JAKARTA — Seniman senior Jaja Mihardja menegaskan tidak memiliki keinginan untuk mematenkan jargon khasnya, "apaan tuh", yang selama bertahun-tahun melekat pada dirinya. Pria yang dikenal melalui gaya ekspresi mata sebelah itu menyatakan jargon tersebut justru dibiarkan bebas digunakan oleh siapa pun, termasuk kalangan pelaku hiburan lain.
Pernyataan itu disampaikan Jaja ketika menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan mengklaim jargon tersebut sebagai kekayaan intelektual miliknya. Menurut dia, upaya mematenkan sebuah ungkapan yang telah menjadi ciri khas pribadi bukanlah hal yang perlu dilakukan.
"Ngapain? Jangan, biar orang pakai. Mending jangan ngakuin," ujar Jaja Mihardja.
Ia menambahkan bahwa jargon tersebut telah menjadi penanda yang membuat publik mudah mengenalinya. Karena itu, pembatasan penggunaan oleh pihak lain dinilai tidak relevan dengan kebutuhan seni pertunjukan maupun industri hiburan tanah air.
Gaya Khas Berawal dari Profesi Pembawa Acara
Jaja menuturkan, gaya bicara dengan ekspresi mata sebelah mulai terbentuk saat dirinya dipercaya menjadi pembawa acara. Pada masa itu, cara tampil tersebut sempat menuai protes dari sejumlah rekan sesama artis yang menilai dirinya tidak perlu berbeda dari kebiasaan umum.
Kendati demikian, ia memilih tetap mempertahankan gaya tersebut. Menurut Jaja, setiap seniman memiliki cara tersendiri dalam membawakan acara maupun saat bernyanyi, sehingga perbedaan penampilan bukan persoalan prinsipil.
"Kalau 'apaan tuh' pasti matanya sebelah," kata Jaja.
Ia juga mengisahkan reaksi rekan-rekannya yang mempertanyakan gaya tersebut. Meski mendapat tanggapan semacam itu, Jaja merasa gaya khasnya justru membantu dirinya tampil berbeda di atas panggung dan di depan kamera.
Dalam lintasan karier yang panjang, gaya tersebut tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi salah satu identitas yang melekat pada sosoknya di dunia hiburan nasional. Publik pun kerap mengasosiasikan ungkapan tersebut langsung dengan nama Jaja Mihardja.
Tanggung Jawab Sebagai Legenda
Seiring perjalanan kariernya, Jaja disebut sebagai maestro sekaligus legenda di bidang seni pertunjukan. Sebutan itu, menurut dia, membawa konsekuensi tersendiri berupa kewajiban menjaga sikap dan rekam jejak di ruang publik.
Ia mengakui beban tersebut cukup berat. Sebagai figur yang telah lama dikenal masyarakat, Jaja merasa harus lebih berhati-hati dalam bertindak maupun berbicara, agar tidak mengecewakan kepercayaan publik yang telah diberikan.
"Berat, berat juga nih nanggungnya. Sebab kalau udah legend kan aduh, gimana ya? Mesti sepak terjangnya mesti benar-benar. Itu aja, penjagaan. Ayah mesti hati-hati," kata Jaja.
Kendati demikian, ia menyampaikan rasa syukur karena masih dipercaya tampil dan berkarya di industri hiburan hingga kini. Menurut Jaja, kesempatan tersebut merupakan anugerah yang tidak lepas dari dukungan masyarakat dan rekan-rekan seprofesi.
Pengakuan Negara atas Kontribusi Seni
Sebelumnya, Jaja Mihardja menerima anugerah Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Prabowo Subianto. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan negara atas dedikasi dan kontribusinya terhadap perkembangan seni budaya Indonesia.
Pemberian tanda kehormatan itu menempatkan Jaja dalam deretan seniman yang dinilai berjasa besar dalam memperkaya khazanah budaya nasional. Penghargaan serupa umumnya diberikan kepada tokoh yang dinilai konsisten berkarya dan menjaga martabat dunia seni.
Dengan sikapnya yang menolak mematenkan jargon "apaan tuh", Jaja menegaskan bahwa warisan seni tidak selalu harus dimiliki secara eksklusif. Baginya, karya dan ciri khas seorang seniman justru hidup ketika dibiarkan mengalir dan dinikmati publik secara luas.
Pernyataan tersebut sekaligus mencerminkan pandangan bahwa eksistensi seorang legenda tidak ditentukan oleh klaim formal atas sebuah ungkapan, melainkan oleh pengakuan dan penerimaan masyarakat terhadap karya yang telah dihasilkan selama bertahun-tahun.
Comments (0)