Anggota Kongres AS Ro Khanna Tuding IDF Berbohong Soal Penahanan

WASHINGTON — Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel kembali mencuat setelah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat, Ro Khanna, secara terbuka menuding militer Israel ...

Jul 13, 2026 - 11:03
0 0

WASHINGTON — Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel kembali mencuat setelah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat, Ro Khanna, secara terbuka menuding militer Israel (IDF) menyampaikan keterangan palsu terkait insiden penahanan dirinya di Tepi Barat. Insiden yang terjadi pada awal pekan ini melibatkan sejumlah pemukim bersenjata dan personel IDF yang menghentikan serta menahan politisi Partai Demokrat itu di dekat pemukiman ilegal di utara Ramallah.

Khanna, yang mewakili distrik kongres ke-17 California, tengah melakukan kunjungan kerja ke wilayah Palestina bersama delegasi kecil anggota parlemen AS. Dalam keterangan pers yang ia sampaikan dari Capitol Hill pada Kamis (06/03/2026) waktu setempat, Khanna menyatakan bahwa kronologi versi resmi militer Israel yang beredar di media tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Ia menegaskan bahwa pasukan IDF tidak melakukan intervensi untuk melindungi keselamatannya, melainkan justru membiarkan dirinya diinterogasi secara tidak sah oleh kelompok pemukim selama lebih dari 45 menit sebelum akhirnya tentara Israel tiba di lokasi.

Kronologi Insiden di Tepi Barat

Menurut penuturan Khanna dan dua staf yang mendampinginya, rombongan mereka dihentikan secara paksa di sebuah pos pemeriksaan tidak resmi yang dijaga oleh sekitar delapan pemukim bersenjata api laras panjang. Para pemukim itu, yang mengaku sebagai petugas keamanan kawasan, meminta dokumen identitas dan memerintahkan seluruh anggota delegasi keluar dari kendaraan. Khanna menyebut bahwa saat itu ia belum melihat kehadiran aparat militer Israel di sekitar lokasi.

“Mereka menodongkan senjata ke arah kendaraan kami, memerintahkan kami turun, dan langsung meminta paspor serta dokumen misi kunjungan. Tidak ada satu pun tentara Israel yang mencoba menghentikan mereka. Saya menunggu lebih dari setengah jam sebelum unit IDF muncul, dan ketika mereka datang, para tentara itu justru melanjutkan pemeriksaan alih-alih memastikan kami segera dibebaskan,” ungkap Khanna melalui konferensi video yang dihadiri sejumlah pewarta Gedung Putih.

Insiden ini memicu kemarahan di kalangan anggota parlemen AS dari kedua partai. Komisi Urusan Luar Negeri DPR AS berencana memanggil penjabat Duta Besar Israel untuk meminta klarifikasi mengenai peristiwa tersebut. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri AS telah mengirimkan nota diplomatik resmi kepada pemerintah Israel meminta investigasi menyeluruh.

Tudingan Kebohongan Militer

Pernyataan resmi IDF yang dirilis melalui juru bicara militer menyebutkan bahwa tentara Israel “segera merespons laporan aktivitas mencurigakan” dan “mendampingi serta menjamin keselamatan delegasi AS” selama interaksi dengan “warga sipil setempat.” Namun, Khanna dengan tegas membantah narasi tersebut dan menyebutnya sebagai upaya menutupi kelalaian serius.

“Ini bukan sekadar salah komunikasi. Ini adalah upaya sistematis untuk memutarbalikkan fakta. Saya sudah menyampaikan bukti rekaman video dan laporan kronologis kepada Departemen Luar Negeri. Militer Israel berbohong, dan publik Israel serta Amerika berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” tegas Khanna, yang dikenal sebagai salah satu kritikus perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat.

Khanna juga menyoroti bahwa selama insiden berlangsung, sebuah ambulans yang membawa warga Palestina yang sakit dicegat di pos pemeriksaan yang sama dan tidak diizinkan melintas hingga delegasi AS dilepaskan. “Itu adalah bukti brutalnya sistem apartheid yang beroperasi di sana. Nyawa warga Palestina dianggap tidak bernilai,” tambahnya.

Respons Militer Israel dan Pemerintahan Netanyahu

Pihak IDF belum memberikan tanggapan langsung atas tuduhan spesifik yang dilontarkan Khanna. Namun, seorang sumber senior di Kementerian Pertahanan Israel yang berbicara tanpa menyebut nama mengatakan bahwa militer Israel “tengah mengkaji ulang kronologi internal” dan akan “berkoordinasi penuh dengan otoritas AS.”

Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri AS di Yerusalem menyatakan bahwa dirinya “menyesalkan insiden tersebut” namun meminta agar masalah ini “tidak dipolitisasi secara berlebihan.” Netanyahu menambahkan bahwa “Tepi Barat adalah arena konflik yang kompleks dan aparat keamanan Israel bekerja di bawah tekanan yang sangat tinggi.”

Koalisi organisasi hak asasi manusia Israel, termasuk B’Tselem dan Yesh Din, mengeluarkan pernyataan bersama yang mendukung akun Khanna dan mencatat bahwa insiden serupa telah terjadi berulang kali terhadap aktivis internasional dan warga Palestina tanpa akuntabilitas yang berarti. Mereka menuntut penyelidikan independen yang melibatkan badan internasional.

Implikasi Terhadap Hubungan Bilateral

Penahanan seorang anggota kongres yang sah oleh aktor non-negara di bawah pengawasan ideologis militer Israel berpotensi mengguncang dinamika hubungan AS-Israel yang sudah berada di bawah tekanan akibat perbedaan tajam soal kebijakan permukiman dan proses perdamaian. Sejumlah senator senior dari Partai Demokrat, termasuk Bernie Sanders dan Elizabeth Warren, telah mengeluarkan pernyataan solidaritas dan menekankan perlunya pertanggungjawaban penuh.

“Jika seorang anggota kongres Amerika bisa diperlakukan seperti ini, apa yang bisa diharapkan oleh warga Palestina biasa? Ini adalah ujian bagi komitmen Israel terhadap hak asasi manusia dan supremasi hukum,” ujar Sanders dalam sebuah utas di media sosialnya.

Di sisi lain, anggota parlemen dari Partai Republik cenderung lebih berhati-hati, dengan menyatakan bahwa mereka menunggu hasil investigasi penuh sebelum mengambil langkah lebih jauh. Namun, Ketua DPR AS Mike Johnson mengakui bahwa “kekerasan pemukim harus dihentikan” dan bahwa “sekutu harus dapat menyelesaikan masalah ini secara bilateral.”

Ro Khanna sendiri dijadwalkan untuk memberikan kesaksian penuh di depan Komisi Urusan Luar Negeri DPR pada pekan depan. Sementara itu, rekaman video yang ia sebut sebagai barang bukti tengah diverifikasi oleh tim forensik digital Biro Keamanan Diplomatik AS. Publik internasional kini menanti langkah konkret dari Washington dalam menyikapi insiden yang kian memperuncing perdebatan mengenai pendudukan dan pelanggaran hak di wilayah pendudukan Tepi Barat.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User