Oct 15, 2026
Politik

Bayi 28 Hari Meninggal usai Diduga Diberi Telur Mentah

Seorang bayi perempuan berusia 28 hari yang diidentifikasi bernama Alena dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (11/10) di RSUD dr Soetomo Surabaya setelah menjalani perawatan intensif. Bayi tersebut ...

Bayi 28 Hari Meninggal usai Diduga Diberi Telur Mentah

Seorang bayi perempuan berusia 28 hari yang diidentifikasi bernama Alena dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (11/10) di RSUD dr Soetomo Surabaya setelah menjalani perawatan intensif. Bayi tersebut sebelumnya sempat diberi telur mentah oleh neneknya dengan maksud menurunkan demam. Peristiwa ini menjadi perhatian publik setelah menyebar luas di media sosial, dan kini ditelusuri secara resmi oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo. Hingga saat ini, penyebab kematian bayi belum dapat dipastikan secara medis.

Kabar duka tersebut pertama kali beredar melalui sebuah unggahan di platform Threads oleh akun @calisthaarisha yang mengaku sebagai bibi dari Alena. Dalam unggahan itu disebutkan bahwa kondisi Alena memburuk hingga kritis setelah menerima pemberian telur mentah dari neneknya sendiri, dengan alasan untuk menurunkan demam yang dialami bayi.

Kepala Bagian Umum RSUD dr Soetomo, Robeth Jabbar, membenarkan meninggalnya bayi berusia 28 hari tersebut. Menurut keterangannya, Alena dinyatakan meninggal sekitar pukul 07.10 WIB.

"Pasien tersebut memang benar sempat dirawat di RSDS dan tim medis telah memberikan upaya penanganan maksimal sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien," ujar Robeth.

Dinkes Sidoarjo Telusuri Kronologi

Kepala Dinkes Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina, menyatakan bahwa laporan mengenai kasus ini baru diterima pihaknya pada Senin (12/10). Berdasarkan penelusuran awal, bayi tersebut sempat memperoleh penanganan di salah satu rumah sakit di Sidoarjo sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD dr Soetomo karena kondisinya terus memburuk.

Meski demikian, Dinkes Sidoarjo belum dapat mengungkapkan hasil koordinasi dengan Dinkes Kota Surabaya maupun pihak RSUD dr Soetomo. Lakhsmie menegaskan bahwa seluruh proses investigasi masih berjalan.

"Semua jawaban belum ada. Masih proses telusur," tegas Lakhsmie.

Penelusuran yang dilakukan otoritas kesehatan mencakup riwayat penanganan medis, kronologi pemberian makanan pada bayi, serta kemungkinan faktor lain yang berkontribusi terhadap memburuknya kondisi Alena. Dinkes menekankan bahwa kesimpulan akhir hanya dapat diambil setelah seluruh data terverifikasi secara medis.

Risiko Kesehatan Telur Mentah pada Bayi

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa konsumsi telur mentah atau setengah matang berisiko mengandung bakteri Salmonella. Bakteri tersebut dapat memicu salmonellosis dengan gejala berupa diare, demam, muntah, dan dehidrasi, bahkan berpotensi menimbulkan komplikasi serius pada kondisi tertentu. Gejala umumnya muncul sekitar 12 hingga 72 jam setelah makanan terkontaminasi dikonsumsi. IDAI menyarankan agar telur dimasak hingga bagian putih dan kuningnya mengeras sebelum diberikan kepada anak.

Dokter spesialis anak dr Rendy Yoga Ardian mengingatkan hal serupa. Ia menyatakan bahwa pemberian telur mentah kepada bayi dapat menimbulkan gangguan pencernaan.

"Kalau untuk telur mentah, bisa jadi mengandung Salmonella. Jadi anak bisa gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, diare," kata Rendy saat dihubungi, Senin (12/10).

Menurut Rendy, bayi yang baru lahir belum siap menerima makanan pendamping dan sistem pencernaannya masih sangat rentan terhadap kontaminasi bakteri. Pemberian makanan yang tidak sesuai standar gizi dan keamanan pangan berpotensi memperburuk kondisi kesehatan bayi, terutama jika sedang mengalami demam atau penyakit lain.

Praktik Pemberian Makanan Perlu Diperhatikan

Kasus ini menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat mengenai standar pemberian makanan pada bayi, khususnya bayi berusia di bawah satu bulan yang sepenuhnya bergantung pada air susu ibu. Praktik pemberian bahan makanan tertentu dengan alasan pengobatan tradisional tanpa konsultasi medis dinilai berisiko menimbulkan dampak serius.

Otoritas kesehatan mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan makanan atau minuman selain air susu ibu kepada bayi baru lahir tanpa rekomendasi tenaga medis. Penanganan demam pada bayi juga disarankan dilakukan melalui pemeriksaan dokter, bukan melalui metode yang belum teruji secara klinis.

Hingga berita ini diturunkan, proses penelusuran oleh Dinkes Sidoarjo bersama instansi terkait masih berlangsung. Pihak keluarga belum memberikan keterangan resmi, sementara publik menantikan hasil investigasi medis untuk memastikan penyebab pasti kematian Alena.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User