Bimtek Rashdul Kiblat Kemenag Rejang Lebong Tingkatkan Akurasi Arah Kiblat

REJANG LEBONG — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, menggelar bimbingan teknis metode Rashdul Kiblat guna mempertajam kemampuan aparatur dan masyarakat dalam menentukan arah ...

Jul 12, 2026 - 04:21
0 1
Bimtek Rashdul Kiblat Kemenag Rejang Lebong Tingkatkan Akurasi Arah Kiblat

REJANG LEBONG — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, menggelar bimbingan teknis metode Rashdul Kiblat guna mempertajam kemampuan aparatur dan masyarakat dalam menentukan arah kiblat secara presisi. Kegiatan yang berlangsung di aula kantor setempat pada Kamis (6/3) ini diikuti puluhan peserta dari penyuluh agama, penghulu, serta perwakilan masjid dan mushala se-Kabupaten Rejang Lebong.

Kepala Kantor Kemenag Rejang Lebong, Drs. H. M. Arifin, M.Pd.I., menegaskan bahwa bimtek ini merupakan respons atas dinamika di lapangan yang kerap menyisakan keraguan publik terhadap keakuratan arah kiblat. “Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan perkiraan. Akurasi arah kiblat adalah bagian dari kesempurnaan ibadah. Momen Rashdul Kiblat memberikan kesempatan bagi umat untuk mengkalibrasi arah kiblat secara langsung dengan memanfaatkan bayangan matahari,” ucapnya saat membuka acara.

Landasan Ilmu Falak dalam Penentuan Kiblat

Bimtek menghadirkan narasumber dari Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama Pusat, Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag., yang memaparkan dasar-dasar ilmu falak terkait penentuan arah kiblat. Ia menjelaskan bahwa metode Rashdul Kiblat atau hari pengukuran kiblat terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada 27—28 Mei dan 15—16 Juli, ketika posisi matahari tepat berada di atas Kabah. Saat itu, segala benda yang berdiri tegak akan membentuk bayangan yang menunjuk langsung ke arah kiblat.

Rashdul Kiblat merupakan teknik verifikasi paling sederhana namun telah teruji secara ilmiah. Kami ingin memastikan bahwa setiap masjid dan mushala di Rejang Lebong dapat memanfaatkan fenomena ini untuk menghindari penyimpangan arah kiblat yang selama ini masih terjadi akibat pergeseran bangunan atau metode pengukuran yang kurang tepat,” ungkapnya. Peserta dibekali materi mengenai perhitungan azimuth, deklinasi matahari, serta penggunaan alat bantu seperti kompas, busur derajat, dan aplikasi astronomi modern.

Peserta dari Berbagai Unsur Keagamaan

Sebanyak 65 peserta yang terdiri atas penyuluh agama Islam, penghulu KUA, serta pengurus masjid dan mushala mengikuti kegiatan tersebut secara intensif. Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Rejang Lebong, Hj. Nurhayati, S.Ag., menyebutkan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi. “Banyak dari mereka yang mengaku baru pertama kali mendalami metode Rashdul Kiblat secara detail. Selama ini mereka hanya tahu bahwa arah kiblat adalah 295 derajat dari utara, tetapi tidak memahami cara mengukurnya secara langsung,” katanya.

Peserta tidak hanya mendapat teori, namun juga praktik langsung di halaman kantor Kemenag. Tepat pada pukul 16.18 WIB—waktu ketika matahari berada di titik Rashdul Kiblat—seluruh peserta mengukur arah bayangan dengan tongkat dan benang. Hasil pengukuran dibandingkan dengan data aplikasi hisab rukyat menunjukkan deviasi rata-rata kurang dari dua derajat, yang dinilai masih dalam batas toleransi syariat. Simulasi ini menjadi modal penting bagi para peserta untuk melakukan hal serupa di wilayahnya masing-masing.

Instruksi Pelaksanaan Verifikasi Massal

Menindaklanjuti bimtek ini, Kemenag Rejang Lebong menerbitkan surat edaran yang meminta seluruh takmir masjid dan mushala melakukan verifikasi arah kiblat menggunakan metode Rashdul Kiblat pada kesempatan Juli mendatang. “Kami ingin gerakan ini menjadi gerakan serentak. Jangan sampai ada masjid yang selama puluhan tahun salah arah kiblat tanpa ada upaya koreksi,” tegas Arifin. Pihaknya juga menginstruksikan penyuluh agama untuk melakukan pendampingan di wilayah binaan.

Kasi Bimas Islam menambahkan, bagi bangunan yang ditemukan mengalami penyimpangan signifikan, pengurus diminta segera melaporkan ke KUA setempat agar dapat dilakukan rekonstruksi saf yang tepat. “Tidak perlu membongkar bangunan, cukup dengan mengatur ulang shaf salat agar batang tubuh jamaah tetap sejajar dengan arah kiblat yang benar,” ujarnya. Ia juga mendorong penggunaan teknologi sederhana seperti mizwala (jam matahari penunjuk kiblat) sebagai alat bantuan permanen di masjid.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program prioritas Kemenag Kabupaten Rejang Lebong tahun anggaran 2025 dalam meningkatkan literasi astronomi keagamaan. Dengan bekal bimtek, diharapkan para peserta mampu menjadi kader penggerak akurasi kiblat di lingkungannya. “Ini bukan sekadar teknis, tetapi ibadah. Akurasi arah kiblat adalah bukti perhatian kita terhadap syarat sah salat,” pungkas Arifin.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User