BEKASI — Menteri Wihaji Kunjungi Sekolah Lansia Perkuat Program Keluarga Produktif
Lapangan sederhana di balai warga Kelurahan Jatirangga, Bekasi, pagi itu berubah menjadi ruang kelas berhiaskan anyaman janur dan tawa renyah puluhan perem
Lapangan sederhana di balai warga Kelurahan Jatirangga, Bekasi, pagi itu berubah menjadi ruang kelas berhiaskan anyaman janur dan tawa renyah puluhan perempuan dan laki-laki berusia senja. Bukan hajatan biasa, melainkan denyut rutin Sekolah Lansia “Seroja” yang hari itu kedatangan tamu istimewa. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Wihaji, duduk bersila di antara mereka, mendengarkan cerita, dan sesekali ikut tertawa lepas. Kunjungan ini menjadi titik terang bagi ribuan lansia di seluruh Indonesia yang mendambakan ruang belajar dan berkarya di masa tua.
Sekolah Lansia: Jawaban Atas Bonus Demografi Kedua
Di tengah tren penuaan penduduk Indonesia—Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah lansia mencapai 33,7 juta jiwa atau 11,75 persen dari populasi pada 2024—Sekolah Lansia hadir sebagai intervensi nonformal yang mengusung tujuh dimensi: spiritual, fisik, emosional, intelektual, sosial, vokasional, dan lingkungan. Model ini dikembangkan Kemendukbangga agar kelompok lanjut usia tidak sekadar menunggu, melainkan menyala dengan kegiatan produktif dan membahagiakan.
“Kita tidak ingin lansia dipandang sebagai beban. Justru mereka adalah aset peradaban. Sekolah Lansia mengajarkan mereka tetap sehat, mandiri, dan kembali ke keluarga sebagai sumber kebijaksanaan,” ujar Wihaji seusai meninjau sesi keterampilan membuat jamu dan literasi digital dasar bagi kakek-nenek peserta.
Di Bekasi, Sekolah Lansia Seroja telah beroperasi sejak 2022 dan kini membina 82 peserta berusia 60–78 tahun. Setiap pekan, mereka mengikuti minimal dua sesi: kelas kesehatan preventif, pelatihan UMKM rumahan, hingga pendampingan spiritual. Data internal kelompok menunjukkan, tingkat kebahagiaan peserta naik dari 58 persen menjadi 84 persen dalam dua tahun pertama, diukur melalui skrining geriatri sederhana.
“Saya Kini Bisa Baca Tensi dan Jualan Kripik”
Sutinah (67), peserta yang kerap dipanggil Mbah Tin, mengisahkan perubahannya di hadapan Menteri. Suaranya bergetar, tapi matanya berbinar. Ia bercerita dahulu ia hanya mengurung diri di rumah seusai ditinggal suami. Kini ia menjadi kader posyandu lansia dan memiliki penghasilan dari kripik singkong yang ia produksi bersama rekan sekelas.
“Saya baru bisa baca tensi umur 65 tahun. Rasanya malu dulu, tapi sekarang malah dipanggil Bu Mantri, hehe. Kripik saya juga laku sampai ke RW sebelah,” tutur Sutinah diiringi tepuk tangan peserta lain.
Wihaji mendengarkan dengan saksama lalu menyematkan sertifikat keterampilan kepada 10 lansia yang telah menyelesaikan paket dasar kewirausahaan. Sertifikat itu, meski sederhana, dipegang erat oleh para penerima—simbol bahwa usia lanjut tak pernah membatasi semangat belajar.
Memperluas Jangkauan: Target 1.000 Sekolah di 2026
Dalam kesempatan tersebut, Wihaji mengumumkan bahwa Kemendukbangga akan mengintegrasikan Sekolah Lansia ke dalam program prioritas Kampung Keluarga Berkualitas. Saat ini terdapat 476 Sekolah Lansia yang tersebar di 24 provinsi. Pemerintah menargetkan minimal 1.000 titik aktif pada akhir 2026, dengan alokasi dana stimulan masing-masing Rp50 juta per sekolah, ditambah pelatihan bagi fasilitator dari kader BKKBN dan PKK setempat.
“Anggaran Rp50 miliar sudah dialokasikan untuk perluasan tahun depan. Kami ingin lansia menjadi subjek perubahan, bukan objek bantuan sosial,” tegas Wihaji. Data Demensia Indonesia Research (DIRA) 2023 menyebut, kegiatan kelompok terstruktur seperti Sekolah Lansia mampu menurunkan risiko gangguan kognitif hingga 28 persen—efek yang jauh lebih besar dibandingkan intervensi individu.
Kunjungan ditutup dengan senam otak bersama dan ramah tamah. Sebelum meninggalkan lokasi, Menteri berjanji akan memantau langsung perkembangan Sekolah Lansia Seroja melalui video call bulanan. Peserta pun melambaikan tangan, sebagian berurai air mata haru. Pagi itu, Bekasi mencatat kisah tentang masa tua yang berdaya, berguna, dan tetap cemerlang.
Comments (0)