Saling Tindih Berebut Gunungan 'Berkah' di Yogyakarta, Ribuan Warga Padati Alun-Alun
Suara takbir dan shalawat yang mengalun syahdu dari dalam Masjid Gedhe Kauman mendadak pecah oleh gemuruh teriakan massal. Tepat ketika aba-aba dilepas, la
Suara takbir dan shalawat yang mengalun syahdu dari dalam Masjid Gedhe Kauman mendadak pecah oleh gemuruh teriakan massal. Tepat ketika aba-aba dilepas, lautan manusia yang sudah berdesakan sejak subuh di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta bergerak serempak bak ombak menerjang karang. Tubuh-tubuh itu saling tindih, saling sikut, tanpa memedulikan kaki yang terinjak atau ujung baju yang robek. Pandangan ribuan mata itu hanya tertuju pada satu objek: gunungan hasil bumi yang mulai dikawal keluar oleh puluhan Bregada Prajurit Keraton dalam prosesi Hajad Dalem Garebeg Syawal. Dalam hitungan menit yang menegangkan, lebih dari 80 tumpeng, gunungan kakung, gunungan estri, dan gunungan pawohan ludes tak bersisa diperebutkan warga. Bukan sekadar tradisi, perebutan ini adalah manifestasi dahaga spiritual warga yang meyakini bahwa setiap butir padi dan lembar sayur dari raja mengandung berkah pengusir bala dan pembuka pintu rezeki.
Detik-detik "Perang" Memperebutkan Restu Raja
Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika Suwarno (54), seorang petani asal Bantul, mulai gelisah. Tangannya yang kapalan menggenggam erat seorang bocah lelaki, cucunya, yang hampir terhanyut dalam dorongan massa. "Sing kenceng, Le. Nek kecekel, aja nganti ucul!" pekiknya lirih di tengah hingar-bingar. Pemandangan di sekelilingnya adalah kekacauan yang anomali; di satu sisi tampak senyum sumringah, di sisi lain tampak wajah-wajah memelas saat jemari yang sudah nyaris menyentuh batang kacang panjang tiba-tiba direbut oleh tangan yang lebih kuat dan cepat. Siapa cepat, dia dapat. Hukum rimba itu berlaku mutlak di hamparan pasir alun-alun yang membara diterpa terik.
Puncak acara terjadi ketika gunungan kakung—sebuah konstruksi megah setinggi dua meter yang tersusun rapi dari cabai merah, terong ungu, kacang panjang, dan buncis—mulai diusung. Para pembawa gunungan yang dikelilingi prajurit berseragam merah sempat kewalahan. Penghalang manusia tak mampu membendung gelombang massa yang menerobos barikade.
“Saya sudah dari jam empat pagi di sini. Saya tidak butuh banyak, cukup dapat sejumput beras atau sebatang cabai saja. Ini bukan soal makan, ini soal ngalap berkah. Katanya, kalau disebar di sawah, hama akan pergi dan panen akan melimpah,” ujar Suwarno dengan mata masih liar menerawang ke arah reruntuhan gunungan yang sudah rata dengan tanah.
Filosofi di Balik Kaki yang Terinjak dan Baju yang Robek
Bagi masyarakat Jawa yang memegang teguh tradisi, apa yang terjadi di alun-alun bukanlah sekadar aksi brutal memperebutkan sayur-mayur gratis. Ini adalah rantai transendental antara kawula dan gusti, antara rakyat dan raja yang dianggap sebagai Khalifatullah. Prosesi ini menandai berakhirnya bulan Ramadan dan dirayakan sebagai puncak kegembiraan spiritual pada 1 Syawal. Tiga jenis gunungan yang diperebutkan memiliki makna simbolisnya sendiri. Gunungan kakung yang berbentuk kerucut melambangkan lingga berdasarkan sedekah Sultan, sementara gunungan estri yang lebih didominasi oleh hasil olahan seperti rengginang dan ketupat melambangkan harmoni kesuburan. Adapun gunungan pawohan yang berisi buah-buahan segar, selalu menjadi incaran utama karena diyakini membawa ketentraman batin.
Tak pelak, peristiwa ini selalu menyisakan korban luka ringan. Panitia dari Keraton dan relawan PMI yang bersiaga di sudut-sudut lapangan mencatat setidaknya puluhan warga mengalami lecet dan pusing akibat berdesakan, bahkan beberapa harus dievakuasi karena sesak napas. Namun, anehnya, catatan medis itu seolah tak pernah mengurangi jumlah peserta. Tahun ini, angka partisipan justru membengkak signifikan pasca-pandemi, menembus lebih dari 10.000 jiwa yang membludak dari berbagai penjuru Jawa Tengah dan DIY.
Dari Alun-Alun Menuju Lumbung dan Ladang
Begitu potongan gunungan berhasil direbut, perilaku warga berubah 180 derajat. Dari yang semula beringas, mereka berubah menjadi sangat protektif dan hati-hati. Potongan ketimun seukuran jari kelingking dibungkus rapi dengan plastik atau sapu tangan. Sebagian kecil akan langsung dimakan mentah-mentah di tempat sebagai bentuk syukur, tetapi mayoritas akan membawanya pulang untuk ritual yang lebih besar: ditanam di pekarangan, ditaburkan di atas gerobak jualan, atau diletakkan di setiap sudut rumah. Keyakinan tolak balak ini begitu kuat mengakar. Bagi mereka, nilai magis dari panjengan Dalem tidak bisa digantikan oleh hasil bumi mana pun yang dibeli di pasar.
Ketika alun-alun mulai menyepi dan hanya menyisakan sampah dedaunan yang berserakan, Suwarno akhirnya tersenyum getir. Genggamannya terbuka, memperlihatkan segenggam kecil beras kuning yang bercampur keringat. “Lumayan. Tahun depan harus bawa lebih banyak orang,” bisiknya mantap. Ritual ini adalah tentang kepercayaan—tentang bagaimana sebutir padi dari tangan seorang Sultan menjadi lebih berharga dari sekadar nilai jualnya di pasaran.
Comments (0)