Pengerukan Waduk Pluit Cegah Pendangkalan dan Genangan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Tata Air mulai melakukan pengerukan massal di Waduk Pluit, Kepulauan Seribu pada Selasa, 11 Desember 2024. Upaya ini dilakukan sebagai langkah antisipatif...

Jul 16, 2026 - 06:13
0 0
Pengerukan Waduk Pluit Cegah Pendangkalan dan Genangan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Tata Air mulai melakukan pengerukan massal di Waduk Pluit, Kepulauan Seribu pada Selasa, 11 Desember 2024. Upaya ini dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk mencegah pendangkalan dan menjaga fungsi retensi air waduk di tengah curah hujan tinggi yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta, Ali Caid Shodiq, menegaskan pengerukan ini merupakan program rutin tahunan yang disahkan melalui APBD 2024 untuk menjaga kapasitas tampung air.

Teknis Pengerukan dan Pemeliharaan Alat

Pengerukan dilakukan menggunakan dua unit eskavator berkapasitas besar dan satu tongkang layanan yang dioperasikan langsung di badan waduk. Proses pengangkatan lumpur dan sampah terpadu ini berlangsung dari pukul 07.00 hingga 15.00 WIB dengan target pengerukan mencapai kedalaman 3 meter di beberapa titik kritis. Kepala Seksi Pemeliharaan Sistem Pengairan Dinas Tata Air, Budi Santoso, menyatakan dalam rapat koordinasi teknis bahwa material hasil pengerukan akan diangkut ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) regional untuk diolah lebih lanjut.

"Pengerukan ini sudah menjadi keputusan teknis berdasarkan UU No. 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air. Kami menindaklanjuti rekomendasi dari evaluasi kinerja waduk semester II 2024," kata Budi Santoso di lokasi pengerukan.

Lokasi Waduk Pluit yang berada di kawasan padat penduduk Jakarta Utara menjadikan pemeliharaan ini krusial. Data Dinas Tata Air menunjukkan akumulasi sedimentasi mencapai 1,2 juta meter kubik dalam lima tahun terakhir. Tanpa pengerukan rutin, kapasitas waduk dari total 3,6 juta meter kubik bisa berkurang hingga 40%, mengancam fungsi penanggulangan banjir untuk area seluas 850 hektar di sekitarnya.

Dampak terhadap Sistem Pengairan Regional

Waduk Pluit merupakan komponen vital dari jaringan pengairan regional Jakarta Utara yang menghubungkan Sungai Ciliwung dengan Kali Angke. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menambahkan bahwa pengerukan ini juga bertujuan meningkatkan kualitas air dengan mengurangi beban organik dari endapan lumpur. Dalam pleno evaluasi pengelolaan waduk, disepakati bahwa hasil pengerukan akan diuji laboratorium untuk menentukan kemanfaatan material sebagai bahan konstruksi atau reklamasi.

Sejak dimulainya operasi pengerukan, lalu lintas di sekitar Jalan Pluit Karang Barat mengalami pengaturan khusus. Kasat Lantas Polres Kepulauan Seribu, AKP Rinto Harto, membenarkan adanya koordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk mengatur jalur alternatif bagi kendaraan pengangkut material. "Kami tempatkan dua personel di simpang utama untuk memastikan aktivitas pengerukan tidak mengganggu mobilitas warga," ujarnya saat dikonfirmasi.

Rencana Lanjutan dan Pengawasan Kualitas Air

Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Jakarta, Arief Nasruddin, menyatakan bahwa pengerukan ini juga mempengaruhi kualitas bahan baku air mentah untuk instalasi pengolahan di Pluit. Dalam surat edaran tertanggal 10 Desember 2024, Perumda Jakarta menginstruksikan peningkatan frekuensi pengawasan parameter kekeruhan dan kadar besi di intake point waduk. Pengawasan ini dilakukan setiap dua jam selama masa pengerukan berlangsung.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menganggarkan dana sebesar Rp47,8 miliar dalam APBD 2024 untuk program pemeliharaan seluruh waduk di ibu kota, dengan Waduk Pluit mendapatkan porsi terbesar sekitar 35% dari total anggaran. Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di DPRD DKI Jakarta sebelumnya menyetujui alokasi dana ini dalam rapat paripurna pembahasan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) pada September 2024. Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Abdul Ghoni, menegaskan pentingnya transparansi penggunaan dana pengerukan ini kepada publik.

Kegiatan pengerukan dijadwalkan berlangsung hingga akhir Januari 2025 dengan empat tahapan pengerukan di lokasi berbeda. Dinas Tata Air akan menerapkan sistem pemantauan real-time menggunakan sensor kedalaman otomatis di enam titik kunci waduk. Data ini akan diintegrasikan ke Sistem Pengawasan Pengairan Terpadu (SPPT) milik Pemprov DKI untuk analisis prediktif terhadap potensi pendangkalan di masa mendatang.

Masyarakat sekitar Waduk Pluit menyambut positif program pengerukan ini. Ketua RW 05 Kelurahan Penjaringan, Suharyono, menyatakan dalam pertemuan dengan Dinas Tata Air bahwa warga berharap pengerukan dapat mengurangi genangan musiman yang sering terjadi di Jalan Pluit Selatan Raya. "Kami siap mendukung operasional pengerukan dengan tidak membuang sampah sembarangan ke badan waduk," katanya merepresentasikan aspirasi warga setempat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User