Film Slaughterground Karya Sidharta Tata Raih Tiga Penghargaan di NAFF BIFAN 2026
Bucheon, 11 Juli 2026 – Proyek film horor Indonesia Slaughterground (Hujan Kematian) berhasil menyabet tiga penghargaan industri sekaligus dalam gelaran Network of Asian Fantastic Films (NAFF) yang ...
Bucheon, 11 Juli 2026 – Proyek film horor Indonesia Slaughterground (Hujan Kematian) berhasil menyabet tiga penghargaan industri sekaligus dalam gelaran Network of Asian Fantastic Films (NAFF) yang merupakan bagian dari Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) 2026 di Bucheon, Korea Selatan. Pengumuman disampaikan dalam acara penutupan rangkaian NAFF Project Market yang berlangsung di Bucheon City Hall pada Jumat malam waktu setempat. Sutradara Sidharta Tata hadir langsung untuk menerima penghargaan tersebut bersama produser eksekutif dari rumah produksi Palari Films, Shanty Harmayn.
Ketiga penghargaan itu adalah NAFF Grand Prize for Genre Project, VIPO Special Award, dan Korean Film Council (KOFIC) International Co-production Development Grant. Total nilai dukungan yang diterima mencapai 35.000 dolar AS, yang akan digunakan untuk pengembangan skenario, pra-produksi, dan penjajakan mitra distribusi internasional. Kemenangan ini menempatkan Slaughterground sebagai proyek Indonesia pertama yang membawa pulang tiga trofi sekaligus dalam satu edisi NAFF sepanjang sejarah partisipasi sineas Tanah Air di ajang tersebut.
Proses Seleksi Ketat dari Ratusan Proyek
NAFF Project Market tahun ini menerima 312 proposal proyek dari 41 negara, namun hanya 28 proyek yang lolos seleksi untuk dipresentasikan di hadapan panel juri, investor, dan distributor internasional. Slaughterground masuk dalam kategori It Project, yaitu proyek film fitur yang sudah memiliki skenario matang, tim kreatif inti, dan sebagian kesepakatan pendanaan awal, namun masih memerlukan mitra strategis untuk tahap produksi dan distribusi global. Sidharta Tata mempresentasikan visi artistiknya secara langsung pada sesi one-on-one pitch pada 9 Juli 2026, dengan dukungan dari Badan Perfilman Indonesia dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Dewan juri NAFF 2026 yang diketuai oleh produser asal Jepang, Yasuhiko Higashi, menilai proyek ini memiliki narasi horor yang kuat, pendekatan visual yang segar, serta potensi pasar internasional yang tinggi. “Slaughterground bukan sekadar horor atmosferik; ia menawarkan lapisan sosial dan mitologi lokal yang orisinal. Kami melihat proyek ini siap untuk produksi dan layak mendapat dukungan penuh,” ujar Higashi dalam pernyataan resmi yang diterima Apaberita.
Tiga Penghargaan Bergengsi dan Implikasinya
Penghargaan NAFF Grand Prize merupakan penghargaan utama dari NAFF Project Market, diberikan kepada proyek dengan potensi artistik dan komersial tertinggi. Trofi ini sekaligus mengamankan jadwal pemutaran perdana dunia di BIFAN edisi mendatang. Sementara itu, VIPO Special Award dari Visual Industry Promotion Organization Jepang memberikan dana pengembangan sebesar 10.000 dolar AS serta akses ke jejaring studio anime dan pasca-produksi di Tokyo. Adapun KOFIC International Co-production Development Grant membuka jalan bagi kerja sama produksi antara Indonesia dan Korea Selatan, termasuk kemungkinan pelibatan kru dan aktor dari Negeri Ginseng.
Dengan capaian ini, Slaughterground diperkirakan akan memulai produksi pada kuartal keempat 2026 dengan target rilis pada paruh kedua 2027. Proyek ini mengisahkan sekelompok relawan bencana yang terisolasi di sebuah desa pascabanjir besar di Jawa Tengah, tempat mereka harus berhadapan dengan entitas gaib yang bangkit dari kubangan lumpur dan trauma sejarah kelam lokal. Naskah ditulis oleh Sidharta Tata bersama Evelyn Afnilia, yang sebelumnya sukses menggarap Perempuan Tanah Jahanam.
Respon Sutradara dan Harapan bagi Industri Horor Nasional
Sidharta Tata dalam kesempatan terpisah menegaskan bahwa penghargaan ini merupakan hasil kerja kolektif selama hampir dua tahun pengembangan. “Ini bukan sekadar kemenangan personal, melainkan kemenangan bagi sinema horor Indonesia yang sedang bertumbuh. Tiga penghargaan ini membuktikan bahwa cerita-cerita kami dapat bersaing di level global jika dikerjakan dengan serius dan didukung kebijakan yang tepat,” kata sutradara yang dikenal lewat Sebelum Iblis Menjemput tersebut.
Produser eksekutif Shanty Harmayn menambahkan, “Kami berterima kasih kepada Badan Perfilman Indonesia dan semua pihak yang memfasilitasi kehadiran kami di BIFAN. Ke depan, kami berharap pemerintah terus memperkuat skema pendanaan dan promosi film genre Indonesia ke pasar internasional, karena permintaan konten horor Asia saat ini sedang sangat tinggi.”
Kemenangan Slaughterground di BIFAN 2026 melengkapi sederet prestasi film horor Indonesia di kancah internasional sepanjang tahun ini, setelah sebelumnya Tumbal Ritual karya Ananda Galih meraih penghargaan di Sitges, Spanyol. Anggota Komisi X DPR RI, Rano Karno, dalam keterangannya menyambut baik tren ini dan menyatakan akan mendorong alokasi anggaran yang lebih besar untuk promosi dan distribusi film nasional di festival-festival internasional. “Industri perfilman adalah aset strategis diplomasi budaya. Kemenangan seperti ini harus dijadikan momentum untuk mengonsolidasikan ekosistem film kita,” tegas Rano Karno.
Rangkaian BIFAN 2026 sendiri berlangsung pada 3–13 Juli 2026 dengan menghadirkan lebih dari 250 film dari 50 negara. Sesi NAFF secara khusus menjadi ajang pertemuan bagi 500 lebih pelaku industri film genre dari Asia, Eropa, dan Amerika Utara.
Baca juga:
Comments (0)