Adaptasi Moana Dihujani Kritik Pedas, Disebut Mirip Buatan AI

Adaptasi live-action Moana (2026) yang diproduksi oleh Walt Disney Studios menerima sambutan yang sangat mengecewakan dari para kritikus film. Berdasarkan agregasi penilaian di platform Rotten Tomatoe...

Jul 13, 2026 - 14:48
0 0

Adaptasi live-action Moana (2026) yang diproduksi oleh Walt Disney Studios menerima sambutan yang sangat mengecewakan dari para kritikus film. Berdasarkan agregasi penilaian di platform Rotten Tomatoes, film yang disutradarai oleh Thomas Kail ini hanya mampu mengantongi skor segar sebesar 36% pada akhir pekan pembukaannya. Angka ini menempatkan film tersebut sebagai salah satu adaptasi ulang live-action Disney dengan penerimaan terburuk dalam satu dekade terakhir, menyalip kegagalan serupa yang dialami oleh "Mulan" (2020). Sorotan utama kritik terfokus pada eksekusi visual yang dinilai tidak natural serta penyimpangan naratif yang drastis dari film animasi aslinya.

Mayoritas ulasan menyoroti bagaimana visual efek komputer (CGI) dalam film ini justru menghilangkan ekspresi emosi para karakter, membuat interaksi antarpemain terasa kaku dan artifisial. Catherine Bray, kritikus dari Empire Magazine, menyebut dalam ulasannya bahwa "film ini lebih menyerupai sebuah demonstrasi teknologi deep-learning yang belum matang ketimbang sebuah karya sinematik yang digerakkan oleh hati." Pernyataan tersebut diperkuat oleh komentar pedas dari Alissa Wilkinson, penulis di The New York Times, yang menilai bahwa "kemilau pucat dari pencahayaan digital telah menggerogoti kehangatan yang seharusnya menjadi inti dari petualangan Moana."

Kritik terhadap Eksekusi Visual dan Narasi

Kekecewaan terbesar tertuju pada keputusan Disney yang mengubah secara fundamental struktur penceritaan. Alih-alih menghadirkan narasi petualangan remaja yang memberdayakan, naskah yang ditulis oleh Jared Bush dan Dana Ledoux Miller justru dinilai terlalu sibuk membangun semesta yang kompleks dan kehilangan fokus pada perjalanan emosional karakter utama. Kritikus senior David Ehrlich dari IndieWire secara eksplisit menulis, "Ini adalah adaptasi yang dibangun di atas fondasi algoritma; ia tahu apa yang diinginkan oleh fokus grup, tetapi ia lupa bagaimana cara membuat penonton peduli."

Dari sisi teknis, penampilan Catherine Laga'aia sebagai Moana memang mendapatkan pujian moderat berkat kemampuan vokalnya. Namun, interaksinya dengan karakter Maui yang diperankan oleh Dwayne "The Rock" Johnson kehilangan dinamika komedi yang menjadi roh dari kisah ini. Teknologi de-aging dan penangkapan gerak yang diterapkan pada karakter Maui justru menghasilkan efek uncanny valley yang mendalam, memperkuat tuduhan bahwa visual film ini terasa seperti konten generatif yang dirakit secara instan. Bahkan, figur semi-dewa ikonik tersebut dalam beberapa adegan aksi tampak mengambang secara tidak wajar di atas latar air digital yang kaku.

Perbandingan Kontras dengan Animasi 2016

Kekecewaan publik berlipat ganda karena film animasi Moana (2016) merupakan salah satu mahakarya era kebangkitan Disney yang memukau secara visual dan musik. Film aslinya meraih skor 95% dari kritikus di Rotten Tomatoes, meraup pendapatan global lebih dari 643 juta dolar AS, serta dinominasikan untuk dua Academy Awards. Musik karya Lin-Manuel Miranda, Opetaia Foa'i, dan Mark Mancina dalam versi animasi menciptakan fenomena budaya global yang masih sulit ditandingi. Sebaliknya, meski versi 2026 menyertakan aransemen orkestra baru dan beberapa lagu tambahan, kritikus menilai elemen musikalnya tidak mampu membangkitkan rasa inspirasif yang sama, dengan menyebutnya sebagai "pemolesan ulang yang melelahkan."

Perbandingan juga menyasar representasi budaya Polinesia. Jika film 2016 mendapat pujian luas karena membentuk Oceanic Trust yang melibatkan para antropolog, ahli sejarah, dan praktisi budaya asli, versi live-action justru dikritik oleh beberapa tokoh komunitas Pasifik karena dianggap mendangkalkan mitologi yang telah dihormati sebelumnya. Dr. Dionne Fonoti, antropolog budaya dari Universitas Nasional Samoa, menyatakan bahwa "desain gugusan pulau dan visual perahunya terlihat megah, tetapi kehilangan konteks sakral dari hubungan antara manusia dan lautan yang menjadi inti dari narasi Polinesia."

Dampak pada Strategi Adaptasi Disney

Kegagalan kritis ini memberikan sinyal bahaya bagi strategi jangka panjang Disney yang sangat bergantung pada perbankan ulang kekayaan intelektual animasi klasiknya. Setelah sukses finansial dari "The Lion King" (2019) yang juga dikritik karena kurangnya ekspresi emosi, dan respon hangat untuk "The Little Mermaid" (2023), hasil awal dari "Moana" menunjukkan bahwa penonton mulai jenuh dengan formula terjemahan langsung yang hanya mengandalkan kemajuan teknologi CGI. Analis industri memperkirakan bahwa performa ini dapat mempengaruhi rencana produksi adaptasi ulang judul-judul besar lainnya yang sedang dalam pra-produksi.

Pihak Walt Disney Studios sendiri melalui pernyataan resmi menyampaikan apresiasi terhadap masukan yang ada. "Kami menghormati perspektif para kritikus dan selalu mendengarkan suara penggemar," ujar Sean Bailey, Presiden Produksi Walt Disney Studios Motion Picture Production, dalam siaran pers terbatas. "Karya ini dibuat dengan cinta yang mendalam terhadap orisinalitasnya dan terhadap budaya Kepulauan Pasifik, dan kami bangga telah membawa kisah ini ke format sinematik yang baru." Meski demikian, pernyataan tersebut belum mampu meredakan gelombang kekecewaan di media sosial.

Respons Publik dan Masa Depan Moana

Skor audiens yang saat ini tercatat di angka 59% di Rotten Tomatoes, meskipun lebih tinggi dari skor kritikus, tetap menunjukkan polarisasi yang kuat. Tagar #NotMyMoana sempat menggema di platform X dan TikTok, dengan unggahan yang membandingkan cuplikan ekspresi datar para aktor dengan cuplikan penuh warna dari animasi asli. Meski begitu, secara komersial, film ini diprediksi akan tetap meraup pendapatan yang besar berkat kekuatan merek global, meski kemungkinan akan mengalami penurunan penonton yang signifikan di minggu kedua penayangan.

Ke depan, nasib sekuel yang sebelumnya telah diumumkan untuk film animasi "Moana 3" dan potensi pengembangan semesta live-action tengah menjadi tanda tanya besar. Industri kini menunggu apakah Disney akan melakukan koreksi fundamental terhadap pendekatan live-action mereka atau terus mendorong model mesin produksi yang terbukti luntur secara artistik. Yang pasti, perjalanan Moana di lautan sinematik 2026 telah dimulai dengan gelombang badai metaforis yang jauh lebih ganas dari yang dihadapi karakternya di atas layar lebar.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User