Washington — Trump Umumkan Kesepakatan Damai Iran Berakhir

WASHINGTON, Apaberita — Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Minggu (5/7/2026), secara resmi menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dan damai deng

Jul 09, 2026 - 05:41
0 0

WASHINGTON, Apaberita — Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Minggu (5/7/2026), secara resmi menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dan damai dengan Iran telah berakhir. Keputusan ini diambil sebagai respons langsung atas serangan baru yang dilancarkan oleh kekuatan proksi Iran di kawasan Timur Tengah dalam 48 jam terakhir.

Pengumuman yang disampaikan dari Ruang Oval Gedung Putih itu menandai berakhirnya perjanjian damai yang ditengahi oleh Uni Eropa dan Rusia pada Oktober 2025 lalu. Kesepakatan yang baru berjalan sembilan bulan itu mencakup penghentian sanksi ekonomi terhadap Teheran dengan imbalan penghentian total program pengayaan nuklir dan penarikan milisi pendukungnya dari Suriah dan Yaman.

Kronologi Serangan Pemicu

Menurut keterangan Pentagon, serangkaian serangan pesawat nirawak dan rudal terjadi pada Jumat malam (3/7/2026) terhadap dua kapal tanker minyak berbendera Amerika Serikat di perairan Teluk Oman serta pangkalan militer AS di Bahrain. Serangan yang menewaskan tiga personel Angkatan Laut AS dan 12 lainnya luka-luka itu diklaim oleh “Brigade Hizbullah Irak,” kelompok bersenjata yang menurut intelijen AS memiliki hubungan langsung dengan Pasukan Quds Iran.

Data satelit yang dirilis CENTCOM menunjukkan 17 titik tumbukan di sekitar pelabuhan dan landasan pacu, dengan kerugian material diperkirakan mencapai USD 280 juta. Ini merupakan serangan terbesar terhadap aset militer AS di Teluk sejak insiden Teluk Persia tahun 2019.

“Kami tidak akan mentoleransi agresi terhadap warga dan personel militer Amerika. Perjanjian damai dengan rezim Iran sudah mati. Saya telah memerintahkan pemberlakuan kembali sanksi maksimum, efektif segera,” tegas Trump di hadapan wartawan.

Presiden AS itu menambahkan bahwa kapal induk USS Gerald R. Ford yang sudah berada di Laut Arab akan segera bergerak ke Teluk Persia, sementara dua skuadron tambahan pesawat tempur F-35 dikerahkan ke Pangkalan Udara Al-Dhafra di Uni Emirat Arab. Pentagon mengonfirmasi bahwa total penambahan kekuatan mencakup 4.500 personel, 42 pesawat tempur, dan 3 kapal perang.

Reaksi Internasional

Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, melalui konferensi pers darurat di Teheran menyebut tuduhan AS “tidak berdasar” dan menuduh bahwa insiden tersebut adalah operasi bendera palsu yang direkayasa oleh Israel. Namun, Teheran belum memberikan bukti atas klaim tersebut.

Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat pada Senin pagi waktu New York. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan “keprihatinan mendalam” dan menyerukan semua pihak untuk “menahan diri secara maksimal.” Di sisi lain, Uni Eropa masih berharap bahwa kesepakatan nuklir dapat “dihidupkan kembali melalui diplomasi,” menurut pernyataan Josep Borrell, Kepala Kebijakan Luar Negeri UE.

Dampak Pasar dan Sanksi

Pengumuman ini langsung memicu gejolak di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak 9,2% ke level USD 107,8 per barel pada penutupan perdagangan Jumat malam waktu New York. Indeks Dow Jones ditutup turun 2,7% sementara indeks volatilitas (VIX) naik 35%.

  • Sanksi baru mencakup larangan total ekspor minyak Iran, dengan target ambang batas nol ekspor dalam 90 hari.
  • Pemblokiran aset Bank Sentral Iran senilai USD 14 miliar di luar negeri.
  • Travel ban untuk 78 pejabat senior militer dan politik Iran.
  • Larangan bagi perusahaan asing yang bertransaksi dengan industri petrokimia Iran untuk mengakses pasar AS.

Para analis memperkirakan bahwa perekonomian Iran, yang baru mulai pulih setelah pertumbuhan 4,3% pada kuartal pertama 2026, berpotensi mengalami kontraksi hingga -6% pada tahun fiskal berikutnya. Inflasi yang sempat turun ke tingkat 23% tahunan diprediksi akan kembali melonjak ke kisaran 45-50%.

Situasi keamanan di Timur Tengah kini memasuki fase ketidakpastian tertinggi sejak perang Israel-Hamas tahun 2023. Para pemantau konflik di International Crisis Group memperingatkan bahwa kemungkinan eskalasi menjadi konfrontasi militer langsung antara AS dan Iran kini “lebih tinggi dari titik mana pun dalam satu dekade terakhir.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User