Jakarta — Pergerakan harga sejumlah komoditas alam dunia pada penutupan perdagangan Jumat (9/10) menunjukkan arah yang saling bertolak belakang. Minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan batu bara ditetapkan melemah, sementara nikel dan timah justru mencatatkan penguatan di bursa logam internasional. Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun hingga Senin (12/10), harga CPO ditutup pada level MYR 4.592 per ton atau menyusut 1,48 persen, sedangkan batu bara melemah 0,40 persen ke posisi USD 148,85 per ton.
CPO Tertekan Meski Permintaan India Masih Deras
Penurunan harga CPO terjadi setelah komoditas ini sebelumnya sempat bergerak fluktuatif di kisaran MYR 4.670 per ton. Koreksi tersebut berlangsung di tengah dorongan harga minyak nabati yang lebih tinggi di pasar Dalian, China, dan Chicago, Amerika Serikat, serta laju pembelian dari India yang tetap pesat. Kondisi ini menempatkan pasar dalam posisi menunggu sejumlah katalis penting, termasuk pembahasan anggaran negara Malaysia yang diproyeksikan memuat dukungan bagi industri sawit nasional.
Selain anggaran, pelaku pasar juga menantikan rilis data bulanan dari Dewan Minyak Sawit Malaysia atau Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang lazim menjadi acuan dalam mengukur arah permintaan dan produksi. Adapun proyeksi harga CPO untuk kuartal IV tahun ini berada pada level MYR 4.658 per ton. Angka tersebut mencerminkan ekspektasi bahwa harga masih berpotensi bertahan di kisaran tinggi, meski tekanan jual jangka pendek masih membayangi perdagangan harian.
Batu Bara Menyusut Setelah Mendekati Puncak 2023
Pada komoditas batu bara, pelemahan 0,40 persen ke USD 148,85 per ton terjadi setelah sebelumnya harga sempat melonjak mendekati USD 150 per ton. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak September 2023. Lonjakan sebelumnya tidak terlepas dari keputusan Mahkamah Agung Australia yang menolak banding Mach Energy Australia terkait rencana perluasan tambang batu bara di New South Wales (NSW).
Dalam putusannya, mahkamah menilai otoritas perencanaan belum memperhitungkan secara memadai emisi yang dihasilkan oleh pelanggan yang membakar batu bara dari tambang tersebut. Keputusan ini menegaskan bahwa pertimbangan lingkungan, khususnya emisi karbon lingkup ketiga (scope 3), semakin diperhitungkan dalam persetujuan proyek energi di Australia. Implikasinya, pasokan batu bara dari kawasan tersebut berpotensi menghadapi hambatan ekspansi dalam jangka menengah.
Nikel dan Timah Kompak Menguat di Bursa LME
Berbeda dengan dua komoditas sebelumnya, harga nikel yang dikutip dari London Metal Exchange (LME) ditetapkan menguat ke posisi USD 15.622 per ton, naik 0,44 persen dibandingkan hari sebelumnya. Penguatan ini menandakan minat pelaku pasar terhadap logam basis tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Penguatan yang lebih signifikan terjadi pada timah. Harga timah di LME berada pada level USD 53.006 per ton atau menguat 3,03 persen dibandingkan perdagangan hari sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadikan timah sebagai komoditas dengan kenaikan tertinggi di antara empat komoditas yang dipantau pada periode ini. Pergerakan ini turut mencerminkan dinamika permintaan dari sektor elektronik dan industri paduan logam yang masih menjadi penopang utama konsumsi timah dunia.
Secara keseluruhan, fluktuasi harga keempat komoditas tersebut menggambarkan kondisi pasar yang masih sensitif terhadap kebijakan negara produsen, data lembaga industri, serta sentimen permintaan dari negara konsumen utama. Pasar disebut masih menanti sejumlah agenda lanjutan, termasuk arah kebijakan fiskal Malaysia dan rilis data industri yang dijadwalkan dalam waktu dekat, guna memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai arah harga komoditas pada sisa tahun ini.
Comments (0)