Antrean Mengular, Stok Menipis dalam Hitungan Jam
Kerumunan mulai terbentuk pukul 05.30 WIB. Panitia yang hanya menyediakan 1.200 paket sembako subsidi kewalahan membendung antusiasme massa. Dalam waktu kurang dari tiga jam, seluruh stok
Minyakita ukuran 1 liter seharga Rp14.000—lebih murah Rp2.500 dari harga eceran tertinggi (HET)—ludes diserbu pembeli.
"Saya datang jam enam pagi, tapi nomor antrean sudah habis. Katanya stok Minyakita cuma 400 dus. Nggak kebagian," ujar Sumarni, warga Cengkareng yang pulang dengan tangan kosong.
Petugas keamanan terpaksa membatasi akses masuk setelah antrean membeludak hingga ke bahu jalan. Beberapa warga melaporkan insiden dorong-dorongan saat distribusi dimulai.
Fakta di Balik Rebutan: Beda Harga Mencolok
Data Dinas Perdagangan mencatat disparitas harga yang memicu kepanikan ini. Berikut perbandingan harga komoditas dalam bazar versus harga pasar harian per 13 Maret 2026:
-
Minyakita: Rp14.000/liter di bazar vs Rp16.500—Rp18.000 di pasar tradisional
-
Beras SPHP: Rp10.800/kg di bazar vs Rp12.500—Rp13.500 di pasaran
-
Telur: Rp23.000/kg di bazar vs Rp28.000—Rp30.000 di tingkat eceran
Selisih harga Minyakita menjadi pemicu utama kepadatan. Komoditas ini mengalami
tekanan distribusi paling parah sejak awal bulan setelah dua distributor besar di Jawa Barat mengurangi pasokan mingguan masing-masing sebesar 15% dan 22%.
Dampak ke Pedagang Kecil dan Rumah Tangga
Narsih, pemilik warung sembako di Tangerang, mengaku sudah dua pekan kesulitan mendapatkan Minyakita dari agen resmi. Ia terpaksa membeli dari pengecer lain dengan harga Rp16.800 per liter.
"Saya jual lagi Rp17.500. Pembeli komplain terus dibilang di atas HET. Tapi dari agen sendiri barangnya nggak ada. Kalau beli di bazar begini juga dibatasi maksimal dua liter per orang, nggak cukup buat stok warung," keluhnya.
Pantauan di lapangan, sejumlah warga yang berhasil membeli langsung menjual kembali Minyakita ke tetangga dengan margin Rp2.000—Rp3.000 per liter. Praktik ini menambah panjang rantai spekulasi yang justru menjauhkan komoditas bersubsidi dari konsumen paling membutuhkan.
Respons Pemerintah
Kementerian Perdagangan melalui Satuan Tugas Pangan menyatakan akan menambah 2,4 juta liter Minyakita ke pasar dalam dua pekan ke depan. Operasi pasar murah juga dijadwalkan serentak di 12 kota dengan total 8.500 titik distribusi. Namun pengamat kebijakan pangan dari LPEM UI, Rizal Taufik, mengingatkan bahwa tambahan pasokan hanya solusi jangka pendek.
"Masalah strukturalnya di pengawasan distribusi. Selama HET tidak diimbangi insentif bagi distributor dan pengecer, disparitas harga akan terus memicu panic buying seperti ini. Pemerintah perlu memastikan barang sampai ke warung, bukan hanya ke bazar yang sifatnya seremonial," jelas Rizal.
Hingga sore hari, kerumunan serupa dilaporkan terjadi di Pasar Induk Kramat Jati dan kawasan Tambun, Bekasi. Polisi mengimbau warga tidak terpancing isu kelangkaan dan melaporkan praktik penimbunan ke call center Satgas Pangan di 1500-907.
Comments (0)