadar fenomena alam. Mereka berencana menggelar doa bersama di tepi bendungan untuk mengenang tanah kelahiran yang telah berjasa menyediakan air bagi jutaan orang. "Kampung kami mungkin hilang, tapi pengorbanan kami tidak sia-sia. Semoga air ini bermanfaat untuk banyak orang," tutup Odon.

Hingga berita ini diturunkan, BBWS memperkirakan jika musim kemarau masih berlanjut hingga dua bulan ke depan, muka air berpotensi menyusut hingga 30 persen. Pemerintah daerah bersama pihak bendungan tengah menyiapkan skenario distribusi air darurat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User