Jakarta — Polisi Segel Kafe de’Clan dan Money Changer Terkait Tiga Kasus Korupsi
Suasana di bilangan Cipete, Jakarta Selatan, berubah tegang pada Rabu (8/7/2026) sore. Sejumlah petugas kepolisian dari Polda Metro Jaya menutup akses seba
Suasana di bilangan Cipete, Jakarta Selatan, berubah tegang pada Rabu (8/7/2026) sore. Sejumlah petugas kepolisian dari Polda Metro Jaya menutup akses sebagian kafe de’Clan Signature dan sebuah gerai money changer yang berada di lokasi sama. Garis kuning bertuliskan "Police Line" terpasang di pintu lantai dua, menandai dimulainya babak baru penyidikan tiga kasus dugaan korupsi besar yang mengaitkan tempat hiburan ini.
Penggeledahan dan penyegelan dilakukan setelah penyidik menemukan bukti yang cukup untuk melakukan status quo terhadap ruang kantor di lantai dua. Kombes Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, menegaskan bahwa langkah ini bagian dari rangkaian penyidikan yang tidak akan mengganggu operasional kafe secara keseluruhan.
“Tentang penyitaan ini terkait tentang dua ruangan. Untuk operasional tetap kami kembalikan kepada pihak manajemen untuk operasional di lantai 1. Tapi di lantai 2 itu berupa kantor, itu yang kami lakukan status quo dalam proses penyidikan dugaan korupsi,” ujar Budi Hermanto di lokasi.
Lantai Dua Dijadikan Status Quo
Berdasarkan keterangan polisi, lantai dua bangunan yang menaungi kafe de’Clan dan money changer difungsikan sebagai kantor. Ruangan inilah yang kini tidak bisa diakses oleh siapa pun tanpa izin penyidik. Sementara itu, lantai dasar yang menjadi area utama kafe tetap diizinkan beroperasi seperti biasa. Kombes Budi menjelaskan, keputusan ini diambil agar hak-hak manajemen tetap terjamin, sementara penyidikan bisa berjalan tanpa hambatan.
Penyegelan dua ruangan berbeda—yang satu di area kafe dan satu lagi di gerai penukaran uang—menunjukkan bahwa penyidik menduga adanya aliran dana atau transaksi mencurigakan yang melibatkan kedua tempat. “Semua akan kami dalami secara maraton,” kata seorang sumber di kepolisian yang enggan disebut namanya.
Keterkaitan dengan Kasus di Tiga BUMN
Polisi tidak menyebut nominal kerugian negara secara rinci, tetapi mengonfirmasi bahwa penyegelan ini merupakan buntut dari tiga berkas perkara besar: dugaan korupsi di PT PLN (Persero), PT ASABRI (Persero), dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Ketiga kasus tersebut diduga melibatkan pihak-pihak yang menggunakan fasilitas kafe de’Clan dan money changer sebagai tempat pertemuan serta pencucian uang.
Pengusutan kasus korupsi di tiga BUMN ini bukan perkara sederhana. PT ASABRI, misalnya, sempat terseret pusaran mega skandal investasi yang menyeret banyak pejabat. Begitu pun dengan PLN dan Krakatau Steel yang pernah menjadi sorotan dalam proyek-proyek infrastruktur bernilai triliunan rupiah. Penelusuran polisi mengarah pada kafe ini setelah menemukan sejumlah dokumen keuangan dan catatan transaksi yang mencurigakan pada awal Juli lalu.
Tiga Pegawai Diperiksa Sebagai Saksi
Sehari sebelum penyegelan, pada Selasa (7/7/2026), penyidik telah memanggil tiga pegawai de’Clan untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Mereka dimintai penjelasan tentang aktivitas di lantai dua serta transaksi money changer yang diduga berkaitan dengan aliran dana dari proyek BUMN. Proses pemeriksaan berlangsung hampir delapan jam dan dijadwalkan berlanjut dalam gelar perkara minggu ini.
“Mereka kooperatif. Kami mengapresiasi keterbukaan manajemen, tapi kami tetap akan mendalami setiap celah yang mungkin disembunyikan,” ujar salah seorang penyidik.
Manajemen kafe sendiri belum memberikan pernyataan resmi. Hanya saja, dari pantauan di lapangan, area parkir terpantau lengang dan pengunjung yang datang sebagian besar hanya menikmati kopi di lantai dasar tanpa menyadari ada penyegelan di atas mereka. Seorang pelanggan setia, yang enggan disebut namanya, mengaku kaget saat melihat garis polisi. “Saya pikir cuma razia biasa. Ternyata terkait korupsi besar. Agak ngeri juga, ya,” katanya.
Polisi memastikan akan terus mengumpulkan bukti dan tidak menutup kemungkinan menetapkan tersangka baru, termasuk dari kalangan manajemen. Penggeledahan lanjutan diharapkan bisa mengungkap jejak transaksi yang lebih runut dan menghubungkan titik-titik gelap di tiga BUMN itu.
Comments (0)