BI Pertahankan Suku Bunga Acuan Stabilkan Rupiah
Jakarta – Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI-7DRRR) pada level 6,00 persen dalam rapat Dewan Gubernur tanggal 15 Januari 2026, keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nil...
Jakarta – Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI-7DRRR) pada level 6,00 persen dalam rapat Dewan Gubernur tanggal 15 Januari 2026, keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan respons terhadap inflasi yang terkendali pada level 2,4 persen year-on-year per Desember 2025, serta mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,1 persen pada 2026.
Latar Belakang Keputusan Moneter
Dalam rapat koordinasi yang digelar di gedung BI Pusat, Jakarta, pada hari Senin, Dewan Gubernur menilai bahwa kondisi ekonomi domestik mendukung kebijakan moneter yang hati-hati. Perry Warjiyo menyatakan, "Keputusan ini menindaklanjuti data terkini yang menunjukkan stabilitas harga dan aliran modal masuk yang moderat." Rupiah diperdagangkan pada kisaran Rp 15.450 per dolar AS pada saat pengumuman, mengalami apresiasi tipis sebesar 0,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Faktor eksternal, seperti kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat yang mempertahankan suku bunga tetap, turut menjadi pertimbangan dalam rapat pleno tersebut.
Dampak terhadap Perekonomian Nasional
Keputusan BI ini berdampak langsung pada sektor perbankan dan pasar keuangan. Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), suku bunga deposito rata-rata perbankan nasional tetap stabil pada 4,5 persen, sementara pinjaman baru tumbuh sebesar 8,2 persen year-on-year per kuartal IV 2025. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jakarta, bahwa kebijakan moneter yang konsisten mendukung target defisit anggaran sebesar 2,3 persen dari PDB pada 2026. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa neraca perdagangan mengalami surplus USD 3,2 miliar pada Desember 2025, yang menguatkan posisi rupiah.
Reaksi Pasar dan Proyeksi
Pasar modal Indonesia merespons positif dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 1,1 persen pada sesi perdagangan setelah pengumuman. Analis dari Bank Mandiri, Rudiantara, menegaskan bahwa keputusan BI memberikan kejelasan bagi investor. "Stabilitas suku bunga mendorong aliran modal portofolio masuk sebesar IDR 12,5 triliun dalam minggu pertama Januari 2026," ujarnya dalam laporan riset. BI memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 15.300–15.600 per dolar AS hingga akhir kuartal I 2026, berdasarkan model makroekonomi internal. Perry Warjiyo menambahkan bahwa bank sentral akan terus memantau perkembangan global, termasuk potensi perubahan kebijakan moneter di Eropa.
Langkah Selanjutnya dan Komitmen Kebijakan
Dalam rapat koordinasi lanjutan yang dijadwalkan pada bulan Februari 2026, Dewan Gubernur akan mengevaluasi dampak kebijakan terhadap inklusi keuangan. Berdasarkan UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, bank sentral memiliki mandat untuk menjaga stabilitas nilai rupiah. Perry Warjiyo menegaskan komitmen untuk menggunakan instrumen moneter secara fleksibel. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka pengangguran tercatat sebesar 5,3 persen pada November 2025, yang menjadi indikator pendukung dalam pengambilan keputusan. Keputusan ini juga sejalan dengan rencana pemerintah untuk mempercepat proyek infrastruktur senilai IDR 450 triliun pada 2026, yang diharapkan dapat menyerap tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan.
Kesimpulannya, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan merupakan langkah strategis untuk menjaga keseimbangan ekonomi nasional. Perry Warjiyo menegaskan bahwa prioritas utama adalah stabilitas makroekonomi, sambil mendukung agenda pembangunan pemerintah. Dengan data yang solid dan koordinasi antarlembaga, rupiah diproyeksikan tetap tangguh menghadapi tantangan global pada 2026.
Comments (0)