Anak Korban Pengeroyokan di Bali Terima Donasi Rp190 Juta
Seorang anak yang kehilangan ayahnya dalam peristiwa pengeroyokan di Bali menerima bantuan donasi sebesar Rp190.375.000. Dana tersebut dihimpun dari solidaritas warga yang prihatin atas nasib anak dar...
Seorang anak yang kehilangan ayahnya dalam peristiwa pengeroyokan di Bali menerima bantuan donasi sebesar Rp190.375.000. Dana tersebut dihimpun dari solidaritas warga yang prihatin atas nasib anak dari KD, pria 42 tahun yang tewas setelah diduga mencuri ayam di wilayah Kabupaten Badung pada Minggu dini hari, 26 Juli 2026. Peristiwa tragis ini memantik gelombang kepedulian dari berbagai lapisan masyarakat, yang kemudian disalurkan melalui penggalangan dana resmi selama dua hari terakhir.
Kronologi Kejadian Nahas
Berdasarkan keterangan Kepolisian Sektor Mengwi, KD yang tercatat sebagai warga Dusun Celuk, Desa Mengwi, diduga mengambil seekor ayam milik tetangganya pada pukul 03.10 WITA. Pemilik ayam yang terbangun dari tidurnya mendengar suara mencurigakan di kandang belakang rumah, kemudian berteriak hingga membangunkan warga sekitar. KD berusaha melarikan diri, namun berhasil diamankan oleh sejumlah warga yang mengejarnya. Dalam situasi yang memanas, massa yang berjumlah sekitar dua puluh orang langsung menghakimi KD tanpa menyerahkannya kepada pihak berwajib.
Akibat pengeroyokan brutal tersebut, KD mengalami luka berat di bagian kepala, dada, dan kedua lengan. Ia sempat dilarikan ke Puskesmas Mengwi I pada pukul 04.00 WITA, namun nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 05.30 WITA. Kepolisian Resor Badung melalui Kasat Reskrim, AKP Wayan Suardana, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa delapan saksi. "Kami akan proses sesuai hukum yang berlaku. Masyarakat kami imbau untuk tidak mengambil tindakan sendiri karena justru melanggar hukum," ujarnya di Mapolres Badung, Senin (27/7).
Inisiatif Warga Kumpulkan Donasi
Kabar tewasnya KD meninggalkan seorang anak laki-laki berinisial GAP (7) yang kini menjadi yatim piatu menyentuh hati banyak pihak. Kelompok warga yang tergabung dalam komunitas sosial "Peduli Sesama" di Desa Mengwi segera menginisiasi penggalangan dana pada Minggu pagi. Respons publik di luar dugaan: hanya dalam kurun 48 jam, terkumpul donasi senilai Rp190.375.000 dari 1.247 donatur. Koordinator penggalangan dana, I Made Santika, menyatakan bahwa sumbangan datang dari warga lokal, diaspora Bali di berbagai kota, hingga donatur anonim yang menyalurkan melalui rekening khusus yang dibuka atas nama panitia.
"Kami sangat miris dengan peristiwa ini. Apapun dugaan kesalahan almarhum, anak yang ditinggalkan tidak berdosa. Dana ini akan kami gunakan sepenuhnya untuk biaya hidup, pendidikan, dan jaminan masa depan GAP. Setiap rupiah akan tercatat dan diaudit," ujar Made Santika saat ditemui di Mengwi, Senin sore.
Penyaluran dan Pengelolaan Dana
Dana donasi telah diserahkan secara simbolis kepada pihak keluarga yang diwakili oleh paman GAP, Ketut Artawan, pada Senin pukul 16.30 WITA di Balai Desa Mengwi. Untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas, dana disimpan dalam rekening bersama yang diawasi oleh Yayasan Bali Sejahtera, lembaga swadaya masyarakat yang memiliki rekam jejak dalam pengelolaan dana sosial. Aparat desa setempat turut dilibatkan sebagai pengawas. Kepala Desa Mengwi, I Nyoman Suarsana, menyampaikan apresiasinya. "Ini bukti bahwa masyarakat Bali memiliki kepedulian tinggi. Kami akan pastikan dana tepat sasaran dan tidak disalahgunakan," katanya.
Kondisi Anak Korban dan Dukungan Psikososial
GAP saat ini berada dalam pengasuhan bibinya di Desa Sading, Kecamatan Mengwi, setelah sebelumnya tinggal bersama ayahnya di rumah kontrakan sederhana. Pihak Puskesmas Mengwi I telah mengirimkan satu tim psikolog untuk memberikan pendampingan trauma pada anak tersebut. Menurut Ni Made Sari, psikolog yang ditugaskan, GAP masih menunjukkan gejala syok dan belum sepenuhnya memahami kepergian ayahnya. "Kami lakukan play therapy bertahap agar ia bisa mengekspresikan perasaannya," ujarnya. Sementara itu, Dinas Sosial Kabupaten Badung bergerak cepat dengan memasukkan GAP ke dalam Program Keluarga Harapan (PKH) dan memastikan hak pendidikannya tetap terjamin, termasuk bantuan perlengkapan sekolah dan beasiswa daerah.
Respons Aparat dan Upaya Pencegahan
Peristiwa pengeroyokan yang berujung kematian ini menambah panjang daftar kasus main hakim sendiri di Bali. Berdasarkan data Kepolisian Daerah Bali, sepanjang tahun 2025 tercatat 17 kasus pengeroyokan yang dipicu dugaan pencurian; empat di antaranya berakhir dengan hilangnya nyawa korban. Menindaklanjuti peristiwa di Mengwi, Polres Badung telah meningkatkan patroli di sejumlah titik rawan dan menggelar penyuluhan ke desa-desa untuk mencegah kejadian serupa. Kapolres Badung, AKBP I Made Sukawijaya, menegaskan bahwa satu terduga pelaku utama pengeroyokan telah diamankan, sementara lima orang lainnya masih dalam pengejaran. "Kami akan tindak tegas para pelaku sesuai ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang pengeroyokan yang mengakibatkan kematian. Masyarakat harus paham bahwa tindakan main hakim sendiri merupakan pelanggaran hukum," tegasnya.
Solidaritas warga yang tertuang dalam donasi Rp190,3 juta menjadi secercah harapan bagi kehidupan GAP ke depan. Namun, peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pahit bahwa jalan pintas berupa kekerasan hanya akan melahirkan korban baru dan melanggengkan siklus duka di masyarakat.
Comments (0)