Cipayung, Jakarta Timur — Tiga Pekerja Tewas di Gorong-gorong
Kapolsek Cipayung Kompol Saut Parulian Tobing mengungkapkan kronologi tewasnya tiga orang pekerja di dalam gorong-gorong kawasan Cipayung, Jakarta Timur, p
Kapolsek Cipayung Kompol Saut Parulian Tobing mengungkapkan kronologi tewasnya tiga orang pekerja di dalam gorong-gorong kawasan Cipayung, Jakarta Timur, pada Kamis (9/7/2026). Ketiga korban yang seluruhnya warga setempat itu ditemukan tidak bernyawa setelah proses evakuasi yang berlangsung dramatis selama hampir dua jam. Berdasarkan keterangan saksi dan olah tempat kejadian perkara (TKP), insiden maut itu bermula sekitar pukul 10.00 WIB ketika lima pekerja—termasuk tiga korban—masuk ke gorong-gorong beton berdiameter 1,2 meter dan panjang sekitar 40 meter di Jalan Raya Cipayung. Dua pekerja selamat yang berhasil keluar lebih dulu menyebut mereka tiba-tiba merasakan sesak napas, sementara tiga rekannya yang berada di titik lebih dalam tidak sempat menyelamatkan diri.
Saut menjelaskan, pukul 10.15 WIB, dua pekerja yang berada dekat lubang masuk berhasil merangkak keluar sambil berteriak minta tolong. Warga sekitar langsung menghubungi pihak kepolisian dan pemadam kebakaran. Tim penyelamat tiba pukul 10.35 WIB dan langsung melakukan pengecekan kadar gas di dalam gorong-gorong menggunakan detektor portabel. Hasil awal menunjukkan konsentrasi gas hidrogen sulfida (H₂S) dan metana yang melebihi ambang batas keselamatan. “Baru sekitar 20 menit setelah masuk, dua pekerja kami temukan sudah lemas, sementara satu lainnya berusaha merayap namun terhenti di jarak sekitar 15 meter dari mulut gorong,” kata Saut. Ia menambahkan, korban pertama berhasil dievakuasi pukul 11.20 WIB, menyusul korban kedua pukul 11.45 WIB, dan korban terakhir pukul 12.10 WIB dalam kondisi kaku. Para korban dinyatakan meninggal di lokasi oleh tim medis Puskesmas Cipayung yang sudah bersiaga.
Kronologi Rinci Insiden
Berdasarkan keterangan resmi Polsek Cipayung, berikut urutan kejadiannya:
- 09.45 WIB — Lima pekerja masuk gorong-gorong untuk pembersihan saluran tanpa prosedur keselamatan standar, seperti penggunaan alat bantu pernapasan (SCBA) atau blower ventilasi.
- 10.00 WIB — Dua pekerja yang berada di kedalaman kurang dari 5 meter mulai merasakan bau menyengat dan langsung berbalik arah.
- 10.10 WIB — Tiga pekerja lain di kedalaman 15–20 meter tak merespons panggilan rekannya.
- 10.15 WIB — Dua pekerja keluar dengan gejala pusing dan muntah, lalu melapor ke warga.
- 10.25 WIB — Warga melapor ke Polsek Cipayung.
- 10.35 WIB — Tim gabungan kepolisian, Damkar, dan medis tiba serta mulai deteksi gas.
- 11.20–12.10 WIB — Evakuasi tiga korban yang semuanya dinyatakan meninggal di tempat.
Analisis Faktor Risiko
Insiden ini menyoroti minimnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di proyek-proyek skala kecil atau perorangan. Gorong-gorong yang terhubung dengan saluran limbah domestik berpotensi menghasilkan hidrogen sulfida—gas yang sangat toksik dan bisa melumpuhkan dalam hitungan menit. Saut menegaskan, tidak ada izin kerja tertulis untuk aktivitas pembersihan hari itu. “Ini murni insiden kerja yang seharusnya bisa dicegah bila menggunakan prosedur confined space entry yang meliputi deteksi gas awal, ventilasi paksa, dan penggunaan APD lengkap,” ucapnya.
Perbandingan Data — Kasus Serupa di Jakarta 2025–2026
| Lokasi | Tanggal | Jumlah Korban | Penyebab Dominan |
|---|---|---|---|
| Cipayung, Jaktim | 9/7/2026 | 3 | Gas H₂S & metana |
| Cakung, Jaktim | 18/2/2026 | 1 | Longsor galian |
| Penjaringan, Jakut | 3/11/2025 | 2 | Kehabisan oksigen |
| Pasar Rebo, Jaktim | 7/7/2025 | 1 | Keracunan gas ammonia |
Data dihimpun dari laporan kepolisian dan Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta.
Pandangan Ahli
Dr. Andini Mursida, ahli toksikologi lingkungan dari Universitas Indonesia, mengatakan bahwa konsentrasi H₂S di atas 100 ppm sudah dapat menyebabkan kelumpuhan saraf penciuman dan kematian dalam hitungan menit. “Dengan kondisi gorong-gorong tertutup dan minim sirkulasi, kadar gas bisa naik drastis hanya dalam waktu singkat,” ujarnya saat dihubungi terpisah. Ia menyarankan agar pekerja yang masuk ke ruang terbatas selalu dilengkapi detektor multi-gas serta sistem pemantauan dari luar.
Kasus tiga pekerja tewas di Cipayung ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketenagakerjaan di sektor informal dan proyek perbaikan skala kecil. Polsek Cipayung masih menyelidiki kemungkinan unsur kelalaian yang mengarah pada pidana ringan terkait keselamatan kerja.
Comments (0)