Tiga Operasi Militer AS Lumpuhkan Aset Strategis Iran dalam Sepekan
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi pelaksanaan tiga gelombang serangan terpisah terhadap sejumlah instalasi militer dan aset strategis Iran dalam kurun waktu satu pekan tera...
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi pelaksanaan tiga gelombang serangan terpisah terhadap sejumlah instalasi militer dan aset strategis Iran dalam kurun waktu satu pekan terakhir. Operasi militer tersebut merupakan respons langsung atas eskalasi ketegangan di sekitar perairan Selat Hormuz yang dinilai mengancam kebebasan navigasi dan stabilitas kawasan.
Juru Bicara CENTCOM, Mayor Jenderal William H. Davidson, dalam konferensi pers di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar, pada Selasa (9/9/2025) waktu setempat, menyatakan bahwa ketiga operasi tersebut dilaksanakan secara terencana dan terkoordinasi dengan melibatkan aset udara, laut, serta dukungan intelijen gabungan.
"Operasi ini bukan tindakan ofensif tanpa pemicu. Setiap gelombang serangan diarahkan pada infrastruktur yang secara langsung berkontribusi terhadap provokasi berulang di Selat Hormuz. Kami bertindak berdasarkan mandat perlindungan aset nasional dan komitmen keamanan maritim internasional,"
tegas Davidson.
Gelombang Pertama: Lumpuhkan Sistem Radar dan Komando
Gelombang pertama operasi militer diluncurkan pada Senin (1/9/2025) dini hari waktu setempat. Serangan ini menyasar tiga titik koordinasi pertahanan udara dan sistem radar militer Iran di wilayah pesisir Provinsi Hormozgan. Kapal perusak kelas Arleigh Burke, USS Jason Dunham (DDG-109), menembakkan sedikitnya 14 rudal jelajah Tomahawk yang menghantam Pusat Komando Pertahanan Wilayah ke-4 di Bandar Abbas dan instalasi radar jarak jauh Ghadir di Pulau Qeshm.
Data satelit dan evaluasi kerusakan awal CENTCOM menunjukkan bahwa tiga fasilitas komando dan dua stasiun radar dinonaktifkan total. Mayor Jenderal Davidson menambahkan bahwa gelombang ini bertujuan mengisolasi kemampuan Iran dalam mendeteksi dan merespons pergerakan kapal induk di perairan Teluk Persia dan Laut Arab. Kerusakan ini mengurangi kemampuan deteksi dini Iran secara signifikan.
Gelombang Kedua: Targetkan Pangkalan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi
Gelombang kedua dilancarkan pada Rabu (3/9/2025) dan diarahkan ke Pangkalan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC-N) di Jask, yang terletak di tepi Laut Oman. Pangkalan ini diketahui menjadi pangkalan operasi utama kapal-kapal serang cepat yang kerap melakukan manuver mengganggu lalu lintas tanker minyak di Selat Hormuz.
Dalam operasi ini, pesawat-pesawat tempur F/A-18 Super Hornet yang diterbangkan dari kapal induk USS Dwight D. Eisenhower (CVN-69) menjatuhkan bom berpemandu presisi JDAM dan AGM-154 JSOW. Sumber internal CENTCOM yang enggan disebutkan namanya memastikan bahwa serangan tersebut menghancurkan delapan kapal serang cepat kelas Peykaap dan Zolfaghar serta melumpuhkan dermaga logistik utama pangkalan.
"Pangkalan di Jask telah menjadi episentrum operasi asimetris IRGC-N yang mengancam jalur pelayaran internasional,"
ujar sumber tersebut.
Gelombang Ketiga: Lumpuhkan Pusat Produksi Drone dan Rudal Pesisir
Gelombang ketiga dan terakhir dilaksanakan pada Sabtu (6/9/2025) sebagai tindakan menindaklanjuti temuan intelijen terbaru. Serangan membidik kompleks industri militer bawah tanah di dekat Kota Sirjan, Provinsi Kerman, yang dipastikan memproduksi drone serang dan rudal anti-kapal pesisir.
Kompleks ini terletak di kedalaman 70 meter di bawah permukaan tanah dan dilindungi sistem pertahanan udara berbukit. Untuk menembusnya, Angkatan Udara AS mengerahkan dua pesawat pengebom siluman B-2 Spirit yang terbang langsung dari Pangkalan Whiteman, Missouri. Mereka menjatuhkan bom penembus bunker GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP), yang mampu menghancurkan struktur bawah tanah yang diperkuat. Citra pasca-serangan menunjukkan kehancuran total pada area seluas 2,4 kilometer persegi, menewaskan sedikitnya 18 personel teknis dan insinyur senior yang berada di dalam kompleks pada saat serangan, menurut estimasi awal CENTCOM.
Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Charles Q. Brown Jr., dalam rapat dengar pendapat tertutup dengan Komite Angkatan Bersenjata Senat, menyebut operasi gabungan ini merupakan penegasan atas doktrin pencegahan aktif Amerika Serikat.
"Kami tidak mencari perang terbuka dengan Teheran, tetapi kami tidak akan membiarkan aset strategis yang memproyeksikan ancaman terhadap sekutu dan kepentingan kami tetap utuh setelah serangkaian provokasi yang membahayakan,"
papar Jenderal Brown.
Ketiga gelombang operasi yang dipayungi nama sandi Operasi Guardian Shield tersebut melibatkan total 1.200 personel, 22 pesawat tempur dan pengebom, serta 6 kapal perang permukaan. CENTCOM mengklaim tidak ada korban jiwa di pihak militer Amerika Serikat. Sementara itu, Misi Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York belum memberikan pernyataan resmi. Dewan Keamanan Nasional Iran, melalui Kantor Berita IRNA, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan "pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional" dan berjanji akan memberikan respons proporsional pada waktu yang ditentukan sendiri oleh Teheran.
Ketegangan di Selat Hormuz memanas pasca insiden pada 22 Agustus 2025, saat sebuah kapal pencegat cepat IRGC-N diduga melakukan perampasan sementara terhadap kapal tanker berbendera Panama, MT Pacific Voyager, yang sedang transit menuju Fujairah. Insiden ini memicu pengerahan Gugus Tugas Kapal Induk 12 ke perairan regional dan peningkatan status siaga CENTCOM ke level Charlie—satu tingkat di bawah status konflik terbuka. Dengan selesainya tiga gelombang operasi ini, CENTCOM menyatakan telah menurunkan postur ancaman dan mengembalikan status siaga ke level normal, namun tetap mempertahankan kehadiran aset tempur strategis di perairan sekitar Semenanjung Arab.
Baca juga:
Comments (0)