Bener Meriah, Aceh — Warga Gotong Royong Perbaiki Jembatan Enang-Enang

Suara gemericik Sungai Peusangan yang deras tak lagi menjadi latar sunyi yang mencekam. Setelah lebih dari delapan bulan hanya bisa dilintasi dengan susah

Jul 08, 2026 - 04:16
0 0
Bener Meriah, Aceh — Warga Gotong Royong Perbaiki Jembatan Enang-Enang

Suara gemericik Sungai Peusangan yang deras tak lagi menjadi latar sunyi yang mencekam. Setelah lebih dari delapan bulan hanya bisa dilintasi dengan susah payah—atau bahkan tidak sama sekali—Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, akhirnya kembali bisa dilewati kendaraan. Bukan pemerintah atau kontraktor besar yang memperbaikinya, melainkan tangan-tangan warga setempat yang bahu-membahu mengumpulkan dana hingga Rp1 miliar secara swadaya.

Jembatan ini bukan sekadar penghubung fisik. Bagi ribuan warga di Kecamatan Pintu Rime Gayo dan sekitarnya, ia adalah urat nadi ekonomi dan sosial. Ketika jembatan ambruk akibat diterjang banjir bandang pada awal tahun, praktis aktivitas warga lumpuh. Anak-anak terpaksa menyeberang sungai dengan rakit darurat untuk ke sekolah. Petani kopi yang menjadi andalan daerah itu kesulitan mengangkut hasil panen, hingga harga jual di tingkat lokal anjlok.

Delapan Bulan dalam Ketidakpastian

Selama 240 hari lebih, warga hidup dalam ketidakpastian. Jalur alternatif memutar hingga belasan kilometer, memakan waktu tempuh berjam-jam. Setiap kali mendengar suara truk yang terpaksa putar balik, hati kami seperti diiris, kenang Muhammad Syukri (45), seorang petani kopi yang kebunnya berada di sisi lain jembatan. Bagi warga, menunggu bantuan pemerintah adalah kemewahan yang tak bisa mereka beli. Birokrasi yang panjang dan anggaran yang tak kunjung jelas membuat mereka memilih bertindak sendiri.

Inisiatif dari Warung Kopi

Semua bermula dari obrolan ringan di sebuah warung kopi di Desa Blang Rakal. Beberapa tokoh masyarakat dan pemuda setempat mulai melempar gagasan: bagaimana jika mereka menggalang dana sendiri? Tanpa komando resmi, informasi itu menyebar dari mulut ke mulut. Dua hari kemudian, terbentuklah panitia kecil yang terdiri dari perangkat desa, imam masjid, dan beberapa sukarelawan muda. Mereka membuka rekening bersama, lengkap dengan laporan keuangan sederhana yang ditempel di papan pengumuman desa—bukan untuk formalitas, tapi demi menjaga kepercayaan di tengah warga.

Gotong Royong, Rupiah demi Rupiah

Penggalangan dana bergulir dalam berbagai bentuk. Ada kotak sumbangan yang diletakkan di masjid-masjid, toko kelontong, dan pasar tradisional. Ada pula warga yang menyisihkan sebagian hasil panen kopi. Seorang pemilik kebun bahkan menjual satu ekor sapi untuk disumbangkan seluruhnya. Total uang yang terkumpul, dari ribuan kepala keluarga, mencapai Rp1 miliar dalam waktu kurang dari tiga bulan. Dana itu sepenuhnya digunakan untuk membeli material utama: besi, semen, dan batu pondasi. Adapun tenaga kerja, sepenuhnya berasal dari warga yang bergotong royong setiap hari, dari subuh hingga petang.

“Kami tidak bisa menunggu lebih lama. Anak-anak kami harus sekolah, kopi kami harus keluar. Kalau bukan kami yang memperbaiki, siapa lagi?” ujar Syukri dengan nada rendah namun penuh keyakinan.

Pembangunan Tanpa Seremoni

Tidak ada seremoni peletakan batu pertama, apalagi peresmian dengan pita dan tepuk tangan. Proses pembangunan berlangsung selama hampir dua bulan, dikawal langsung oleh warga. Para pemuda bergantian mengaduk semen dan mengangkat batu, sementara kaum ibu menyediakan makanan dan minuman bagi para pekerja. Bahkan para lansia ikut mengawasi dari tepian, memberikan semangat dan doa. Hingga akhirnya, menjelang akhir Oktober lalu, jembatan dengan lebar empat meter dan panjang 25 meter itu rampung dan bisa dilalui kendaraan roda empat.

Kini, bukan hanya kendaraan yang kembali melintas; senyum warga dan denyut ekonomi pun kembali mengalir bersama aliran sungai di bawahnya. Mereka membuktikan bahwa di tengah segala keterbatasan, solidaritas dan gotong royong masih menjadi fondasi paling kokoh. Jembatan Enang-Enang bukan hanya tentang beton dan besi—ia adalah monumen ketangguhan warga yang menolak menyerah pada keadaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User