Ancaman Bom Teror Upacara Bendera di SDN Srengseng Sawah, Ratusan Siswa Dievakuasi
Jakarta – Sebuah teror ancaman bom mengguncang kegiatan upacara bendera di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Srengseng Sawah 15 Pagi, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Senin pagi. Ancaman yang dis...
Jakarta – Sebuah teror ancaman bom mengguncang kegiatan upacara bendera di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Srengseng Sawah 15 Pagi, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Senin pagi. Ancaman yang disampaikan secara lisan tersebut memaksa pihak sekolah segera mengevakuasi seluruh peserta upacara dan mengambil langkah pengamanan darurat. Beruntung, setelah dilakukan penyisiran menyeluruh oleh aparat kepolisian, tidak ditemukan satu pun bahan peledak atau benda mencurigakan di area sekolah.
Kapolsek Jagakarsa, Kompol Andi Suwandi, mengonfirmasi peristiwa yang terjadi sekitar pukul 07.30 WIB tersebut. Menurutnya, ancaman bom diterima secara langsung oleh salah satu guru saat upacara berlangsung. "Ancaman tersebut disampaikan oleh seorang individu yang belum diketahui identitasnya kepada seorang guru yang sedang bertugas. Kami masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan motifnya," ujar Kompol Andi saat dihubungi, Senin (14/4/2025).
Kronologi Penerimaan Ancaman
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, insiden bermula ketika seluruh siswa, guru, dan staf sekolah tengah melaksanakan upacara pengibaran bendera Merah Putih di lapangan utama sekolah. Tiba-tiba, seorang guru menerima informasi ancaman bom dari seseorang yang diduga berada di sekitar lingkungan sekolah. Sumber ancaman tersebut menyebutkan bahwa sebuah bom telah diletakkan di dalam kompleks SDN Srengseng Sawah 15 Pagi.
Tanpa menunggu lama, pihak sekolah langsung mengambil keputusan tegas. Kepala SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Dra. Siti Mariam, memerintahkan seluruh siswa dan guru untuk segera meninggalkan area upacara menuju titik kumpul yang telah ditentukan. Proses evakuasi berlangsung dalam waktu kurang dari sepuluh menit, melibatkan lebih dari 400 siswa serta puluhan tenaga pendidik dan kependidikan.
"Kami langsung mengarahkan anak-anak keluar dari lapangan menuju halaman depan yang lebih aman. Sambil menunggu kedatangan polisi, kami memastikan tidak ada siswa yang terpisah dari rombongan. Semua guru melakukan pendataan di titik kumpul," tutur Siti Mariam saat ditemui di lokasi.
Respons Cepat Kepolisian
Setelah menerima laporan pada pukul 07.45 WIB, jajaran Polsek Jagakarsa bersama tim Gegana dari Satuan Brimob Polda Metro Jaya langsung meluncur ke lokasi. Proses sterilisasi dilakukan secara menyeluruh di seluruh ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, kantin, hingga halaman dan selasar sekolah.
Kapolsek Andi menjelaskan bahwa prosedur penanganan ancaman bom dijalankan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat. "Kami menerjunkan dua unit mobil taktis dan sepuluh personel Gegana yang dilengkapi alat pendeteksi serta anjing pelacak (K-9). Seluruh bangunan dan area luar diperiksa secara sistematis," jelasnya.
Setelah dilakukan penyisiran yang berlangsung selama hampir dua jam, tepat pada pukul 10.15 WIB, petugas menyatakan bahwa area sekolah steril dari ancaman bom. "Hasil nihil, tidak ditemukan keberadaan bahan peledak atau benda yang berpotensi membahayakan. Kami memastikan sekolah kembali aman untuk aktivitas belajar," tegas Kompol Andi.
Dampak Psikologis dan Penanganan Trauma
Meskipun secara fisik tidak ada korban, insiden ancaman bom ini meninggalkan dampak psikologis, terutama pada siswa kelas rendah. Beberapa anak terlihat menangis dan ketakutan selama proses evakuasi. Pihak sekolah segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Jakarta Selatan untuk menghadirkan tim konseling pada hari yang sama.
Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter Dinas Pendidikan Jakarta Selatan, Drs. Haryanto, M.Pd., menyatakan bahwa sebanyak lima orang psikolog diterjunkan untuk melakukan pendampingan trauma. "Kami fokus pada pemulihan rasa aman siswa. Kegiatan belajar mengajar untuk hari ini diliburkan, dan akan dilanjutkan besok setelah dilakukan sesi trauma healing tambahan," kata Haryanto.
Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melalui komisioner bidang pendidikan, Retno Listyarti, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden ini. "Ancaman bom di lingkungan sekolah merupakan bentuk teror yang sangat tidak bertanggung jawab. Sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak-anak. Kami mendorong kepolisian untuk segera menangkap pelaku dan memberikan efek jera," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Langkah Pengamanan Lanjutan
Pasca-kejadian, Polsek Jagakarsa meningkatkan patroli di sekitar kawasan sekolah. Sebanyak tiga pos keamanan sementara didirikan di titik-titik strategis, termasuk di depan SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, untuk memberikan rasa aman bagi warga sekolah dan masyarakat sekitar. Selain itu, polisi juga tengah memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di lingkungan sekolah guna mengidentifikasi pelaku penyebar ancaman.
Unit Jatanras Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan turut dilibatkan untuk melakukan profiling pelaku. Kapolsek Andi mengimbuhkan, "Kami telah mengantongi sejumlah indikasi awal dan sedang mengejar satu orang terduga yang ciri-cirinya telah dikantongi. Motif sementara mengarah pada upaya menciptakan keresahan." Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Pihak SDN Srengseng Sawah 15 Pagi sendiri menyatakan akan memperketat pengawasan di pintu masuk serta meningkatkan koordinasi dengan pihak keamanan setempat. "Kami akan memasang tambahan kamera CCTV dan memberlakukan sistem pengunjung yang lebih ketat untuk mencegah kejadian serupa terulang," pungkas Siti Mariam. Hingga berita ini diturunkan, proses belajar-mengajar dijadwalkan kembali normal pada Selasa (15/4/2025) dengan pengamanan maksimal.
Baca juga:
Comments (0)